Saturday, 28 June 2008

PENDIDIKAN ALAT PERLAWANAN


Judul Buku : Pendidikan Alat Perlawanan, Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire
Penulis : Siti Mutiningsih
Penerbit : Resist Book
Tahun : Oktober 2004
Tebal : xii + 128 halaman

Dalam buku ini dijabarkan secara jelas ide dan pemikiran Paulo Freire tentang pandangannya yang beraliran Progresivisme, yaitu suatu aliran dalam dunia pendidikan yang berasal dari kubu kritis progresif. Progresif pada prinsipnya menempatkan kebebasan sebagai motif utama dari pengembangan kebudayaan yang lebih mengedepankan pertumbuhan dan perkembangan pemikiran yang harus disertai sikap mental dalam memecahkan masalah maupun kepercayaan diri seorang peserta didik. Pengalaman dan lingkungan menjadi perhatian utama bagi peserta didik. Atau dengan kata lain manusia mengaktualisasikan ide-idenya di dunia nyata dalam bentuk pikiran dan perbuatan.
Selain progresif, aliran lain dalam pendidikan yang menjadi bagian dari buku kritis-progresif adalah aliran rekostruksionisme. Aliran itu memegang teguh prinsip-prinsip yang umum dan menjadi pedoman perilaku pada abad pertengahan, serta diyakini sebagai nilai yang kekal, tidak terikat ruang dan waktu. Aliran rekonstruksionisme dan progresif ini dalam memandang orientasi pendidikan lebih mengedepankan makna kemajuan dan perubahan sebagai orientasi dasarnya.
Freire juga menekankan aspek konsientisasi atau penyadaran. Penyadaran kepada peserta didik bahwa mereka bukan objek dari sistem pendidikan yang hanya pasif, melainkan sebagai subyek yang kritis dan kreatif dalam menciptakan terobosan di masyarakat.

Lawan kritis progresive adalah kubu tradisional konservatif. Kubu ini mempunyai dua aliran tentang pandangan pendidikan. Pertama, aliran esensialisme, yaitu suatu pandangan yang berpendapat bahwa pendidikan harus bertumpupada nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan sudahteruji oleh waktu. Kedua, aliran perenialisme, pandangan pendidikan yang harus mengembangkan perkembangan akal budi manusia semaksimal mungkin. Kedua paham sama-sama sepakat memandang keberadaan manusia sebagai makhluk budaya yang berparas sebagai penghayat, pelaksana dan pengembang kehidupan. Pandangan yang bercorak tradisional konservatif dalam kelanjutannya akan menajdi sebuah sistem pendidikan yang cenderung otoriter dan menghambat proses aktivitas be;ajar. Karena siswa dituntut jinak dan menuruti kata sang guru.
Sejarah kehidupan Paulo Freire serta pemikirannya secara gamblang juga diceritakan oleh penulis pada bab tersendiri. Dikisahkan latar belakang kehidupan tokoh radikal tersebut penuh dengan hirarki penindasan, karena semasa kecil berada pada struktur masyarakat yang belum sadar tentang lapar dan sekolah. Umur delapan tahun Paulo Freire pun mengalami kepedihan akibat kelaparan. Hingga suatu saat ia mempunyai tekad untuk mengabdikan hidupnya demi perjuangan melawan penderitaan kelaparan. Setelah dewasa dan melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Recife, Maritain, Bernanos dan Mounir. Ketertarikan pada bacaan teori-teori pendidikan dari karya mereka, sangat mempengaruhi filsafat pemikirannya, hingga pola dan gagasannya sampai saat ini menjadi terkenal di negara-negara dunia ke tiga.
Diantara banyak buku yang menceritakan kehidupan dan pemikiran Paulo Freire, kebanyakan dikisahkan panjang lebar dan meluas. Terkadang buah pemikirannya ditulis singkat dan perjalan hidup sejak kecil sampai tiada, diperbanyak. Meski begitu, tidak pada ”Pendidikan Alat Perlawanan”. Berdasar hasil penelitian yang menggabungkan semua unsur reveresnsi yang penulis temui, menjadi gaya buku tersebut lebih miring ke subyektifitas ide dan gagasan Paulo Freire dengan sedikit menarik alur profilnya.
Tidak sedikit buku-buku seperti ini yang laku dan terjual di pasaran. Dan pada umumnya konsumen lebih tertarik dengan buku berbentuk kisah.
Buku ini bila dibaca, penggunaan kata-katanya terkesan kurang universal jika pasarannya khalayak umum. Karena cukup banyak kata yang sulit diartikan atau maknanya ”melangit” serta berbau filsafat. Tidak heran karena buku ini semula adalah tesis san gpenulis saat mengambil gelar Master of Humaniora dan Pasca Sarjana Filsafat UGM. Lalu oleh pihak Resist dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jadilah sebuah buku. Karya Siti Mutingisih ini cukup sulit dipahami tulisannya oleh golongan non akademis. Seringnya kata konsentisasi yang diulang-ulang terkesan monoton serta terkesan hanya berputar-putar pada pokok bahasannya. Namun disisi lain, buku ini unik dan menarik. Menarik karena baru kali ini di indonesia terdapat sebuah buku yang memuatkhusus tentang pemikiran Freire secara lengkap yang ditulis oleh pribumi.
Dengan membaca buku ini, kita memperoleh gambaran bagaimana pembaharuan di bidang pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah karena sekian masalah melebur menjadi kristal yang sulit dipecahkan.
”Tidak ada jalan lain untuk keluar terhadao oersoalan oendidikan utamanya dalam hal proses belajar mengajar kecuali pembaharuan radikal sekaligus progresif”, (Paulo Freire).

Dunia Buku
Share:

Friday, 27 June 2008

kangean jadikan kabupaten

secara geografis dan kultural,masyarakat kangean dan sapeken berbeda dengan orang-orang madura pada umumnya.meskipun hal itu tidak menjadi alasan utamapemisahan kangean dari madura.disamping itu,sebenarnyabanyak faktor sebenarnya harus mendapat perteimbanganpemprof jatim.msayarakat di kepulauan kangean secara SDM dan SDA dipandang telah mampu untuk mengelola wilayah mereka sendiri.disamping itu,jika kangean dikelola oleh masyarakat kangean sendiri, dengan kata lain dijadikan sebagai kabupaten tersendiri,maka penyaluran PAD terhadap masyarakat itu akan lebih terfokusdan mengena pada saasaran.mengingat di Pagerungan besarmerupakan sumber PAD terbesar, maka jika hasil kekayaan alam itu disalurkan tepat sasaran maka kesejahteraan masyarakat yang didambakanoleh masyarakat kepulauan kangean akan segera terwujud

Arief
Share:

Sunday, 22 June 2008

ANALISIS STRUKTURALISME DAN KONFLIK POLITIK DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA” KARYA MUSTOFA W. HASYIM

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, sintesis dan mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. Sebagai kreasi, sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan mencptakan dunia baru meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya. Sastra bersifat otonom karena tidak mengacu pada suatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Sastra juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya sastra mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan (Luxemburg, dkk. Terj.. Hartoko, 1989 : 5 – 6).
Berbicara mengenai sastra tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai ilmu sastra. Ilmu sastra saat ini sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri dan mapan. Menurut Wellek dan Warren, ilmu sastra terbagi menjadi tiga bagian, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra bergerak di bidang teori, misalnya mengenai pengertian sastra, hakikat sastra, gaya sastra, dan lain-lain. Sejarah sastra bergerak di bidang sejarah perkembangan sastra. Kritik sastra bergerak di bidang penilaian baik buruknya karya sastra (Pradopo, 1997 : 9). Dalam karya ilmiah ini penulis lebih banyak berbicara dari persepektif cabang kritik sastra karena cabang itulah yang banyak memberikan gambaran hubungan sastra dan politik.


1.2 BATASAN MASALAH
Masalah yang diangkat dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini penulis memberikan batasan pada:
a. analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.3 TUJUAN PENGKAJIAN
Dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini terdapat dua tujuan pengkajian yaitu:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim adalah untuk memenuhi tugas matakuliah Apresiasi Prosa yang di bina oleh Ibu Yerry Mijiyanti, SS.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini adalah sebagai berikut :
a. mengetahui analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. mengetahui konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.4 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tujuan khusus di atas dapat dirumuskan beberapa masalah. Adapun rumusan masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. bagaimanakah analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. bagaimanakah konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.5 METODE PENGKAJIAN
Dalam mengkaji masalah yang diangkat dalam penulisan karya ilmiah ini memakai metode pustaka karena menggunakan pendekatan analitis, yaitu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun maknanya (Aminuddin, 1987 : 44)
BAB II
PENGARANG DAN KARYANYA

2.1 BIOGRAFI PENGARANG
Mustofa W. Hasyim, lahir di Yogyakarta 17 Nopember 1954. Masa kanak-kanak dan remaja dihabiskan di Kotagede. Pendidikan terakhir ditempuh di FIAD UMY Yogyakarta. Belajar menulis di Balai Pendidikan Wartawan Jakarta, serta di komunitas sastra dan teater di PSK (Persada Studi Klub), Kelompok Insan Harian Masa Kini Yogyakarta, Kelompok Poci Bulungan Jakarta, Teater Melati Kotagede, kemudian mengembangkan diri di berbagai komunitas di Yogyakarta, seprti Sanggar Sastra dan Teater (SST) Sila, Yayasan Budaya Masyarakat Indonesia (Yabumi), Yayasan Pondok Rakyat (YPR), Panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan Dewan Kebudayaan Kota (DKK) Yogyakarta.
Menjadi editor sejak tahun 1982, menjadi wartawan dan pimpinan redaksi di berbagai koran, majalah, dan jurnal sejak tahun 1979. ikut aktif melakukan pendampingan pengembangan kesenian dan kerajinan di pondok pesantren di komunitas tradisional Kotagede.

2.2 KARYA-KARYA PENGARANG
Karya-karyanya antara lain. Reportasi yang Menakutkan (Puisi), Ki Ageng Miskin (Puisi), Beragama Sekaligus Berhati Nurani (esai), Membela Tekstil Tradisional (Esai), Hari-hari Bercahaya (Novel), Hijrah (Novel), Mudik (Kumpulan cerpen bersama), Terompet Terbakar (Kumpulan cerpen bersama), Kopiyah dan Kun Fayakun (Kumpulan cerpen tunggal), Naskah sandiwara Radionya pernah disiarkan di Radio PTDI kota Perak.Selepas tahun 1980an sampai 2004 telah menulis novel Sepanjang Garis Mimpi, Pergulatan, Hari-hari Bercahaya, Kesaksian Bungan atau Hijrah, Arus Bersilangan, Kali Code, Pesan Api-api, Di Atara Seribu Masyitoh, Perempuan Yang Menolak Berdandan, dan Serat-serat Cinta.



BAB III
PEMBAHASAN


3.1 ANALISISN STRUKTURAL DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM
3.1.1 Judul
Salah satu unsur novel yang mudah dikenal adalah judul, karena judul merupakan lapisan paling luar suatu novel. Menurut Padmopuspito (1980 : 11 – 12) judul suatu novel mempunyai bermacam-macam pertalian, antara lain:
a. judul yang menunjukkan atau menyarankan tempat berlakunya cerita, dapat dikatakan semacam “setting”;
b. judul yang menyebutkan nama tokoh penting atau pelaku utama suatu novel. Nama yang dimaksud di sini tidak selamanya nama diri, ada kalanya gelar atau profesi tertentu;
c. judul berfungsi sebagai tumpuan cerita;
d. judul sebagai objek cerita;
e. judul merupakan tujuan suatu kejadian;
f. judul sebagai kembang atau simbol peristiwa yang terjadi di dalam novel.
Dari uranian di atas judul novel Burung Tak Benama Karya Mustofa W. Hasyim termasuk pertalian yang ke tujuh, yaitu judul sebagai kembang atau simbol peristiwa yang terjadi di dalam novel.
Burung tak bernama disini ,enunjukkan simbol pada tokoh utama yang jika dikaitkan dengan tema atau permasalahan novel ini, yaitu tokoh utama menginginkan suatu jbebasan layaknya se ekor burung, bebas dari nama-nama yang di sandang selama hidup di masa lalunya, menjadi intelijen, sehingga dia melarikan diri pada suatu daerah terpencil di pegunungan.
Usaha untuk menghilangkan nma diri memang berhasil selama dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari dalam sebulan. Tetapi, pada satu hari lelaki itu harus lengkap dengan nama yang pernah diberikan orang tuanya. Ia terpaksa, sebab kalau ia tidak mau menggunakan namanya, yang baginya selalu membuat malu dan penuh rasa berdosa, ia tidak bakalan dapat uang pensiunan sebagai jendra. (BBT ; 15)

Dari uraian di atas tokoh utama sudah memiliki niat dari semula untuk menghilangkan nama-nama ia emban menginginkan kebebasan seperti burung tak bernama.

3.1.2 Tema
Setiap karya sastra harus mempunyai dasar cerita atau tema yang merupakan persoalan utama dari sejumlah permasalah yang ada. Tema dapat menjalin rangkaian cerita secara keseluruhan. Penggambaran tokoh, latar maupun alur semuanya mengacu pada pokok pikiran yang sama. Sumarjo, dkk. (1991:56) menyatakan, tema adalah ide sebuah cerita pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita, tetapi mau mengatakan sesuatu pada pembaca. Sesuatu yang mau dikatakan itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau komentar terhadap kehidupan oleh idr pengarang tersebut.
Bagaimana cara menetukan tema dari karya sastra. Dari sebuah sastra mungkin banyak persoalan yang muncul, tapi tentulah tidak semua persoalan itu bisa dianggap sebagai tema. Untuk menentukan persoalan mana yang merupakan tema, pertama tentulah dilihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua secara kuantitiaf, persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik, konflik yang melakukan peristiwa. Cara yang ketiga ialahmenceritakan peristiwa-peristiwa ataupun tokoh-tokoh di dalam sebuah sastra ( Esten, 1982:92)
Menurut S Tasrif tema ada dua yaitu tema mayor yang mengacu pada tokoh utama sebagai pokok pikiran, dan tema minor sebagai bagian dari cerita yang mengacu pada tokoh bawaha.
Tema mayor dalam novel ini adalah usuha menghilangkan nama-nama yang digelar oleh seorang tokoh, nama-nama yang tidak perlu, nama yang semu, nama yang antara bunyi dan maknyanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya.
Tema minor tersirat dalam beberapa perilaku tokoh bawahan. ”suatu pemberontakan atau politik yang mengatasnamakan agama” tema minor ini mengacu pada masa lalu Ki Wono dan masyarakat kalangan pesatren di masa lalu.

Masalahnya, waktu itu ia tak sendirian dan tak mungkin mebeberkan data dari paman istrinya kemana-mana. Bkti-bukti pendukung data itu sangat minim sehingga tidak dapat doipergunakan untuk menindak mereka. Hanya saja bekas anggota Kelabang Merah itu hampir dipastikan tinggal atau bertugas di Jawa Timur, sendang anggota Gagak Hitam pernah tinggal atau bertugas di Jawa Tengah dengan pusatnya di sekitar gunung merbabu dan merapi menyebar ke utara, timur dan selatan.....(BTB:35)

Data di atas mengisahkan suatu kisah pokitik antara dua partai yang menguasai dan mengatasnamakan agama, sehingga di atas mengacu pada Ki Wono dan aggota-anggota partai.
Kerusakan alam karena ulah manusia dan ide-ide orang-orang kota, tema minor seperti ini juga terdapat dalam novel Burung Tak Bernama, seperti terlihat pada data berikut.
”Ya, sejak hadirnya lapangan golf itu air yang masuk ke dusun kita berkurang. Ketika di bawah sana perumahan banyak dibangun, air untuk kita menjadi tersendat. Nah sekarang berdiri pabrik air minum dalam kemasan. Semua menambah susah saja.” (BTB : 80)

Data di atas menunjukkan kerusakan alam seuatu pedesaan karena kebutuhan kota dan tangan-tqangan orang kota, sehingga yang dirugikan adalah orang-orang desa yang lebih dekat dengan alam.

3.1.3 Plot atau Alur
Plot atau alur adalah struktur rangkaia kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah inter-relasi fungsional yang sekaligus fiksi. Dengan demikian, alur ini merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita. Dalam pengertian ini alur merupakan rangkaian suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang merupakan rangkaian pola tindak tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat di dalamnya. Alur suatu cerita sangat erat hubungannya dengan unsur-unsur yang lain seperti perwatakan, setting, suasana lingkungan, begitu juga dengan waktu.
Berdasarkan hubungan antara tokoh-tokoh dalam cerita, yang biasanya ditentukan oleh jumlah tokoh, maka alur terbagi menjadi dua bagian seperti yang dikemukakan oleh Semi( : ), ” Alur yang bagian-bagiannya diikat dengan erat disebut alur erat, sedangkan diikat dengan longgar disebut alur longgar. Biasanya alur erat ditemui pada cerita yang memiliki jumlah pelaku menjadi lebih sering dan membentuk jaringan yang lebih rapat”, alur dapat dibagi atas dua bagian, yaitu alur maju dan alur sorot balik yaitu bercerita mundur (flas back) tidak berurutan, tidak kronologis.
Bila dilihat menurut urutan peristiwa novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim termasuk dalam alur sort balik (flas back) ialah rangkaian peristiwa dijalin tidak beruurtan, tidak kronologis. Dikaitkan dengan isi cerita yang di emban oleh tokoh utama di sini banyak menceritakan masa lalu dan kemudian kembali lagi ke masa sekarang, dan di saat tertentu kembali lagi ke masa lalu.

3.1.4 Penokohan atau Perwatakan
Biasanya di dalam suatu cerita fiksi terdapat tokoh cerita atau pelaku cerita. Tokoh cerita bisa satu atau lebih. Tokoh yang paling banyak peranannya di dalam suatu cerita disebut tokoh utama. Antara tokoh yang satu dengan yang lain ada keterkaitan. Tindakan tokoh cerita ini merupakan rangkaian peristiwa antra satu kesatuan waktu dengan waktu yan lain. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tokoh tentu ada penyebabnya dalam hal ini adalah tindakan-tindakan atau peristiwa sebelumnya. Jadi mengikuti atau menelusuri jalannya cerita sama halnya dengan mengikuti perkembangan tokoh melalui tindakan-tindakannya.
Robert Stato dalam Semi ( : ) menyatakan, yang dimaksud dengan perwatakan dalam suatufiksi biasanya dipandang dari dua segi. Pertama mengacu kepada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita, yang kedua adalah mengacu kepada perbauran dari minat, keingina, emosi, dan moral yang membetuk individu yang bermain dalam suatu cerita.
Jadi perwatakan mengacu kepada dua hal yatu tokoh itu sendiri dan bagaimana watak atau kepribadian yang dimiliki tokoh tersebut. Dalam suatu cerita fiksi, pengarang menggambarkan atau memperkenalkan bagaimana watak sang tokoh melalui dua cara yaitu dengan terus terang pengarang menyebutkan bagaimana sifat tokoh dalam cerita, misalnya keras kepala, tekun, sabar, tinggi hati atau yang lain, dan yang keuda yaitu pengarang menggambarkan.
Aminuddin ( (1987 : 80 – 81) menyatakan, dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusuri lewat (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pwlakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan maupun cara berpakaian, (3) menunjukkan bagaimana perilakunya, (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya, (8) melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain memberikat reaksi terhadapnya, dan (9) melihat bagaimana tokoh itu dalam memberikan reaksi tokoh yang lainnya.
Sesuai dengan pendapat Aminuddin di atas maka watak tokoh utama yaitu Ki Wono dapat diketahui dengan cara melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain memberikan reaksi terhadapnya.
”kami harap Ki Wono mau menerima hadiah dari kami sebnab Ki Wono telah beberapa kali menyelamatkan dusun ini,” begitu kata Pak Dukuh.
Ki Wono berdebar-debar namun yang hadir duduk melingkar tanpak tersenyum-senyum (BTB : 118)

Data di atas menunjukkan sifat dan kebaikan Ki Wono yang sudah berulang kali menolong desa tersebut, sehingga Ki Wono mendapatkan hadiah dari penduduk yang di tempati oleh Ki Wono.
Dari data di atas juga biasa dijadikan sebagai data watak para penduduk tersebut, yaitu mempunyai watak baik hati, mempunyai sifat balas budi..

3.1.5 Pelataran atau Setting
Suatu cerita dapat terjadi pada suatu tempat atau lingkungan tertentu. Tempat dalam hal ini mempunyai ruang lingkup yang sangant luas, termasuk nama kota, desa, sungai, gunung, lembah, sekolah, rumah, toko, dan lain-lain. Unsur tempat sangant mendukung terhadap perwatakan, tema, alur serta unsur yang lain.
Seseorang yang hidup dilingkungan sekolah tertenu secara umum akan mempuyai watak yang berbeda dengan orang yang tinggal di lingkungan kebun, atau yang dibesarkan di desa tertentu akan memiliki watak yang berbeda dengan orang yang lahir dan dibesarkan di kota (secara umum).
Unsur waktu juga bagia yang tidak terpisahkan dalam suatu cerita. Suatu cerita dapat terjadi pada suatu saat tertentu,misalnya pada abad XX, pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, ketika musim hujan, ketika musim semi, tahun, bulan, hari dan sebagainnya. Lingkungan terjadinya peristiwa-peristiwa atau suasana seperti orang-orang di sekitar tokoh atau juga benda-benda di sekitar tokoh termasuk ke dalam latar belakang atau setting.
Dalam hal ini Hayati (1990 : 11) menyatakan, latar atau landasan tumpu, adalah gambaran tempat, waktu, atau segala situasi di tempat terjadinya peristiwa. Latar cerita tertentu dapat menimbulkan suasana tertentu.
Da dua jenis setting yang bersifat fisikal dan setting bersifat psikologis. Setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan tempat, waktu, misalnya kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah dan lain-lain, serta benda-beda dalam lingkungan yang tidak menuansakan makna apa-apa, sedangkan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu menagajuk emosi pembaca.
Setting tepat yang digunakan dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim adalah di suatu tempat atau di suatu dusun di dekat lereng pegunungan yang terdapat umbul sunan, seperti pada data di bawah
”Padahal sejak zaman Sunan kali jaga dulu air dari umbul bebas diperuntukkan bagi warga dusun ini. Dusun paling dekat dan selama ratusan tahun sejak simbah-simbah sudah dipercaya merawat umbul. (BTB : 80)

Dari data di atas sudah jelas menujjukkan setting di suatu dusun dekat lereng pegunungan yang mempunyai sebuah umbul. Selain setting di suatu desa juga terdapat setting di perkotaan, di dalam sebuah ndelem suatu keraton kerajaan solo, seperti pada data di bawah ini.
”Tidak Mas, Saya dan para Den Ayu yang tinggal di Ndelem-Ndelem Njoron Beteng atau yang tinggal di rumah-rumah Joglo kuno selalu punya kesibukan,” Jawab istrinya. (BTB : 20)

”Ya. Saya dikenalkan sebagai istri Mas, tapi yang dikenalkan adalah nema gelar kebangsawanan yang Mas peroleh dari Keraton Solo itu .......”(BTB : 21)

Dari kedua data di atas sudah jelas menujjukkan suasana di dalam sebuah keraton.

3.1.6 Sudut Pandang (Poin Of View)
Titik kisah adalah posisi pengarang dalam suatu, atau cara pegarang memandang suatu cerita. Posisi pengarang suatu cerita dapat dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu (1) pengarang sebagai pelaku cerita, (2) pengarang sebagai peninjau, (3) pengarang sebagai engamat yang serba tahu.
a. Pengarang dikatakan sebagai pelaku apabila ia terlibat langsung dalam cerita itu. Ia sebagai salah satu tooh dalam cerita itu, baik sebagai tokoh utama maupun tokoh sampingan.
b. Pengarang dikatakan sebagai peninjau apabila ia seolah-olah sebagai pelapor dalam cerita itu. Dalam kedudukannya sebagai pelapor yang dilaporkan hanya hal-hal yang bersifat umum dan yang layak dilaporkan hanya hal-hal yang bersifat umum dan yang layak dilaporkan. Ia tidak akan melaporkan hal-hal berkecil-kecil yang memang tidak mungkin dilaporkan.
c. Pengarang dikatakan sebagai pengamat yang serba tahu apabila ia mengamati, dan melaporkan segala seseuatu peristiwa yang ada pada cerita. Keserba tahuan ini ditandai dengan kejelaiannya menggambarkan setiap peristiwa, sifat-sifat tokoh, gerak-gerik tokoh, dan suasana perisiwa.
Secara mudah, penentuan jenis posisi pengarang dalam suatu cerita dapat dilihat dari pemakaian kata ganti dalam cerita itu, pemakaian kata gantik aku, kami, kita, awak, pada suatu cerita berarti pengarang sebagai pelaku, sedangkan apabila memakai kata ganti orang ketiga (Dia, mereka), berarti pengarang sebagai peninjau atau pengamat serba tahu.
Sesuai dengan penjelasan di atas pengarang dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim dikatakan sebagai pengamat yang serba tahu, karena pengarang disini menggunakan nama atau kata ganti orang ketiga, kemudian pengarang banyak menggambarkan setiap peristiwa, gerak-gerik tokoh secara mendetail, seperti pada kutipan di bawah ini.
”Entah siapa yang mengusulkan, tiba-tiba muncul ide bumi hangus. Saat itu ia merasa kalangan militer, temasuk jaringan intelnya, telah terbagi lebih dari dua kubu. Mereka bermain menjatuhkan kubu saingan...........” (BTB :70)

Data di atas menunjukkan kejelian pengaran dalam menggambarkan suatu cerita, pengarang serba tahu kejadian-kejadian yang ada dan menceritakan secara mendetail.

3.1.7 Konflik
Dalam kebanyakan fiksi terdapat suatu perjuangan, pertentangan konflik tempat tokoh utama berjuang mati-matian untuk segala kesukarang demi tercapainya tujuannya. Sementara orang beranggap bahwa keseukaran atau halangan yang harus dihadapi oleh tokoh utama itu berupa benda-benda konkrit atau manusia. Hal itu tidak selalu benar.
Wellek dan Werren (1990:285) menyatakan konflik adalah sesuatu yang ”dramatik” mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang, menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.
Tarigan (1986:134) menyatakan, terdapat beberapa ragam konflik, misalnya saja mungkin terdapat konflik antara :
a. manusia dengan manusia;
b. manusia dengan masyarakat;
c. manusia dengan alam sekitar;
d. suatu ide dengan ide lain;
e. seseorang denga kata hatinya.
Jenis konflik a, b, dan c di ata dapat kita sebut konflik fisik, konflik eksternal, konflik jasmaniah; sedangkan jenis d dan e kita sebut konflik psikologis, konflik internal, konflik batiniah.
Konflik jasmani yang ada dalam Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyimyaitu konflik antara manusia denga alam, dan manusia dengan masyarakat, terutama antara masyarakat pedesaan dengan perkotaan yang mempermasalahkan kurangnya air yang digunakan yang berasan dari umbul yang disebut oleh orang-orang kota untuk kebutuhannya. Seperti pada kutipan berikut.
”Dalam waktu dekat lairan dan Umbul Sunan yang masuk ke desa akan digilir.” Kata Pak Dukuh.
”Maksud Pak Dukuhbagaimana?” tanya lelalki yang tadi berjalan bersama Ki Wono.
”Saya tadi dipanggil ke Kelurahan. Di sana saya diberi pengumuman bahwa air Umbul Sunan sekarang harus dibagi kebanyak pihak yang berkepentingan. Misalnya untuk mengairi lapangan Golf yang rumput impornya selalu haus air. Juga untuk mengairi perumahan-perumahan yang banyak dibangun di bawah sana. Kemudian untuk memberi pasojan bagi dua pabrik air minum dalam kemasan yang belum lama diresmikan gubernur, dan untuk langganan air ledeng bagi penduduk kota”. (BTB : 79 – 80)

Dari kutipan novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim di atan menujjukan konflik antara orang kota dengan orang-orang penduduk desa yang sudah lama merawat alam sekitarnya dan sekarang harus direbut oleh orang-orang kota.
Konflik batin yang terdapat dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim juga terjadi pada tokoh utama, yaitu Ki Wono yang mempunyai pemikiran usaha untuk menghilangkan nama-nama yang semu, nama-nama yang antara bunyi dab maknanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya, seperti pada kutipan berikut.
Dalam hati lelaki itu mengleuh. Usaha utnuk menghilangkan nama dan hidup tanpa nama gagal, ia justru mendapatkan namanya kembali. Ditambah nama sebutan yang diberikan warga dusun. Istri muda itu kadang bercanda dengan dua nama itu. Terutama kalau perempuan muda itu ingin mengajak bercanda sebelum tidur bersama, di malam hari, dan waktu-waktu lain ketika mereka berdua membutuhkan. Kadang memanggil suami dengan Kangmas Jendral, kadang memanggil dengan Kangmas Wono. Lelaki itu membiarkan. Mungkin sudah menjadi takdirnya untuk tetap harus menyandang nama, manusia dan nama, nama dan manusia, dua hal yang berhubungan, tetapi dalam sejarah justru nama paling penting....... (BTB : 206)

Data di atas mnunjjukkan kegagalan tokoh utama untu8k menghilangkan nama-nama yang dia emban, misalnya nama jendral yang pernah dia sandang.


3.2 KONFLIK POLITIK DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM
Perkembangan sastra Indonesia pasca 1965 terlepas dari faktor situasi sosial politik masa awal kelahiran orde baru. Pada perikode tersebut terjadilah peristiwa penting baik pada bidang sosial politik, maupun kebudyaan. Dalam bidang kebudayaan termasuk di dalamnya kesusastraan, peristiwa yang cukup penting dan menentukan bagi kehidupan kesusuastran untuk masa berikutnya adalah kemenangan kubu. Minikebu dengan paham humanisme universalnya dan kekalahan kubu Lekra dengan paham realisme sosialnya. Teeuw (1986:43) mencatat bahwa bidang kebudayaan, segala macam kelompok dan perorangan, yang praktis tutup mulut sejak 8 Mei 1964, menjadi kembali bergerak dan mulai memperdengarkan suara mereka. Koran-koran dan majalah yang pernah dilarang pada masa Orde Lama, memulai kembali penerbitannya. Juga terbit majalah baru, yakni Horison sebagai majalah sastra.
Konflik politik novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim merupakan konflik yang dominan. Konflik tersebut meliputi hampir keseluruhan cerita. Konflik tercermin dalam tema, alur, dan pernokohan.
Novel Burung Tak Bernama mengisahkan pertentangan tokoh utama di masa lalunya dengan adanya golongan-golongan atau menggelar semacam operasi yang menentukan hidup mati orang banyak hanya dari pertemuan kelompok orang yang (merasa) pintar. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama, menghabisi potensi ekonomi global dapat masuk dan mengobrak-abrik potensi ekonomi kaum santri, mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah. Hal ini disebutkan secara eksplisit oleh pengannya.

Dengan panjang lebar pangeran itu menjalankan bagaimana penerapan strategi amangkurat itu di kemudian hari berlangsungan dengan cara yang kasar dan cara yang halus. Cara yang kasar dilakukan lewat intrik dengan target mengorbankan mereka. Biasanya mereka dipancing agar marah dan frustasi kemudian dijebak agar masuk dalam blunder politik, baru kemudian dihajar habis-habisan. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama itu sebenarnya sudah dicegah jauh-jauh oleh para pemimpinIslam senior, tapi kurirnya dihambat atau dihabisi di tengah jalan agar perontakan yang ditargetkan oleh pihak-pihak intelejen militer betul-betul meletus............”(BTB halaman 44)

Data di atas menggambarkan konflik politik-politik yang dilakukan oleh para intelejen, banyak kasus pemberontakan yang menghancurkan para santri dengan berbagai cara atau politik-politik lainnya. Konflik politik yang terdapat dalam novel ini semakin jelas dengan adanya gelombang seperti organisasi rahasia Gagak Hitam dan Kelabang Merah kedua Organisasi ini sangat berperan penting dalam konflik politik dalam novel ini. Atau lebih jelasnya konflik politik lebih banyak tergambarkan dalam novel ini pada bagian tiga. Pada bagian ini banyak menceritakan hal-hal politik yang menjadi bayang-bayang dalam benak tokoh utama dan akhirnya tokoh utama menghindar dari sebuah Ndelem untuk menghilangkan gelar-gelar yang dia miliki, tokoh utama menginginkan sebuah nama itu tidak ada sebuah nama yang tidak ada kaitannya dengan bunyi dan makna. Akan tetapi dalam usahanya suatu ketika dia tetap juga menggunakan nama-nama itu untuk kepentingan sosial dalam masyarakat pegunugan.
Dulu ia begitu penuh siasat. Menggelar bermacam-macam operasi. Menentukan hidup mati orang banyak hanya dari pertemuan sekelom[ok orang-orang yang (merasa) pintar. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama; menghabiskan potensi ekonomi kaum santri agar kekuatan ekonomi kaum santri, mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah, menghadirkan pasar alternatif bernama Supermarket, swalayan, mal, serta supermal dengan mengundang raksasa-raksasa ritel kelas dunia. Kaum inilah yang kemudian menjadi konflik untuk meledakkan berbagai kerusuhan.
Share:

SINOPSIS NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM


Seorang pensiun jendral yang terus-menerus dihantui oleh rasa bersalah dan dikejar-kejar dosa karena selalu terlibat dalam operasi intelijen dengan sasaran pesantren dan kaum santri memilih menyembunyikan namanya di sebuah dusun terpencil di lereng gunung. Ia menyebut dirinya tanpa nama. Walau begitu desa memberinya nama Ki Wono.
Di suatu waktu lelaki itu memejamkan mata ia mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah berkata rabuk yuswo. Ia ingat waktu jadi perwira intelijen dan mendapat tugas mengamat-amati malaysia dari sebuah pertambangan minyak di Riau. Dari bayang-bayangan selalu ingat pada masa lalu dia tetap selalu terbayangi atau dihantui oleh masa lalu yang melibatkan dirinya pada sebuah gerakan intelijen.
Suara burung dari ruang belakang tidak ia perhatikan. Ia masih terus ingat perjalanan hidup waktu di dunia intelijen militer dulu. Ada gunung rasa bersalah mau meledak dalam dadakan kepala, ia masih ingat bagaimana kelompok santri terus-menerus menjadi bulan-bulanan operasi intelijen tanpa mereka sadari. Ia tidak mampu mencegah. Juga ketika terjadi berbagai ledakan kerusuhan dengan pelaku para santri di lokasi semua kota dan daerah yang merupakan konsentrasi warga santri. Gerakan kerusuhan yang merebah di pulau Jawa itu sebenarnya mudah ditebak, ingin menghalangi agar kaum santri gagal melakukan konsolidasi ekonomi, sosial dan budaya, juga gagal menentukan agenda kemenangan di masa depan ketika terjadi perubahan besar.
Dengan begitu, masyarakat santri kehilangan tiket untuk berperan menentukan setelah perubahan besar itu terjadi. Bahkan, yang membuat lelaki itu makin sedih dan marah adalah ketika di Jawa Timur dilakukan operasi intelijen dengan target menghalangi munculnya kekuatan politik alternatif dengan basis pesantren. Caranya dengan menggelar operasi ”Nisan Berdupa”. Konkretnya, para kiai dan guru ngaji harus dibunuh di bawah payung gerakan massa membasmi dukun sasntet.
Dengan panjang lebar pangeran itu menjelaskan bagaimana penerapan strategi amangkurat itu di kemudian hari berlangsung dengan cara yang kasar dan cara yang halus. Cara yang kasar dilakukan lewat intrik dengan target mengorbankan mereka. Biasanya mereka dipancing agar marah dan frustasi kemudian dijebak agar masuk dalam blunder politik, baru kemudian dihajar habis-habisan. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama itu sebanarnya sudah dicegah jauh-jauh oleh para pemimpin islam senio, tapi kurirnya dihambat atau dihabisi di tengah jalan agar pemberontakan yang ditargetkan oleh pihak-pihak intelijen militer betul-betul meletus.
Ia ingin merubah diri menyamar menjadi petani, memilih memutuskan hubungan dengan dunia lamanya, militer. Meninggalkan istri cantik seorang cucu raja dari kalangan Keraton. Hidup sederhana menurt alam. Padahal rumahnya tak berkepalang besarnya. Sebuah Ndelem yang penuh dengan para abdi yang melayani apa pun kebutuhannya.
Ia malu. Dulu ia begitu penuh siasat. Menggelar bermacam-macam operasi. Menentukan hidup mati orang banyak dari pertemuan sekelompoj orang-orang yang (merasa) pintar. Ksus pemberontakan yang mengatasnamakan agama; menghabisi potensi ekonomi kau santri agar kekuatan ekonomi global dapat masuk dan dapat mengobrak-abrik potensi ekonomi kaum santri; mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah; menghadirkan pasar alternatif bernama supermarket, swalayan, mal, serta supermal dengan mengundang raksasa-raksasa ritel kelas dunia. Kaum santri tersingkir, kehilangan akses pasar, kalah, lelah dan marah. Kemarahan inilah yang kemudian menjadi konflik untuk meledakkan kerusuhan.
Suatu saat ia tersadar kalau semua langkahnya selama ini ternyata didekte oleh berbagai rekomendasi daris ebuah lembaga riset dan lembaga pemikiran strategi. Tenyata yang semula ia sangat sebagai perbuatan demikian penting, negara hanya sekedar kepentingan kelompok-kelompok. Yang telah membuatnya semakin merasa berdosa adalah ketika akar dari semua ini adalah karena menguasai lebih mematuhi perintah dari pusat kekuatan ekonomi global ketimbang pertimabangan mempertimbangkan dan memenuhi aspirasi rakyat sendiri.
Usaha menghilangkan nama dan hidupnya tanpa nama gagal. Ia justru mendapatkan namanya kembali ketika air penduduk dusun dikuasai orang-orang yang berkuasa dari kota. Padahal air seharusnya tidak ada yang memiliki (res nullus). Air merupakan milik bersama umat manusia (res commune), bahkan milik bersama mahluk Tuhan sehingga tidak ada yang boleh memonopoli dan tidak boleh ada yang lemah tak berdaya.
Ia ingin membersihkan manusia dari nama-nama yang tidak perlu, nama-nama yang hanya menjadi beban, nama-nama yang semu, nama-nama yang antara bunyi dan maknanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya. Ia ingin hadir di dalam semesta sebagai manusia. Tidak perlu embel-embel. Tidak ada yang menyembah dan menyebut gelar hebatnya yang kosong melompong.
Burung tak bernama dan lelaki yang ingin tak mempunyai nama merasa damai ketika mereka roboh bersama-sama. Ketika darah muncrat dari luka, mereka merasa datangnya ketegangan yang luar biasa. Atas kesepakatan warga dan seizin du istrinya, lelkai bersama burung tak bernama itu dikubur di dekat umbul. Tetap di tempat mereka di temukan berbaring bersama, dengan seulas senyum yang lalu dikenang oleh siapa saja yang pernah melihatnya.
Senyum yang damai.


Share:

Saturday, 21 June 2008

Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa Belum Baik

Banjarmasin (ANTARA News) - Ketua Umum Forum Bahasa Media Massa (FBMM), TD Asmadi mengakui bahwa pengunaan bahasa Indonesia oleh para wartawan di media massa belum baik kalau dilihat dengan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Akibat penggunaan bahasa Indonesia yang belum baik itulah yang melatarbelakangi dibentuknya FBMM ini, kata TD Asmadi kepada pers di sela-sela sebagai pembicara pada penyuluhan bahasa Indonesia bagi kalangan wartawan dan redaktur media cetak dan media elektronika se Kota Banjarmasin, di Banjarmasin, Selasa.

FBMM itu dibentuk tanggal 31 tahun 2002 oleh sembilan orang yang berasal dari sembilan media massa di Jakarta, seperti harian Kompas, Majalah Tempo, harian Republika, kantor berita nasional ANTARA, harian Pikiran Rakyat, serta majalah Matra.

Maksud pembentukan forum itu agar bisa memperbaiki pengunaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan cara memberikan penyuluhan ke seluruh wartawan media massa.

Sosialisasi tersebut baik melalui penyuluhan atau pelatihan-pelatihan kerjasama antara FBMM dengan pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), serta para lembaga media massa itu sendiri.

Diskusi-diskusi mengenai bahasa Indonesia di media massa tersebut, sudah seringkali dilakukan, seperti di harian Kompas, majalah Gatra, kantor berita ANTARA, atau di televisi swasta RCTI dan SCTV, tambahnya.

Pembentukan FBMM juga terus dikembangkan, tadinya hanya ada di Jakarta dan kota-kota besar di Pulau Jawa kini sudah menyebar di 14 daerah lainnya, untuk Kalimantan saja tinggal provinsi Kaltim yang belum dibentuk FBMM ini.

Sementara di Sumatera, ada di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Propinsi Riau, katanya dalam penyuluhan di Banjarmasin hasil kerjsama dengan PWI Kalsel dan kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kalsel.

"Pokoknya melalui FBMM ini kita sebagai pekerja media massa, harus membela bahasa Indonesia dan berusaha menciptakan pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar," kata tokoh pers yang pernah menjadi wartawan dan Ketua Bahasa harian Kompas yang pensiun tahun 2003 ini.

Dalam penyuluhan yang diikuti puluhan wartawan Banjarmasin tersebut, mengetengahkan berbagai materi yang disampaikannya, antara lain teori menulis berita, praktik menulis berita, teori menulis feature serta praktik menulis feauture. (*)

Source : http://www.antara.co.id/arc/2008/5/27/penggunaan-bahasa-indonesia-di-media-massa-belum-baik/
Share:

MEDIA MASSA DI INDONESIA

Media massa adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.
Jenis-jenis media masa
Secara tradisional jenis-jenis media massa adalah:
A. SURAT KABAR
Koran (dari bahasa Belanda: Krant, dari bahasa Perancis courant) atau surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat kabar juga biasa berisi kartun, TTS dan hiburan lainnya.
Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu, misalnya berita untuk industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni atau partisipan kegiatan tertentu.
Jenis surat kabar umum biasanya diterbitkan setiap hari, kecuali pada hari-hari libur. Surat kabar sore juga umum di beberapa negara. Selain itu, juga terdapat surat kabar mingguan yang biasanya lebih kecil dan kurang prestisius dibandingkan dengan surat kabar harian dan isinya biasanya lebih bersifat hiburan.
Kebanyakan negara mempunyai setidaknya satu surat kabar nasional yang terbit di seluruh bagian negara. Di Indonesia contohnya adalah KOMPAS.
Pemilik surat kabar, atau sang penanggung jawab, adalah sang penerbit, Orang yang bertanggung jawab terhadap isi surat kabar disebut editor.
Sistem cetak jarak jauh
Perkembangan teknologi modern (komputer, internet, dll) kini memungkinkan pencetakan surat kabar secara simultan di beberapa tempat, sehingga peredaran di daerah-daerah yang jauh dari pusat penerbitan dapat dilakukan lebih awal. Misalnya, koran Republika yang pusatnya di Jakarta, melakukan sistem cetak jarak jauh (SCJJ) di Solo. Koran International Herald Tribune yang beredar di Indonesia dicetak dan diterbitkan di Singapura, padahal kantor pusatnya berada di Paris.
Di satu pihak sistem ini menolong beredarnya koran-koran kota besar di daerah-daerah dengan lebih tepat waktu. Namun di pihak lain, koran-koran daerah banyak yang mengeluh karena hal ini membuat koran-koran besar semakin merajai dan mematikan koran-koran daerah yang lebih kecil.

Format
Surat kabar modern biasanya terbit dalam salah satu dari tiga ukuran:
• broadsheet (ukuran besar) (29½ X 23½ inci), biasanya berkesan lebih intelektual.
• tabloid: setengah ukuran broadsheet, dan sering dipandang sebagai berisi kabar-kabar yang lebih sensasional.
• "Berliner" atau "midi" (470×315 mm), yang digunakan surat kabar di Eropa seperti Le Monde.
Sejak tahun 1980-an, banyak surat kabar yang dicetak berwarna dan disertai grafis. Ini menunjukkan bahwa tata letak surat kabar semakin penting dalam menarik perhatian pembaca.
Oplah
Jumlah kopi surat kabar yang dijual setiap harinya disebut oplah, dan digunakan untuk mengatur harga periklanan.
Koran dan politik
Di negara-negara Barat, pers disebut sebagai kekuatan yang keempat, setelah kaum agamawan, kaum bangsawan, dan rakyat. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Thomas Carlyle pada paruhan pertama abad ke-19. Hal ini menunjukkan kekuatan pers dalam melakukan advokasi dan menciptakan isu-isu politik. Karena itu tidak mengherankan bila pers sering ditakuti, atau malah "dibeli" oleh pihak yang berkuasa.
Di Indonesia, pers telah lama terlibat di dalam dunia politik. Di masa penjajahan Belanda pers ditakuti, sehingga pemerintah mengeluarkan haatzai artikelen, yaitu undang-undang yang mengancam pers apabila dianggap menerbitkan tulisan-tulisan yang "menaburkan kebencian" terhadap pemerintah.
Pada masa Orde Lama banyak penerbitan pers yang diberangus oleh Presiden Soekarno. Namun bredel pers paling banyak terjadi di bawah pemerintahan Soeharto. Akibatnya banyak wartawan yang harus menulis dengan sangat berhati-hati. Atau sebaliknya, wartawan menjadi tidak kritis dan hanya menulis untuk menyenangkan penguasa.
B. MAJALAH
Majalah adalah penerbitan berkala yang berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi.
Majalah biasa diterbitkan mingguan, dwimingguan atau bulanan. Majalah biasanya memiliki artikel mengenai topik populer yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Publikasi akademis yang menulis artikel padat ilmu disebut jurnal.
Daftar Majalah di Indonesia
Majalah Opini
• Majalah Tempo
• GATRA
Majalah Agama
• Majalah Hidup
• Menara Pengawal
Majalah Ekonomi dan Keuangan
• Majalah Stabilitas
• Marketing
Majalah Dakwah Islam
• Majalah Sabili
• Majalah Suara Hidayatullah
• Majalah Independensia PB HMI
• Majalah Esensi HMI Mks
Majalah Gaya Hidup
• Majalah a+
• Majalah d'Maestro
• majalah Dewi
• majalah Femina
• majalah Intisari
• Majalah Matra
• majalah Playboy
• Madjalah Tionghoa Melajoe
• Reader's Digest Indonesia
Majalah Remaja
• Cerita Kita (Cerkit)
• Gadis (majalah)
• Gogirl
• GFresh!
• Hai
• Kawanku
• Cosmo Girl
• Seventeen
• B Girl
• Olga
• Aneka
• Genie
Majalah Anak
• Bobo
Majalah Kawasan
• Info Kelapa Gading
• Info Serpong
• Info Kebayoran
• Famili Gading
• MediaKawasan
• Magz Pondok Indah
• Menteng Heritage
Majalah Kesehatan
• Health Today Indonesia
• WELL Magazine
Majalah Khusus
• Medical Update - majalah khusus untuk dokter
• SATUVISI human rights for all
Majalah Handphone
• HandPHONE Indonesia
• T&t Magazine, Indonesia
 Majalah Dalam bahasa daerah
Majalah Bahasa Jawa
• Jaya Baya
• Damar Jati
• Jaka Lodhang
• Mekar Sari
• Panjebar Semangat
Majalah Bahasa Sunda
• Cupumanik

C. RADIO
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).
Gelombang radio
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik. Gelombang radio ini berada pada jangkauan frekuensi 10 hertz (Hz) sampai beberapa gigahertz (GHz), dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik.
Gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputi sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya terlihat.
Ketika gelombang radio dipancarkan melalui kabel, osilasi dari medan listrik dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Hal ini kemudian dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang membawa informasi.
Meskipun kata 'radio' digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan alat penerima gelombang suara, namun transmisi gelombangnya dipakai sebagai dasar gelombang pada televisi, radio, radar, dan telepon genggam pada umumnya.





Frekuensi gelombang radio untuk pengiriman suara

Spektrum radio
ELF | SLF | ULF/VF | VLF | LF/LW | MF/MW | HF/SW | VHF | UHF | SHF | EHF
3 Hz | 30 Hz | 300 Hz | 3 kHz | 30 kHz | 300 kHz | 3 MHz | 30 MHz | 300 MHz | 3 GHz | 30 GHz | 300 GHz
Penemuan
Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali dijelaskan pada 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society mengenai teori dinamika medan elektromagnetik (bahasa Inggris: A dynamical theory of the electromagnetic field), berdasarkan hasil kerja penelitiannya antara 1861 dan 1865.
Pada 1878 David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya kepada Royal Society pada 1880 tapi hanya dibilang itu cuma merupakan induksi.
Adalah Heinrich Rudolf Hertz yang, antara 1886 dan 1888, pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial disebut persamaan gelombang.
Penggunaan radio





Sebuah radio merek Truetone Sebuah radio merek Bush lama
Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termawuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.
Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.
Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an.
Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah pengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar].
Sekarang ini, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio. Baca sejarah radio untuk informasi lebih lanjut.
Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan musik saja. Lihat pemrograman radio.


D. TELEVISI
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Perkembangan
Dalam penemuan televisi (tv), terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
 1876 - George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai sinar katoda.
 1884 - Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.
 1888 - Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
 1897 - Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.
 1900 - Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.
 1907 - Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.
 1927 - Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.
 1929 - Vladimir Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.
 1940 - Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.
 1958 - Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan Dr. Glenn Brown.
 1964 - Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
 1967 - James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.
 1968 - Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.
 1975 - Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
 1979 - Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
 1981 - Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.
 1987 - Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
 1995 - Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
 Dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya
Memang benar banyak sebagian orang mengatakan kalau gambar yang dihasilkan TV LCD dan Plasma memiliki resolusi yang lebih tinggi. Tetapi kekurangannya adalah masa atau umur TV tersebut tidak dapat berumur panjang jika kita memakainya terus-menerus jika kalau dibandingkan dengan TV CRT atau yang di kenal sebagai Tivi biasa yang kebanyakkan orang pakai pada umumnya.


Jenis televisi
 Televisi analog
 Televisi digital
Perkembangan baru
 Televisi digital (Digital Television, DTV)
 TV Resolusi Tinggi (High Definition TV, HDTV)
 Video Resolusi Ultra Tinggi (Ultra High Definition Video, UHDV)
 Direct Broadcast Satellite TV (DBS)
 Pay Per View
 Televisi internet
 TV Web
 Video atas-permintaan (Video on-demand, VOD)
 Gambar-dalam-Gambar (Picture-In-Picture, PiP)
 Auto channel preset
 Perekam Video Digital
 DVD
 CableCARD™
 Pemrosesan Cahaya Digital (Digital Light Processing, DLP)
 LCD dan Plasma display TV Layar Datar
 High-Definition Multimedia Interface (HDMI)
 The Broadcast Flag
 Digital Rights Management (DRM)




E. FILM (LAYAR LEBAR).


Film Pertama yang pernah dibuat
Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan untuk 'berpindah gambar'). Film, secara kolektif, sering disebut 'sinema'. Gambar-hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis.
Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.
F. INTERNET
Secara harfiah, internet (kependekan daripada perkataan 'inter-network') ialah rangkaian komputer yang berhubung menerusi beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.
Kemunculan Internet
Rangkaian pusat yang membentuk Internet diawali pada tahun 1969 sebagai ARPANET, yang dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency). Beberapa penyelidikan awal yang disumbang oleh ARPANET termasuk kaedah rangkaian tanpa-pusat (decentralised network), teori queueing, dan kaedah pertukaran paket (packet switching).
Pada 1 Januari 1983, ARPANET menukar protokol rangkaian pusatnya, dari NCP ke TCP/IP. Ini merupakan awal dari Internet yang kita kenal hari ini.
Pada sekitar 1990-an, Internet telah berkembang dan menyambungkan kebanyakan pengguna jaringan-jaringan komputer yang ada.
Internet pada saat ini








Representasi grafis dari jaringan WWW (hanya 0.0001% saja)
Internet dijaga oleh perjanjian bi- atau multilateral dan spesifikasi teknikal (protokol yang menerangkan tentang perpindahan data antara rangkaian). Protokol-protokol ini dibentuk berdasarkan perbincangan Internet Engineering Task Force (IETF), yang terbuka kepada umum. Badan ini mengeluarkan dokumen yang dikenali sebagai RFC (Request for Comments). Sebagian dari RFC dijadikan Standar Internet (Internet Standard), oleh Badan Arsitektur Internet (Internet Architecture Board - IAB). Protokol-protokol internet yang sering digunakan adalah seperti, IP, TCP, UDP, DNS, PPP, SLIP, ICMP, POP3, IMAP, SMTP, HTTP, HTTPS, SSH, Telnet, FTP, LDAP, dan SSL.
Beberapa layanan populer di internet yang menggunakan protokol di atas, ialah email/surat elektronik, Usenet, Newsgroup, perkongsian file (File Sharing), WWW (World Wide Web), Gopher, akses sesi (Session Access), WAIS, finger, IRC, MUD, dan MUSH. Di antara semua ini, email/surat elektronik dan World Wide Web lebih kerap digunakan, dan lebih banyak servis yang dibangun berdasarkannya, seperti milis (Mailing List) dan Weblog. Internet memungkinkan adanya servis terkini (Real-time service), seperti web radio, dan webcast, yang dapat diakses di seluruh dunia. Selain itu melalui internet dimungkinkan untuk berkonikasi secara langsung antara dua pengguna atau lebih melalui program pengirim pesan instan seperti Camfrog, Pidgin (Gaim), Trilian, Kopete, Yahoo! Messenger, MSN Messenger dan Windows Live Messenger.
Beberapa servis Internet populer yang berdasarkan sistem Tertutup(?)(Proprietary System), adalah seperti IRC, ICQ, AIM, CDDB, dan Gnutella
Budaya Internet
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim.
Perkembangan Internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet. Transaksi melalui Internet ini dikenal dengan nama e-commerce.
Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government.
Tata tertib Internet
Sama seperti halnya sebuah komunitas, Internet juga mempunyai tata tertib tertentu, yang dikenal dengan nama Nettiquette
Isu moral dan undang-undang
Terdapat kebimbangan masyarakat tentang Internet yang berpuncak pada beberapa bahan kontroversi di dalamnya. Pelanggaran hak cipta, pornografi, pencurian identitas, dan ucapan benci (?) (Hate speech), adalah biasa dan sulit dijaga. Hingga tahun 2007, Indonesia masih belum memiliki Cyberlaw, padahal draft akademis RUU Cyberlaw sudah dibahas sejak tahun 2000 oleh Ditjen Postel dan Deperindag. UU yang masih ada kaitannya dengan teknologi informasi dan telekomunikasi adalah UU Telekomunikasi tahun 1999.
Kematian juga telah disalahkan kepada Internet oleh sebagian orang. Brandon Vedas meninggal dunia akibat pemakaian narkotik yang melampaui batas dengan teman-teman chatting IRCnya memberi semangat. Shawn Woolley bunuh diri karena ketagihan dengan permainan online, Everquest. Brandes ditikam bunuh, dan dimakan oleh Armin Meiwes setelah menjawab iklan dalam internet.
Akses Internet
Negara dengan akses internet yang terbaik termasuk Korea Selatan (50% daripada penduduknya mempunyai akses jalurlebar - Broadband), dan Swedia. Terdapat dua bentuk akses internet yang umum, yaitu dial-up, dan jalurlebar. Di Indonesia, seperti negara berkembang dimana akses Internet dan penetrasi PC masih juga rendahlainnya sekitar 42% dari akses Internet melalui fasilitas Public Internet aksss seperti warnet , cybercafe, hotspot dll. Tempat umum lainnya yang sering dipakai untuk akses internet adalah di kampus dan dikantor.
Disamping menggunakan PC (Personal Computer), kita juga bisa mengakses Internet melalui Handphone (HP) menggunakan Fasilitas yang disebut GPRS (General Packet Radio Service). GPRS merupakan salah satu standar komunikasi wireless (nirkabel) yang memiliki kecepatan koneksi 115 kbps dan mendukung aplikasi yang lebih luas (grafis dan multimedia). Teknologi GPRS dapat diakses yang mendukung fasilitas tersebut. Pen-setting-an GPRS pada ponsel Tergantung dari operator (Simpati, Indosat, XL, 3) yang digunakan. Biaya akses Internet dihitung melalui besarnya kapasitas (per-kilobite) yang didownload.
Penggunaan Internet di tempat umum
Internet juga semakin banyak digunakan di tempat umum. Beberapa tempat umum yang menyediakan layanan internet termasuk perpustakaan, dan internet cafe/warnet (juga disebut Cyber Cafe). Terdapat juga tempat awam yang menyediakan pusat akses internet, seperti Internet Kiosk, Public access Terminal, dan Telepon web.
Terdapat juga toko-toko yang menyediakan akses wi-fi, seperti Wifi-cafe. Pengguna hanya perlu membawa laptop (notebook), atau PDA, yang mempunyai kemampuan wifi untuk mendapatkan akses internet.
G. TELEPON SELULER





Beberapa jenis Telepon genggam
Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access).
Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service, SMS). Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa
http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_surat_kabar_di_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Majalah
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_majalah_di_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Radio
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_stasiun_radio_di_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
http://id.wikipedia.org/wiki/Film
Share:

Wednesday, 18 June 2008

Jalan-Jalan yuuuuuuuuuukkkk

Postingan ini aku dapatkan dari Sahabat aku di lampung sana dian, diambil dari blog pribadinya, aku sudah mendapatkan izin untuk mempublikasikan, jadi g apa-apa kan...
ni blog sobatku http://dunia-mayaq.blogspot.com

Kita masuk kedalam yuuukkk

Dimuseum ini terdapat sample binatang atau hewan beserta habitatnya yang hidup atau berada dipropinsi lampung seperti gajah, beruang madu, macan, buaya dll,

Nah kalau yang ini adalah baju yang terbuat dari kayu yang dipakai oleh masyarakat lampung pada zaman dahulu

Disini juga ada beberapa prasasti yang ditemukan didaerah lampung, serta beberapa peninggalan bersejarah seperti peralatan perang yang digunakan oleh raden intan untuk melawan penjajah.

Selain itu terdapat berbagai alat untuk bercocok tanam, menangkap ikan, dan berburu yang digunakan masyarakat lampung.


Nah gambar yang disamping ini alat tenun untuk membuat kain dasar yang akan ditapis dengan benang emas




Tapis adalah salah satu kain kerajinan masarakat lampung yang digunakan pada saat upacara adat dan sebagai simbol masyarakat lampung. pakaian adat yang terkenal ini, terbuat dari kain yang disulam dengan benang emas dengan motif dan corak yang beraneka ragam, sesuai dengan daerahnya masing-masing. Ini menunjukan betapa kaya propinsi lampung akan ragam budaya yang dimilikinya.

dimuseum ini juga terdapat rumah adat masyarakat lampung, poade pernikahan untuk masyarakat lampung dengan bermacam corak sesuai daerah masing dan juga pakaian adat pernikahan masyarakat lampung





Share:

Saturday, 14 June 2008

HAKIKAT PENELITIAN SASTRA

1. Pengantar
Kehairan sastra di tengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan sastra mengalami perkembangan yang luar biasa hingga saat ini dalam hasanah pengkayaan budaya bangsa. Sastra merupakan salah satu karya kreatif yang patut dikembangkan dalam cakrawala ilmu pengetahuan yang semakin melaju dan berkembang. Sastra terlahir disebabkan dorongan dan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya, menaruh minat terhadap manusia, kemanusiaan, dan menaruh simpati dan empati terhadap masalah dunia realitas yang berkembang sepanjang zaman. Sastra yang telah dilahirkan oleh para sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan kepuasan intelek bagi manusia.


Memang harus diakui, tidak semua kalangan masyarakat dapat menikmati dan memahami sastra. Kita akui bahwa masyrakat sangat beragam, baik kecendrungannya, kemampuan ekonomi dan intelektualnya, maupun perhatiannya terhadap sastra. Ada masyarakat yang sama sekali tidak punya perhatian terhadap sastra. Ada sebagian masyarakat menjadi penikmat sastra dan ada pula masyarakat yang memperhatiakn dan peduli terhadap sastra, dan juga masyarakat pelaku sastra. Hal inilah yang menjadi persoalan dalam mengembangkan dan memajukan sastra yang harus segera dipecahkan. Karena itu, perlu ada penelaah dan penelitian terhadap sastra.
Tugas penelitian sastra tidak saja pada tataran menafsirkan makna perlambangan sastra, tetapi juga memberikan penilaian terhadap mutu penciptaan karya sastra. Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud kepedulian dalam memberikan sumbangan pikiran terhadap pertumbuhan dan perkembangan sastra. Dengan adanya penelitian sastra diharapkan kepedulian masyarakat semakin meningkat, kualitas penciptaan sastra juga semakin meningkat, dan perkembangan ilmu sastra menjadi meningkat pula.

2. Pentingnya Penelitian Sastra
Teeuw (1982:17) mengungkapkan bahwa dalam dasa warsa belakangan ini ilmu sastra internasional berkembang sangat cepat ke arah yang menjadikan ilmu sastra sangat penting. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh peneliti, khususnya di Indonesia, agar perkembangan sastra Indonesia sejalan dengan perkembangan ilmu sastra dunia. Dalam penelitan sastra, peneliti tidak hanya melakukan kegiatan ilmiah murni, tetapi juga ikut serta menyebarluaskan dan mencermati segala detil perkembangan sastra, menyeleksi, menyunting teksm menafsirkan, dan menjelaskan, latar belakang sosial budaya dan sejarah perkembangannya.
Perkembangan sastra di Indonesia sangat menggembirakan pada dekade belakangan. Hal ini terbukti dari semakin meningkatnya jumlah dan kualitas hasil karya sastra, baik berkenaan dengan sastra daerah maupun berkenan dengan sastra Indonesia. Kenyataan yang baik iniharus didukung agar hasil karya sastra dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.
Tanggung jawab dalam hal pembinaan dan pengembangan sastra tidak hanya menjadi beban para peneliti, tetapi juga menjadi tanggung jawab para kritikus sastra, para penerjemah, para sastrawan, budayawan, dan guru sastra, serta seluruh masyarakt Indonesia, khususnya yang memiliki kepedulai khusus terhadap sastra. Rasa bangga dan cinta terhadap segala hasil budaya, termasuk sastra, harus ditumbuhkembangkan di hati masyarakat Indonesia, dalam segala strata. Karena itu, sastra harus lebih didekatkan dan lebih dilekatkan dengan hati masyarakat Indonesia. Para peneliti dan para pemerhati sastra harus mampu dan mau bekerja keras mengembangkan, memajukan, dan memasyarakatkan sastra, tidak hanya pada skala nasional, regional tetapi juga pada skala internasional.
Kekayaan sastra di Negara Indonesia sangat luar biasa banyaknya. Dukungan berbagai jenis bahasa daerah terhadap pengembangan sastra Indonesia sangat membuktikan bahwa Indonesia sangat kaya dengan sastra. Adakah kekhawatiran akan terjadinya stagnasi dalam sastra Indonesia, termasuk sastra daerah?, kekhawatiran itu haruslah ada. Karena itu, upaya memngembangkan sastra Indonesia melalui jalur penelitian harus tetap dilakukan sepanjang masa.

3. Dasar Tolak Penelitian Sastra
Manusia mempunyai kodrat untuk serba ingin tahu, itulah sebabnya manusia senantiasa mencari dan memnemukan sesuatu, serta mengembangkannya untuk menyempurnakan dirinya. Rasa ingin tahu itulah modal yang paling besar untuk merangsang manusia sengaja menghimpun keterangan, fakta, dan pengetahuan dalam kehidupan.
Beberapa saluran atau upaya yang melatarbelakangi pemerolehan pengetahuan manusia dalam kehidupannya sehari-hari sebagaimana diungkapkan oleh Walize (1986:10) berikut ini.
a. Melalui Revalasi
Pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman yang secara kebetulan lewat pengalaman pribadi yang muncul secara spontan, seperti pengalaman religius, pengalaman mistis, keajaiban alam.

b. Melalui Otoritas
Pengetahuan manusia diterima melalui orang-orang yang memiliki otoritas atau wibawa yang diyakini sebagai kebenaran yang patutditerima, keyakinan itu muncul berdasarkan kenyataan bahwa orang-orang yang bersangkutan memiliki pengalaman luas dalam suatu bidang sehingga apa saja yang dikatakannya dianggap benar dan tidak perlu dibantah atau dipertanyakan lagi.

c. Melalui Intuisi
Intuisi adalah suatu daya atau kemampuan melihat sesuatu kebenaran atau kenyataan tanpa pengalaman langsung atau tanpa dibantu oleh proses logika. Intuisi tersebut berupa hubungan-hubungan tidak sadar yang memberikan sebuah simpulan tentang apa yang diamati atau yang dialami.

d. Melalui Pendapat Umum
Pendapat umum yang ada atau sudah lama ada seringkali menjadi pegangan dan dijadikan pegangan dan pengetahuan. Pendapat umum ini kadang-kadang dibentuk oleh perpaduan intuisi, pengalaman pribadi, dan otoritas. Pendapat umum tersebut seringkali dipegang dalam jangka lama dan berubah setelah muncul pendapat umum baru.
e. Melalui Ilmu
Proses memperoleh pengetahuan dengan ilmu berbeda dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metode-metode ilmiah. Metode-metode tersebut diawali dengan konsepsi gambaran tentang masalah, melakukan proses penemuan, penciptaan, mengambarkan, dan menafsirkan hasil pengamatan.

Pengetahuan yang diperoleh tersebut senantiasa dipertanyakan keabsahannya. Untuk itu timbullah upaya untuk mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Untuk memverifirikasi keabsahan itu yang sudah ada orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali, melakukan kegiatan penemuan penyelidikan, dan penelitian.
Dalam melakukan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan, yaotu (a) pertama, penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya, dan (b) kedua, penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu tersebut dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai dengan kondisi dan situasi.

4. Tujuan Penelitian Sastra
Tujuan penelitian sastra adalah menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan secara empiris berdasarkan data dan fakta, pengembangan atau pengujain kebenaran yang dicapai dengan penelitian tentulah digunakan sebagai dasar atau fondasi melakukan tindakan.
Di dalam pengembangan ilmu sastra, teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra diberlakukan adanya rangkaian penelitian. Terutama untuk mengukuhkan dan meverifikasi teori-teori yang telah ada dan kalau perlu berusaha menemukan teori-teori baru yang relevan.

5. Jenis Penelitian
Penelitian sastra lebih banyak berupa penelitian perpustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan di dalam ruang kerja peneliti atau di ruang perpustakaan, data dan objek penelitiaanya lewat buku-buku. Selain jenis penelitian perpustakaan, penelitian sastra juga dapat dilakukan di lapangan, seperti penelitian terhadap sastra lisan, folklor, dan teater tradisional.
Dilihat dari metode kerja, penelitian sastra dapat dibedakan atas penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan analisis statistik dan model matematik. Penelitian kulaitatif merupakan penelitian yang mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antarkonsep yang sedang dikaji. Kajian analisis yang digunakan bukan menggunakana analisis statistik atau analisis matematik. Penelitian sastra lebih mengarah pada penelitian jenis kualitatif.
Share:

Saturday, 7 June 2008

Perempuan di Tengah Sastra dan Agama

Hubungan antara sastra dan agama lebih-lebih jika di tengahnya ada sosok berjender perempuan tetap menarik untuk diperdebatkan. Sebabnya, masalah yang sesungguhnya amat klasik ini belum kunjung mendapatkan semacam 'titik temu' di antara para sastrawan maupun agamawan.

Di tengah-tengah wacana itu, bahkan kaum perempuan penulis terjepit di antara tuntutan kekebasan berekspresi dan batasan-batasan agama. Di satu sisi, etos kreatif menuntut kebebasan berekspresi dalam keliaran imajinasi. Sementara, di sisi lain, etika agama memberi batasan wilayah yang dapat dijelajah oleh kebebasan itu. Jika seorang sastrawan melampaui batasan itu akan dianggap melanggar etika agama, bahkan dapat mengundang reaksi keras dari kalangan pemeluk agama yang bersangkutan.

Adalah menarik untuk membandingkan dialektika antara sastra, agama dan perempuan di masyarakat beragama yang cenderung homogen seperti di Indonesia, dengan dialektika serupa yang terjadi di negara multikultural seperti Kanada. Dan inilah yang terjadi dalam seminar Perempuan dalam sastra dan Agama di Jakarta, 22 Maret 2007, yang lalu.

Meskipun hanya menampilkan tiga novelis perempuan dan seorang akademisi sastra Camilla Gibb (Canada), Abidah el Khalieqy dan Ayu Utami serta Maman S Mahayana (Indonesia) tesis-tesis yang mengemuka cukup menarik untuk disimak. Setidaknya, tiga kubu pendapat tentang hubungan antara perempuan, sastra dan agama, terwakili dalam seminar tersebut. Ayu Utami mewakili kubu yang memberontak terhadap batasan moral dan agama serta menempatkan perempuan sebagai 'manusia bebas' termasuk bebas dari batasan tabu.

Sebaliknya, Abidah mewakili kubu yang berpendapt bahwa agama semestinya dipandang sebagai perangkat nilai yang memuliakan dan mengangkat harkat serta derajat kaum perempuan. Sedangkan Camilla Gibb cenderung moderat, karena memang tumbuh di lingkungan masyarakat multikultural yang sangat siap memahami perbedaan. Dan, di antara kubu-kubu itu jika memang dapat disebut demikian Maman tampil sebagai 'penengah' dalam pengertian melihat wacana-wacana yang muncul dengan kacamata akademisi.

Sastra atau kesastraan pada dasarnya tidak pernah membatasi kebebasan berekspresi dan beimajinasi para kreatornya. Para novelis besar dunia, seperti Dan Browm dan Najib Mahfud, sukses justru karena mempraktekkan kebebesan itu. Yang ada, barangkali jika dapat sisebut sebagai pembatasan, adalah konvensi yang berkait dengan genre dan tipologi karya sastra itu sendiri.

Untuk puisi, misalnya, konvensi adalah tuntutan untuk memperhatikan tipografi, rima, ritme, dan majas, demi keindahan puisi itu sendiri sebagai seni bahasa. Sedangkan fiksi, cerpen maupun novel, dituntut untuk memenuhi unsur-unsur pembangun cerita, seperti alur, plot, ending, penokohan dan karakterisasi. Ini juga demi daya tarik fiksi itu sendiri.

Tetapi, di luar konsvensi sastra itu ada masyarakat pembaca yang peradaban dan budayanya (termasuk etika dan moralnya) sudah dibentuk oleh nilai-nilai yang sudah diwariskan secara turun-temurun, terutama nilai-nilai moral dan agama. Nilai-niliai inilah yang pada akhirnya akan sering berbenturan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh karya sastra, karena kepada masyarakat yang sudah memiliki perangkat nilai itulah karya sastra itu 'dipertaruhkan'.

Jika begitu, apakah nilai-nilai moral dan agama yang oleh kalangan 'pemberontak nilai' seperti Ayu Utami dianggap membelenggu kretivitas itu yang salah? Apakah demi sastra, demi kebebasan berekspresi dan berimajinasi itu, moral dan agama tidak diperlukan lagi atau bahkan harus ditolak. Secara implisit, dilihat pada novel-novel dan esei-eseinya (terutama esei tentang seks) Ayu berkecenderungan demikian. Sedangkan Abidah berkecenderungan sebaliknya, dan menurutnya yang salah adalah pemahaman manusia tentang agama, bukan agama itu sendiri.

Dalam seminar tersebut, Ayu bahkan sempat mengemukakan kesumpekannya dalam lilitan nilai-nilai moral dan agama, dan lilitan itu makin kompleks karena ia berjenis kelamin perempuan. Sebabnya, dalam masyarakat Timur (Asia), perempuan 'dibelenggu' oleh batasan-batasan ketabuan -- salah satu ekspresi moral masyarakat Timur. ''Berjenis kelamin perempuan, ber-ras Asia, dan beragama Katolik, mempengaruhi ruang gerak saya sebagai penulis,'' katanya dalam seminar itu.

Tetapi, di mata Abidah, yang salah bukan agama, namun pandangan orang yang pandir dan penuh kepentingan jender (laki-laki) tentang agama. Menurutnya, biang kerok semua itu adalah budaya dan pemahaman agama yang keliru. Banyak tafsir agama yang bermuatan budaya laki-laki, untuk kepentingan laki-laki, dan merampas hak perempuan. Karena itulah, melalui karya-karyanya, seperti novel Gani Jora, Abidal mencoba membela kaum Muslimah dalam mendapatkan haknya. Dan, hak itu, menurutnya, telah diatur dalam Alquran.

Tumbuh di tengah masyarakat yang multikultural, sebagai seorang non-Muslim, Camilla Gibb justru memiliki pandangan yang jernih tentang nilai-nilai agama dan praktek keberagamaan di masyarakat (Muslim). Lewat sosok Lily dalam novel Sweetness in the Belly ia memotret pemeluk Islam yang sejati, jauh dari kesan teroris.

Satu-satunya semangat yang diperlihatkan Gibb adalah membela kaum perempuan yang tertindas, bukan mendiskreditkan moral atau agama. Di tangan Gibb, karya sastra atau novel, menjadi media untuk membela nasib kaum perempuan dari ketertindasan, tanpa menyalahkan agama. Dan, ini pula yang diperlihatkan novel-novel Abidah.

Ayu sebenarnya memperlihatkan semangat pembelaan yang sama, namun ia menjadikan moral dan agama sebagai 'kambing hitam'. Akar penyebabnya jelas: yang diperjuangkan Ayu adalah 'kebebasan seksual' bagi kaum perempuan. Sedangkan Gibb dan Abidah memperjuangkan harkat, martabat dan kebebasan perempuan dari segala bentuk penidasan.

Dalam semangat seperti di atas, karya sastra (novel), dalam pandangan Maman S Mahayana, dapat menjadi media penyadaran atau semacam pencerahan. Pembaca novel tanpa sadar seperti memperoleh penyadaran, betapa penindasan dan penganiayaan perempuan terjadi di mana-mana atas nama martabat keluarga, norma sosial, keluhuran budaya, bahkan kesucian agama.

Share:

Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia ("Literature and Medicine" - Sebuah Studi)

SEKILAS pandang, sastra tampaknya tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau dengan penyakit, dan bidang kedokteran (medicine)dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat kita temukan dalam pemikiran Barat sejak zaman Aristoteles; misalnya bahwa jenius" atau bakat seni yang luar biasa merupakan sejenis kelainan jiwa (penyakit), bahwa pengalaman sakit dan penderitaan berguna atau perlu bagi seorang sastrawan (misalnya dalam pemikiran Goethe, juga Nietzsche), atau bahwa seni mempunyai potensi untuk menyembuhkan orang yang sakit.

PENGOBATAN sendiri dipahami sebagai sebuah "seni" (the art of healing), dan hanya sejak makin majunya kedokteran biomedis/Barat sebagai sebuah "ilmu", aka mulai dibedakan antara "ilmu pengobatan" (the science of healing) dan "seni pengobatan". Di samping itu, keadaan sakit sebagai salah satu pengalaman manusia yang paling hakiki sudah dari dulu merupakan motif yang banyak dapat ditemukan dalam karya sastra, dan karena itu juga sangat layak dan perlu diteliti dalam kritik sastra.

Di Indonesia pun hubungan antara sastra dan pengobatan sebetulnya cukup erat walaupun tentu saja bentuk hubungan itu tidak sama dengan yang terdapat dalam tradisi Barat. Sayang sekali belum ada studi tentang sejarah hubungan antara seni dan pengobatan di Indonesia, sehingga ide-ide yang ada atau pernah ada tentang hubungan itu sulit kita nilai secara menyeluruh. Di sini saya hanya ingin menyebut salah satu contoh yang bagi saya tampak cukup menonjol, yaitu mantra: bukankah mantra sekaligus merupakan sebuah karya sastra tradisional dan sebuah sarana pengobatan? Kalau dalam dunia kedokteran Barat zaman sekarang kedekatan dunia sastra dengan dunia kedokteran yang paling menonjol adalah di bidang psikologi/psikoterapi, di Indonesia bukan orang yang punya gangguan jiwa saja yang diobati dengan kata-kata. Kepercayaan pada mantra adalah kepercayaan pada kekuatan kata: kata dapat membentuk realitas, antara lain dapat menyembuhkan dan juga menyakiti orang.

Studi literature and medicine merupakan sebuah bidang penelitian interdisipliner yang cukup banyak diminati, dan bahkan sejak tahun 1982 ada sebuah majalah khusus bernama Literature and Medicine diterbitkan oleh Universitas Johns Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat. Studi dalam bidang ini mulai dilakukan dengan serius pada akhir tahun 70-an, dengan studi awal yang penting antara lain esai panjang Susan Sontag, Illness as Metaphor (1978), dan kumpulan artikel "Medicine and Literature" yang dieditori oleh Enid Rhodes Peschel (1980).

Studi semacam itu dilakukan bukan hanya oleh kritikus sastra, tetapi juga oleh ahli di bidang kedokteran atau di bidang sejarah sains. Yang banyak dibahas adalah karya sastra (umumnya fiksi) dengan tokoh-tokoh dokter dan/atau orang sakit, antara yang sering diteliti misalnya novel The Magic Mountain Thomas Mann dan cerpen Tolstoy, The Death of Ivan Ilych. Di samping itu ada penelitian tentang sastrawan yang sekaligus dokter (misalnya penyair Amerika, William Carlos Williams), tentang "pathography" (tulisan otobiografis tentang pengalaman sakit), tentang guna ilmu sastra bagi dokter/calon dokter (di Amerika Serikat, literature and medicine merupakan bagian dari kurikulum di
fakultas kedokteran), dan lain-lain.

Dalam kritik sastra Indonesia belum banyak studi tentang motif penyakit dan pengobatan dilakukan, tapi walaupun demikian, terdapat juga beberapa tulisan singkat mengenainya (sayang sekali semuanya bukan dalam bahasa Indonesia!). Dua peneliti Belanda, de Josselin de Jong dan Jordaan, meneliti motif penyakit dalam teks-teks klasik dan menginterpretasikan bahwa dalam teks-teks tersebut menggambarkan seorang raja sebagai orang yang kena penyakit merupakan sebuah bentuk kritik politik (1985 dan 1986). Dalam sebuah artikel di jurnal RIMA (Australia), Helen Pausacker dan Charles A Coppel membahas hubungan antara cinta, penyakit, dan citra perempuan dalam novel-novel Melayu Pasar karya para pengarang Tionghoa Peranakan (2001). Peneliti Jerman, Helga Blazy, dalam bukunya tentang citra anak- anak dalam sastra Indonesia membicarakan "anak yang sakit" dalam satu bab tersendiri (1990). Dan CW Watson, seorang ahli sastra dan budaya Indonesia dari Belanda, membicarakan motif dukun dan ilmu hitam dalam sastra Indonesia dalam sebuah buku tentang "witchcraft and sorcery" di Asia Tenggara (1993).

Sebuah ciri penting situasi pengobatan di Indonesia adalah terdapatnya pluralisme sistem pengobatan di mana berbagai cara pengobatan yang berbeda-beda hadir berdampingan. Yang paling dominan di antaranya adalah pengobatan asli Indonesia (yaitu sistem pengobatan etnis tiap daerah yang pada umumnya termasuk humoral medicine dan memiliki elemen-elemen magis) dan pengobatan biomedis/Barat. Pluralisme ini membawa berbagai macam persoalan, terutama karena sistem kesehatan yang resmi (puskesmas, rumah sakit, pendidikan kedokteran di universitas, dan sebagainya) hampir seutuhnya berpegang pada sistem biomedis, sedangkan sistem pengobatan yang paling
dikenal dalam masyarakat tetaplah pengobatan asli Indonesia (tradisional). Untuk sebuah studi motif pengobatan/penyakit dalam sastra
Indonesia tentu keadaan yang penuh konflik ini sangat menarik. Adakah wujud konflik antarsistem-sistem pengobatan itu terdapat dalam sastra, dan bagaimana bentuknya?

Yang ingin saya lakukan di sini adalah sebuah perbandingan antara citra pengobatan tradisional (atau citra dukun) dan citra pengobatan biomedis (atau citra dokter). Studi perbandingan seperti ini belum banyak dikerjakan. Sampai sekarang kebanyakan tulisan dalam bidang literature and medicine merupakan studi tentang karya sastra Eropa dan Amerika Serikat yang hampir selalu berfokus pada sistem pengobatan biomedis yang dominan di Barat. Memang ada beberapa studi yang bersangkutan dengan sistem pengobatan nonbiomedis,
tetapi konflik antardua sistem yang berbeda jarang dijadikan fokus, begitu juga dalam artikel-artikel tentang motif penyakit dalam sastra Indonesia yang saya sebut di atas.Sebuah pengecualian yang menarik adalah artikel Barbara Corrado Pope (Literature and Medicine, Vol 8, 1989) tentang novel Lourdes karya sastrawan Perancis Émile Zola (1894) ya
ng mengisahkan tentang Lourdes, sebuah tempat di Perancis, di mana banyak orang sakit pergi berziarah dengan harapan akan disembuhkan secara ajaib. Novel ini bertemakan konflik antardua jenis pengobatan yang berbeda, yaitu pengobatan yang bercorak religius dan ilmu kedokteran.

Pada zaman Zola menulis novelnya itu terdapat perdebatan yang cukup sengit antara gereja Katolik (yang meyakini terjadinya keajaiban-keajaiban berupa penyembuhan spontan berkat campur tangan Yang Maha Kuasa di Lourdes) dengan dokter dan ilmuwan (yang tidak percaya akan adanya keajaiban semacam itu dan mengemukakan penjelasan alternatif tentang penyembuhan yang terjadi di Lourdes). Dalam konteks itu Zola dengan tegas menyatakan pendapatnya melalui novelnya bahwa "keajaiban" yang terjadi di Lourdes sebetulnya dapat dijelaskan secara medis sebagai sesuatu yang alami dan tidak ada ajaibnya. Tidak mengherankan kalau novelnya itu kemudian menimbulkan protes dari pihak gereja.

Lourdes merupakan salah satu contoh karya sastra yang digunakan untuk menyatakan pandangan tertentu tentang wacana kedokteran pada zamannya. Dengan memilih tempat berziarah Lourdes sebagai tema novelnya, sepertinya pengarang tidak bisa tidak mengutarakan pendapatnya dalam debat antara gereja dan ilmuwan yang sedang berlangsung pada masa itu. Kita sulit membayangkan bagaimana novel itu akan bisa ditulis tanpa adanya keputusan yang tegas (dari pengarangnya) apakah "keajaiban" mesti dipandang sebagai sesuatu yang nyata atau sebagai ilusi.


Supernatural

Situasi di Indonesia bisa dikatakan agak mirip dengan apa yang dilukiskan Zola dalam Lourdes, dalam arti bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat kepercayaan tradisional pada hal-hal "gaib" atau "supernatural" yang tidak diakui secara "ilmiah". Dalam sistem pengobatan asli Indonesia, penyakit biasanya diklasifikasikan sebagai penyakit yang "biasa" (alami) dan "luar biasa" (disebabkan oleh kekuatan gaib), sedangkan ilmu kedokteran biomedis tidak mengenal penyakit yang "luar biasa" seperti itu. Lalu apakah dalam karya sastra
Indonesia kita menemukan pernyataan pendapat pengarang yang tegas seperti dalam Lourdes tentang apakah kekuatan-kekuatan gaib yang dipercayai dan digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia itu benar-benar nyata atau hanya tahayul belaka?

Ketegasan seperti itu ternyata jarang kita temukan dalam karya sastra Indonesia. Dukun cukup sering terdapat sebagai tokoh yang biasanya dihubungkan dengan dunia kampung/desa, dengan orang tua atau orang kuno dan dengan pandangan hidup tradisional. Tetapi, kalau kita mengamati cerita mengenainya-terutama cerita yang berhubungan dengan hal-hal magis-dengan teliti, kita sering tidak menemukan jawaban yang tegas apakah kekuatan atau kejadian gaib itu dipandang sebagai sesuatu yang nyata atau tidak. Contoh yang mungkin paling menonjol adalah novel Ni Rawit, Ceti Penjual Orang karya AA Pandji Tisna (1935).

Walaupun balian (dukun), guna-guna, dan sejenisnya merupakan tema yang amat penting dalam novel itu dan dibicarakan dengan sangat rinci, pengarang dengan sangat lihai berhasil menghindar dari pernyataan sikap yang tegas mengenai ilmu perdukunan itu sendiri. Dalam novel tersebut diceritakan bahwa tokoh Ida Wayan berkonsultasi kepada seorang dukun dengan maksud untuk memikat gadis Dayu Kenderan yang dipujanya. Lalu kita mendapat informasi yang terperinci tentang cara pembuatan guna-guna untuk mencapai tujuan itu.

Penilaian moral atas perbuatannya itu pun cukup jelas dalam novel tersebut: memakai guna-guna bukan cara yang terpuji, dan Ida Wayan akhirnya menyesalinya. Tetapi, apakah guna-guna itu mempunyai kekuatan yang nyata? Tampaknya semua tokoh meyakini hal itu, tetapi pandangan narator/pengarang tentang hal tersebut sama sekali tidak jelas. Berkali-kali plot seperti dengan sengaja dibelokkan hingga tidak pernah terjadi situasi di mana akan terbukti apakah guna-guna itu akan mampu membuat Kenderan terpikat atau tidak.

Setiap kali Ida Wayan mencoba menggunakan guna-guna yang diperolehnya dari dukun, selalu saja ada halangan: dua kali guna-guna yang disembunyikan dekat pintu pagar tembok pekarangan rumah Kenderan ditemukan orang sebelum sempat dilalui Kenderan; mantra yang dimaksudkan untuk membuat Kenderan terpikat terhalang digunakan; ilmu sesirep yang dipakai dengan tujuan membuat penghuni rumah Kenderan tertidur pulas dan tidak menyadari ada orang memasuki pekarangannya ternyata mubazir karena rumah telah kosong pada saat itu.

Tampak dengan jelas bahwa walaupun ilmu gaib dilukiskan secara rinci dan cukup panjang lebar dalam novel Ni Rawit, pertanyaan apakah ilmu gaib itu nyata atau ilusi tidak terjawab, atau lebih tepat: sengaja tidak dijawab. Mengapa Zola secara tegas menyatakan pendapatnya tentang "keajaiban" dengan novelnya, Lourdes, sedangkan Pandji Tisna tampak dengan sengaja menghindari pernyataan pendapat seperti itu?

Ternyata, situasi di Indonesia pada saat Pandji Tisna menulis Ni Rawit cukup jauh berbeda dari situasi di Perancis pada masa Zola menulis Lourdes walaupun secara selintas pandang terkesan mirip. Kedua kekuatan yang bertentangan pada akhir abad ke-19 di Perancis (gereja dan sains) sama-sama besar meski dalam perkembangannya kemudian gereja bisa dikatakan kalah. Pertentangan itu berlangsung secara terbuka, dan dalam suasana seperti itu pernyataan sikap secara tegas seperti yang dilakukan dalam Lourdes merupakan hal yang wajar.

Di Indonesia, perdukunan dan kedokteran Barat tidak pernah menjadi dua kekuatan oposisi yang berhadapan secara frontal seperti itu. Pengobatan biomedis masuk ke Indonesia sebagai bagian dari budaya kolonial, dan itu berarti pengobatan tersebut dari awal sudah dipresentasikan sebagai yang paling baik, yang paling benar, yang "modern". Kalau dalam kasus Lourdes sulit dibayangkan bagaimana Zola mesti menulis novel seperti itu tanpa mengutarakan pendapatnya tentang debat yang sedang berlangsung, maka ada novel Ni Rawit justru sebaliknya: sikap menghindar dari pernyataan tegas tentang ilmu gaib terasa wajar dan masuk akal karena keputusan untuk melukiskan ilmu gaib sebagai tahayul ataupun sebagai kekuatan yang nyata masing-masing terlalu berisiko.

Seandainya dilukiskan sebagai kekuatan nyata, mana mungkin novel itu akan diterbitkan Balai Pustaka! Dan tentu pengarang akan kelihatan "kuno", ketinggalan zaman. Tetapi, seandainya dilukiskan sebagai tahayul, plot cerita akan menjadi kacau: semua tokoh, termasuk tokoh yang baik, akan terlihat "kuno", "kampungan" dan bahkan "bodoh" karena mempercayai sesuatu yang tidak nyata. Padahal, tokoh-tokoh itu berasal dari lapisan atas masyarakat Bali pada zaman itu, yaitu kaum Brahmana yang merupakan elite intelektual tradisional. Bukankah akan terkesan sebagai penghinaan pada masyarakat Bali seandainya pengarang mengambil jarak dari tokoh-tokoh itu dan menampilkan mereka sebagai "orang kampung" yang percaya pada tahayul!

Ambiguitas khas masyarakat pascakolonial semacam ini terdapat dalam kebanyakan karya sastra Indonesia yang menceritakan tokoh dukun walaupun, seperti sudah dikatakan di atas, Ni Rawit merupakan contoh yang agak menonjol. Bentuk ketidaktegasan tentang nyata atau tidak nyatanya ilmu/kejadian gaib sangat bervariasi: misalnya dalam novel Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1922) konsultasi beberapa tokoh dengan seorang dukun dilukiskan secara mendetail, tetapi kemudian cerita itu seperti tidak ada kelanjutannya, tidak diceritakan hasil usaha mereka untuk mencelakakan seorang tokoh yang tidak mereka sukai dengan ilmu hitam

Sedangkan dalam Para Priyayi (Umar Kayam, 1992) yang digunakan adalah cara bernarasi: pengalaman Lantip menyaksikan "kesaktian" seorang dukun diceritakan oleh Noegroho dengan mengambil jarak, dalam arti Noegroho mengatakan Lantip yakin akan apa yang dilihatnya, tetapi dia sendiri tidak percaya.Walaupun dalam banyak karya sastra Indonesia tampak sekali ada keraguan dalam menulis tentang dukun dan tentang kekuatan atau pengalaman gaib, keraguan itu hampir tidak pernah dibicarakan secara eksplisit. Biasanya fokus diletakkan pada elemen cerita yang lain. Yang sering ditekankan adalah penilaian moral tentang perdukunan, terutama bentuk-bentuknya yang dianggap "dosa", seperti guna-guna, jimat, sihir, dan sebagainya.Wak Katok dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis (1975), misalnya, merupakan tokoh dukun palsu yang jahat. Buyung, tokoh pemuda yang cerdas dan baik, yang pada mulanya sangat percaya dan tertarik pada "ilmu" Wak Katok, mengalami "pendewasaan" yang cukup dahsyat dan akhirnya dia bukan saja menyadari bahwa "ilmu" Wak Katok itu palsu, tetapi juga bahwa "ilmu" seperti itu sebetulnya
tidak perlu dan tidak baik.

Persoalan apakah "ilmu" seperti itu sebetulnya selalu palsu dan mustahil dimiliki manusia, atau apakah hanya Wak Katok saja yang "ilmu"-nya palsu, tapi dukun lain mungkin saja betul-betul memiliki kekuatan gaib, tidak dibahas dan menjadi tidak begitu penting. Pesan yang penting adalah bahwa manusia sebaiknya berusaha dengan "jujur" saja tanpa menggunakan bermacam-macam ilmu gaib, jimat, dan sebagainya, dan bahwa kepercayaan pada kekuatan gaib yang ada dalam masyarakat sebetulnya kurang menguntungkan karena dengan
mudah dapat disalahgunakan oleh "pemimpin" semacam Wak Katok.

Ringkasnya, tokoh dukun pada umumnya tokoh yang jahat atau paling tidak agak mencurigakan. Berbagai bentuk "ilmu" yang dipraktikkannya digambarkan sebagai sesuatu yang tidak baik atau "dosa", dan usahanya untuk mengobati orang sakit biasanya kurang efektif. Walaupun begitu, tentang nyata atau tidaknya kekuatan gaib yang dapat digunakan dukun atau yang terdapat pada alam atau benda-benda tertentu sering tidak ada sikap pengarang yang tegas.


Tokoh dokter


Lalu bagaimana dengan tokoh dokter? Kalau tokoh dukun kebanyakan negatif, sebaliknya dokter hampir selalu tokoh yang positif. Dokter sering digambarkan sebagai manusia yang penuh kasih sayang, ramah, dan baik. Hanya saja, kalau kita mencari informasi tentang ilmu pengobatan biomedis yang dipraktikkan tokoh-tokoh dokter tersebut, kita mesti kecewa: informasi semacam itu biasanya sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Kutipan dari novel Karena Mentua (Nur Sutan Iskandar, 1932) berikut ini hanya salah satu contoh untuk sebuah
kekhasan yang sering kita jumpai pada deskripsi konsultasi dengan dokter dalam sastra Indonesia:"Dukun telah banyak turun naik rumah. Kata mereka itu, Ramalah sakit karena dimantrakan oleh bekas suaminya. Mantra pembalik pun
dibacakan. Biasanya-kata dukun- karena mantra itu Ramalah mesti sembuh, dan Marah Adil sakit keras atau mati.
Akan tetapi karena lama-kelamaan Mak Guna terpaksa meminta pertolongan kepada dokter. Meskipun agak lama akan sembuh, tetapi dari sehari ke sehari perempuan yang malang itu berangsur-angsur baik pula" (hlm 217).Konsultasi dengan dukun dilukiskan dengan cukup rinci: kita diberi tahu tentang diagnosis menurut dukun itu dan tentang tindakan
medisnya.
Anehnya, pada deskripsi konsultasi dengan dokter, informasi yang seperti itu sama sekali tidak diberikan. Sakit apakah Ramalah menurut diagnosis dokter? Dan dengan cara apa dokter mengobatinya? Satu-satunya yang kita ketahui hanyalah bahwa dengan pertolongan dokter ternyata akhirnya Ramalah berhasil disembuhkan!

Yang kita temukan dalam penggambaran tokoh dokter dan pengobatan biomedis justru sebaliknya daripada yang kita lihat di atas dalam penggambaran dukun. Tindakan dukun biasanya diceritakan dengan cukup rinci, tetapi sering digambarkan sebagai tidak efektif atau tidak jelas keampuhannya. Tindakan dokter biasanya digambarkan efektif-kecuali kalau memang "ajal" si sakit sudah sampai hingga siapa pun tak dapat mengubahnya-tetapi informasi mengenainya sangat sedikit.Apa yang menyebabkan absennya informasi tentang pengobatan dan ilmu biomedis dalam deskripsi interaksi pasien dengan dokter tersebut? Kekurangan informasi itu sebetulnya tidak terlalu mengherankan kalau kita memperhatikan situasi pengobatan biomedis di Indonesia. Dibandingkan dengan dokter di Barat, dokter di Indonesia pada umumnya bisa dikatakan sangat "pendiam": kalau pasien tidak bertanya, dokter jarang memberikan keterangan tentang diagnosisnya. Biasanya informasi yang diberikan kepada pasien hanyalah keterangan seperlunya tentang pengobatan (dosis obat dan sebagainya). Sayang sekali, keadaan yang jelas kurang baik dan merugikan
pasien ini hanya sekali-sekali dikritik dalam karya sastra, sebaliknya biasanya karya sastra malah ikut dalam "konspirasi rahasia" semacam itu.

Mari kita kembali kepada perbandingan dengan novel Lourdes. Dalam menulis novel ini, Zola dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya, terutama oleh tulisan-tulisan JM Charcot, seorang ahli penyakit saraf yang bisa disebut pendahulu Sigmund Freud. Teori Charcot tentang penyakit "histeris" (sekarang lebih umum disebut psikosomatis) digunakannya untuk memahami apa yang terjadi dalam kasus-kasus "penyembuhan ajaib" di Lourdes.Apa yang dilakukan Zola itu sebetulnya mewakili apa yang terjadi dalam masyarakat Eropa pada umumnya pada zaman tersebut: Peran ilmu pengetahuan dan pandangan hidup yang rasionalis dan sekuler makin besar, sedangkan kepercayaan pada "keajaiban", pada "yang gaib" (dan juga pada agama) makin terdesak dan menghilang. Ini merupakan sebuah proses yang panjang, di mana dengan makin majunya ilmu pengetahuan, kepercayaan pada hal-hal yang gaib, agama, dan berbagai kepercayaan tradisional yang lain makin dinilai "tidak masuk akal" karena tidak dapat dibuktikan secara "ilmiah". Sebagai akibatnya, ilmu pengetahuan menjadi begitu penting di Eropa (atau di dunia
Barat pada umumnya) hingga menyerupai semacam "agama" baru.

Di Indonesia, seperti juga di negeri jajahan yang lain, "agama" baru itu diperkenalkan oleh penjajah, dan tentu karena itu dengan sendirinya tidak ada proses "penyadaran" atau rasionalisasi seperti yang terjadi di dunia Barat. Ilmu Barat begitu saja dihadirkan sebagai "yang modern" atau "yang unggul", tetapi berbagai macam bentuk ilmu dan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya tentu tidak menghilang begitu saja.Sebuah analisis yang tajam dan humoris atas keadaan ini bisa kita temukan dalam cerpen Idrus, Jalan Lain ke Roma (1948). Pada waktu orangtua tokoh utama memberikan nama padanya, mereka awalnya ingin menanyakan dukun apa nama yang baik bagi anak mereka itu. "Tapi, ini segera dibuangnya jauh-jauh. Mereka merasa hina berhubungan dengan dukun, karena di sekolah HIS dulu mereka belajar, bahwa dukun pembohong, tidak pintar, dan harus dijauhi, jika hendak selamat" (hlm 153). Pendidikan Barat membuat kedua orangtua merasa curiga pada dukun, tetapi pendidikan itu sendiri bukannya membuat mereka "menyadari" di mana letak "kekurangan" kepercayaan pada dukun tersebut, hanya membuat mereka mengikuti kata-kata guru tanpa mempertanyakannya.

Cara mereka kemudian mencari nama untuk anaknya pun sebetulnya sangat dekat dengan kepercayaan tradisional. Sang ayah bermimpi, lalu mimpi itu oleh istrinya diartikan sebagai "bisikan Tuhan". Di samping itu, sang ibu berharap nama yang diberikan akan mempengaruhi sifat anak itu. Jadi, apa yang biasanya dilakukan oleh dukun, yaitu mencari "wahyu" tentang nama yang tepat dan memilih nama yang akan punya pengaruh baik terhadap sifat dan keselamatan si anak, di sini dilakukan oleh kedua orangtua itu sendiri. Hanya saja, proses pemberian nama sedikit "dibaratkan": sang ayah bermimpi tentang Kota New York, dan kata Belanda openhartig (jujur) berdengking di telinganya, maka nama yang diberikan pada anak mereka: "Open".

\Dengan ironis Idrus melukiskan sebuah kecenderungan dalam masyarakat Indonesia, yang masih juga terdapat sampai sekarang: hal-hal yang terkesan "kuno" dan "kampungan" (di sini dukun) ditolak, digantikan dengan "yang Barat" atau "yang modern", tetapi "yang Barat" itu sebetulnya cuma terkesan Barat, "modern" permukaannya saja, sedang intinya tetap "tradisional".
Sayang sekali karya yang begitu segar dan kritis seperti cerpen Idrus tersebut tidak begitu sering ditemukan dalam sastra Indonesia. Idrus dengan tajam menyoroti inti persoalan masyarakat pascakolonial seperti Indonesia, tetapi kesadarannya itu bisa dikatakan merupakan pengecualian, mungkin karena teori pascakolonial pun belum begitu dikenal di sini.

Tidak selalu yang "kuno" dan "kampungan" itu begitu buruk atau bodoh sama sekali. Bukankah ide yang ada di balik mantra bahwa realitas merupakan sesuatu yang (dapat) dibentuk oleh kata, ternyata telah kita "temukan" kembali pada zaman pascamodern ini?Pluralisme sistem pengobatan di Indonesia di mana sistem biomedis menjadi sistem yang dominan, tetapi umumnya tidak dipahami dengan baik dan pengobatan asli Indonesia dikenal dan digunakan secara luas, tetapi kurang diakui dan dihargai tentu bukan sebuah realitas yang hadir begitu saja dengan sendirinya, tapi diciptakan mulai dari pendidikan Belanda pada zaman kolonial sampai sekarang. Penjajahan bukan hanya terjadi lewat kekerasan fisik, tetapi terutama sekali lewat sihir kata-kata (tekstualitas): misalnya lewat bacaan yang diedarkan kaum penjajah (antara lain buku-buku terbitan Balai Pustaka), iklan, pendidikan formal seperti yang digambarkan Idrus. Dan dalam wacana pengobatan tampaknya mantra yang digunakan penjajah cukup ampuh, paling tidak dalam membentuk nilai-nilai dalam masyarakat.

Oleh: Katrin Bandel Sedang meneliti motif penyakit dan pengobatan dalam sastra Indonesia untuk gelar doktornya di Universitas Hamburg, Jerman.


Sumber: Kompas Cyber Media

Share:

PEMILU SERENTAK 2019

PEMILU SERENTAK 2019

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers