Sunday, 22 June 2008

ANALISIS STRUKTURALISME DAN KONFLIK POLITIK DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA” KARYA MUSTOFA W. HASYIM

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, sintesis dan mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. Sebagai kreasi, sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan mencptakan dunia baru meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya. Sastra bersifat otonom karena tidak mengacu pada suatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Sastra juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya sastra mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan (Luxemburg, dkk. Terj.. Hartoko, 1989 : 5 – 6).
Berbicara mengenai sastra tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai ilmu sastra. Ilmu sastra saat ini sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri dan mapan. Menurut Wellek dan Warren, ilmu sastra terbagi menjadi tiga bagian, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra bergerak di bidang teori, misalnya mengenai pengertian sastra, hakikat sastra, gaya sastra, dan lain-lain. Sejarah sastra bergerak di bidang sejarah perkembangan sastra. Kritik sastra bergerak di bidang penilaian baik buruknya karya sastra (Pradopo, 1997 : 9). Dalam karya ilmiah ini penulis lebih banyak berbicara dari persepektif cabang kritik sastra karena cabang itulah yang banyak memberikan gambaran hubungan sastra dan politik.


1.2 BATASAN MASALAH
Masalah yang diangkat dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini penulis memberikan batasan pada:
a. analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.3 TUJUAN PENGKAJIAN
Dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini terdapat dua tujuan pengkajian yaitu:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim adalah untuk memenuhi tugas matakuliah Apresiasi Prosa yang di bina oleh Ibu Yerry Mijiyanti, SS.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul Analisis Strukturalisme dan Konflik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim ini adalah sebagai berikut :
a. mengetahui analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. mengetahui konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.4 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tujuan khusus di atas dapat dirumuskan beberapa masalah. Adapun rumusan masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. bagaimanakah analisis struktural dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim;
b. bagaimanakah konflik politik dalam Novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim.

1.5 METODE PENGKAJIAN
Dalam mengkaji masalah yang diangkat dalam penulisan karya ilmiah ini memakai metode pustaka karena menggunakan pendekatan analitis, yaitu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun maknanya (Aminuddin, 1987 : 44)
BAB II
PENGARANG DAN KARYANYA

2.1 BIOGRAFI PENGARANG
Mustofa W. Hasyim, lahir di Yogyakarta 17 Nopember 1954. Masa kanak-kanak dan remaja dihabiskan di Kotagede. Pendidikan terakhir ditempuh di FIAD UMY Yogyakarta. Belajar menulis di Balai Pendidikan Wartawan Jakarta, serta di komunitas sastra dan teater di PSK (Persada Studi Klub), Kelompok Insan Harian Masa Kini Yogyakarta, Kelompok Poci Bulungan Jakarta, Teater Melati Kotagede, kemudian mengembangkan diri di berbagai komunitas di Yogyakarta, seprti Sanggar Sastra dan Teater (SST) Sila, Yayasan Budaya Masyarakat Indonesia (Yabumi), Yayasan Pondok Rakyat (YPR), Panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan Dewan Kebudayaan Kota (DKK) Yogyakarta.
Menjadi editor sejak tahun 1982, menjadi wartawan dan pimpinan redaksi di berbagai koran, majalah, dan jurnal sejak tahun 1979. ikut aktif melakukan pendampingan pengembangan kesenian dan kerajinan di pondok pesantren di komunitas tradisional Kotagede.

2.2 KARYA-KARYA PENGARANG
Karya-karyanya antara lain. Reportasi yang Menakutkan (Puisi), Ki Ageng Miskin (Puisi), Beragama Sekaligus Berhati Nurani (esai), Membela Tekstil Tradisional (Esai), Hari-hari Bercahaya (Novel), Hijrah (Novel), Mudik (Kumpulan cerpen bersama), Terompet Terbakar (Kumpulan cerpen bersama), Kopiyah dan Kun Fayakun (Kumpulan cerpen tunggal), Naskah sandiwara Radionya pernah disiarkan di Radio PTDI kota Perak.Selepas tahun 1980an sampai 2004 telah menulis novel Sepanjang Garis Mimpi, Pergulatan, Hari-hari Bercahaya, Kesaksian Bungan atau Hijrah, Arus Bersilangan, Kali Code, Pesan Api-api, Di Atara Seribu Masyitoh, Perempuan Yang Menolak Berdandan, dan Serat-serat Cinta.



BAB III
PEMBAHASAN


3.1 ANALISISN STRUKTURAL DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM
3.1.1 Judul
Salah satu unsur novel yang mudah dikenal adalah judul, karena judul merupakan lapisan paling luar suatu novel. Menurut Padmopuspito (1980 : 11 – 12) judul suatu novel mempunyai bermacam-macam pertalian, antara lain:
a. judul yang menunjukkan atau menyarankan tempat berlakunya cerita, dapat dikatakan semacam “setting”;
b. judul yang menyebutkan nama tokoh penting atau pelaku utama suatu novel. Nama yang dimaksud di sini tidak selamanya nama diri, ada kalanya gelar atau profesi tertentu;
c. judul berfungsi sebagai tumpuan cerita;
d. judul sebagai objek cerita;
e. judul merupakan tujuan suatu kejadian;
f. judul sebagai kembang atau simbol peristiwa yang terjadi di dalam novel.
Dari uranian di atas judul novel Burung Tak Benama Karya Mustofa W. Hasyim termasuk pertalian yang ke tujuh, yaitu judul sebagai kembang atau simbol peristiwa yang terjadi di dalam novel.
Burung tak bernama disini ,enunjukkan simbol pada tokoh utama yang jika dikaitkan dengan tema atau permasalahan novel ini, yaitu tokoh utama menginginkan suatu jbebasan layaknya se ekor burung, bebas dari nama-nama yang di sandang selama hidup di masa lalunya, menjadi intelijen, sehingga dia melarikan diri pada suatu daerah terpencil di pegunungan.
Usaha untuk menghilangkan nma diri memang berhasil selama dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari dalam sebulan. Tetapi, pada satu hari lelaki itu harus lengkap dengan nama yang pernah diberikan orang tuanya. Ia terpaksa, sebab kalau ia tidak mau menggunakan namanya, yang baginya selalu membuat malu dan penuh rasa berdosa, ia tidak bakalan dapat uang pensiunan sebagai jendra. (BBT ; 15)

Dari uraian di atas tokoh utama sudah memiliki niat dari semula untuk menghilangkan nama-nama ia emban menginginkan kebebasan seperti burung tak bernama.

3.1.2 Tema
Setiap karya sastra harus mempunyai dasar cerita atau tema yang merupakan persoalan utama dari sejumlah permasalah yang ada. Tema dapat menjalin rangkaian cerita secara keseluruhan. Penggambaran tokoh, latar maupun alur semuanya mengacu pada pokok pikiran yang sama. Sumarjo, dkk. (1991:56) menyatakan, tema adalah ide sebuah cerita pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita, tetapi mau mengatakan sesuatu pada pembaca. Sesuatu yang mau dikatakan itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau komentar terhadap kehidupan oleh idr pengarang tersebut.
Bagaimana cara menetukan tema dari karya sastra. Dari sebuah sastra mungkin banyak persoalan yang muncul, tapi tentulah tidak semua persoalan itu bisa dianggap sebagai tema. Untuk menentukan persoalan mana yang merupakan tema, pertama tentulah dilihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua secara kuantitiaf, persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik, konflik yang melakukan peristiwa. Cara yang ketiga ialahmenceritakan peristiwa-peristiwa ataupun tokoh-tokoh di dalam sebuah sastra ( Esten, 1982:92)
Menurut S Tasrif tema ada dua yaitu tema mayor yang mengacu pada tokoh utama sebagai pokok pikiran, dan tema minor sebagai bagian dari cerita yang mengacu pada tokoh bawaha.
Tema mayor dalam novel ini adalah usuha menghilangkan nama-nama yang digelar oleh seorang tokoh, nama-nama yang tidak perlu, nama yang semu, nama yang antara bunyi dan maknyanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya.
Tema minor tersirat dalam beberapa perilaku tokoh bawahan. ”suatu pemberontakan atau politik yang mengatasnamakan agama” tema minor ini mengacu pada masa lalu Ki Wono dan masyarakat kalangan pesatren di masa lalu.

Masalahnya, waktu itu ia tak sendirian dan tak mungkin mebeberkan data dari paman istrinya kemana-mana. Bkti-bukti pendukung data itu sangat minim sehingga tidak dapat doipergunakan untuk menindak mereka. Hanya saja bekas anggota Kelabang Merah itu hampir dipastikan tinggal atau bertugas di Jawa Timur, sendang anggota Gagak Hitam pernah tinggal atau bertugas di Jawa Tengah dengan pusatnya di sekitar gunung merbabu dan merapi menyebar ke utara, timur dan selatan.....(BTB:35)

Data di atas mengisahkan suatu kisah pokitik antara dua partai yang menguasai dan mengatasnamakan agama, sehingga di atas mengacu pada Ki Wono dan aggota-anggota partai.
Kerusakan alam karena ulah manusia dan ide-ide orang-orang kota, tema minor seperti ini juga terdapat dalam novel Burung Tak Bernama, seperti terlihat pada data berikut.
”Ya, sejak hadirnya lapangan golf itu air yang masuk ke dusun kita berkurang. Ketika di bawah sana perumahan banyak dibangun, air untuk kita menjadi tersendat. Nah sekarang berdiri pabrik air minum dalam kemasan. Semua menambah susah saja.” (BTB : 80)

Data di atas menunjukkan kerusakan alam seuatu pedesaan karena kebutuhan kota dan tangan-tqangan orang kota, sehingga yang dirugikan adalah orang-orang desa yang lebih dekat dengan alam.

3.1.3 Plot atau Alur
Plot atau alur adalah struktur rangkaia kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah inter-relasi fungsional yang sekaligus fiksi. Dengan demikian, alur ini merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita. Dalam pengertian ini alur merupakan rangkaian suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang merupakan rangkaian pola tindak tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat di dalamnya. Alur suatu cerita sangat erat hubungannya dengan unsur-unsur yang lain seperti perwatakan, setting, suasana lingkungan, begitu juga dengan waktu.
Berdasarkan hubungan antara tokoh-tokoh dalam cerita, yang biasanya ditentukan oleh jumlah tokoh, maka alur terbagi menjadi dua bagian seperti yang dikemukakan oleh Semi( : ), ” Alur yang bagian-bagiannya diikat dengan erat disebut alur erat, sedangkan diikat dengan longgar disebut alur longgar. Biasanya alur erat ditemui pada cerita yang memiliki jumlah pelaku menjadi lebih sering dan membentuk jaringan yang lebih rapat”, alur dapat dibagi atas dua bagian, yaitu alur maju dan alur sorot balik yaitu bercerita mundur (flas back) tidak berurutan, tidak kronologis.
Bila dilihat menurut urutan peristiwa novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim termasuk dalam alur sort balik (flas back) ialah rangkaian peristiwa dijalin tidak beruurtan, tidak kronologis. Dikaitkan dengan isi cerita yang di emban oleh tokoh utama di sini banyak menceritakan masa lalu dan kemudian kembali lagi ke masa sekarang, dan di saat tertentu kembali lagi ke masa lalu.

3.1.4 Penokohan atau Perwatakan
Biasanya di dalam suatu cerita fiksi terdapat tokoh cerita atau pelaku cerita. Tokoh cerita bisa satu atau lebih. Tokoh yang paling banyak peranannya di dalam suatu cerita disebut tokoh utama. Antara tokoh yang satu dengan yang lain ada keterkaitan. Tindakan tokoh cerita ini merupakan rangkaian peristiwa antra satu kesatuan waktu dengan waktu yan lain. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tokoh tentu ada penyebabnya dalam hal ini adalah tindakan-tindakan atau peristiwa sebelumnya. Jadi mengikuti atau menelusuri jalannya cerita sama halnya dengan mengikuti perkembangan tokoh melalui tindakan-tindakannya.
Robert Stato dalam Semi ( : ) menyatakan, yang dimaksud dengan perwatakan dalam suatufiksi biasanya dipandang dari dua segi. Pertama mengacu kepada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita, yang kedua adalah mengacu kepada perbauran dari minat, keingina, emosi, dan moral yang membetuk individu yang bermain dalam suatu cerita.
Jadi perwatakan mengacu kepada dua hal yatu tokoh itu sendiri dan bagaimana watak atau kepribadian yang dimiliki tokoh tersebut. Dalam suatu cerita fiksi, pengarang menggambarkan atau memperkenalkan bagaimana watak sang tokoh melalui dua cara yaitu dengan terus terang pengarang menyebutkan bagaimana sifat tokoh dalam cerita, misalnya keras kepala, tekun, sabar, tinggi hati atau yang lain, dan yang keuda yaitu pengarang menggambarkan.
Aminuddin ( (1987 : 80 – 81) menyatakan, dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusuri lewat (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pwlakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan maupun cara berpakaian, (3) menunjukkan bagaimana perilakunya, (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya, (8) melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain memberikat reaksi terhadapnya, dan (9) melihat bagaimana tokoh itu dalam memberikan reaksi tokoh yang lainnya.
Sesuai dengan pendapat Aminuddin di atas maka watak tokoh utama yaitu Ki Wono dapat diketahui dengan cara melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain memberikan reaksi terhadapnya.
”kami harap Ki Wono mau menerima hadiah dari kami sebnab Ki Wono telah beberapa kali menyelamatkan dusun ini,” begitu kata Pak Dukuh.
Ki Wono berdebar-debar namun yang hadir duduk melingkar tanpak tersenyum-senyum (BTB : 118)

Data di atas menunjukkan sifat dan kebaikan Ki Wono yang sudah berulang kali menolong desa tersebut, sehingga Ki Wono mendapatkan hadiah dari penduduk yang di tempati oleh Ki Wono.
Dari data di atas juga biasa dijadikan sebagai data watak para penduduk tersebut, yaitu mempunyai watak baik hati, mempunyai sifat balas budi..

3.1.5 Pelataran atau Setting
Suatu cerita dapat terjadi pada suatu tempat atau lingkungan tertentu. Tempat dalam hal ini mempunyai ruang lingkup yang sangant luas, termasuk nama kota, desa, sungai, gunung, lembah, sekolah, rumah, toko, dan lain-lain. Unsur tempat sangant mendukung terhadap perwatakan, tema, alur serta unsur yang lain.
Seseorang yang hidup dilingkungan sekolah tertenu secara umum akan mempuyai watak yang berbeda dengan orang yang tinggal di lingkungan kebun, atau yang dibesarkan di desa tertentu akan memiliki watak yang berbeda dengan orang yang lahir dan dibesarkan di kota (secara umum).
Unsur waktu juga bagia yang tidak terpisahkan dalam suatu cerita. Suatu cerita dapat terjadi pada suatu saat tertentu,misalnya pada abad XX, pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, ketika musim hujan, ketika musim semi, tahun, bulan, hari dan sebagainnya. Lingkungan terjadinya peristiwa-peristiwa atau suasana seperti orang-orang di sekitar tokoh atau juga benda-benda di sekitar tokoh termasuk ke dalam latar belakang atau setting.
Dalam hal ini Hayati (1990 : 11) menyatakan, latar atau landasan tumpu, adalah gambaran tempat, waktu, atau segala situasi di tempat terjadinya peristiwa. Latar cerita tertentu dapat menimbulkan suasana tertentu.
Da dua jenis setting yang bersifat fisikal dan setting bersifat psikologis. Setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan tempat, waktu, misalnya kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah dan lain-lain, serta benda-beda dalam lingkungan yang tidak menuansakan makna apa-apa, sedangkan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu menagajuk emosi pembaca.
Setting tepat yang digunakan dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim adalah di suatu tempat atau di suatu dusun di dekat lereng pegunungan yang terdapat umbul sunan, seperti pada data di bawah
”Padahal sejak zaman Sunan kali jaga dulu air dari umbul bebas diperuntukkan bagi warga dusun ini. Dusun paling dekat dan selama ratusan tahun sejak simbah-simbah sudah dipercaya merawat umbul. (BTB : 80)

Dari data di atas sudah jelas menujjukkan setting di suatu dusun dekat lereng pegunungan yang mempunyai sebuah umbul. Selain setting di suatu desa juga terdapat setting di perkotaan, di dalam sebuah ndelem suatu keraton kerajaan solo, seperti pada data di bawah ini.
”Tidak Mas, Saya dan para Den Ayu yang tinggal di Ndelem-Ndelem Njoron Beteng atau yang tinggal di rumah-rumah Joglo kuno selalu punya kesibukan,” Jawab istrinya. (BTB : 20)

”Ya. Saya dikenalkan sebagai istri Mas, tapi yang dikenalkan adalah nema gelar kebangsawanan yang Mas peroleh dari Keraton Solo itu .......”(BTB : 21)

Dari kedua data di atas sudah jelas menujjukkan suasana di dalam sebuah keraton.

3.1.6 Sudut Pandang (Poin Of View)
Titik kisah adalah posisi pengarang dalam suatu, atau cara pegarang memandang suatu cerita. Posisi pengarang suatu cerita dapat dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu (1) pengarang sebagai pelaku cerita, (2) pengarang sebagai peninjau, (3) pengarang sebagai engamat yang serba tahu.
a. Pengarang dikatakan sebagai pelaku apabila ia terlibat langsung dalam cerita itu. Ia sebagai salah satu tooh dalam cerita itu, baik sebagai tokoh utama maupun tokoh sampingan.
b. Pengarang dikatakan sebagai peninjau apabila ia seolah-olah sebagai pelapor dalam cerita itu. Dalam kedudukannya sebagai pelapor yang dilaporkan hanya hal-hal yang bersifat umum dan yang layak dilaporkan hanya hal-hal yang bersifat umum dan yang layak dilaporkan. Ia tidak akan melaporkan hal-hal berkecil-kecil yang memang tidak mungkin dilaporkan.
c. Pengarang dikatakan sebagai pengamat yang serba tahu apabila ia mengamati, dan melaporkan segala seseuatu peristiwa yang ada pada cerita. Keserba tahuan ini ditandai dengan kejelaiannya menggambarkan setiap peristiwa, sifat-sifat tokoh, gerak-gerik tokoh, dan suasana perisiwa.
Secara mudah, penentuan jenis posisi pengarang dalam suatu cerita dapat dilihat dari pemakaian kata ganti dalam cerita itu, pemakaian kata gantik aku, kami, kita, awak, pada suatu cerita berarti pengarang sebagai pelaku, sedangkan apabila memakai kata ganti orang ketiga (Dia, mereka), berarti pengarang sebagai peninjau atau pengamat serba tahu.
Sesuai dengan penjelasan di atas pengarang dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim dikatakan sebagai pengamat yang serba tahu, karena pengarang disini menggunakan nama atau kata ganti orang ketiga, kemudian pengarang banyak menggambarkan setiap peristiwa, gerak-gerik tokoh secara mendetail, seperti pada kutipan di bawah ini.
”Entah siapa yang mengusulkan, tiba-tiba muncul ide bumi hangus. Saat itu ia merasa kalangan militer, temasuk jaringan intelnya, telah terbagi lebih dari dua kubu. Mereka bermain menjatuhkan kubu saingan...........” (BTB :70)

Data di atas menunjukkan kejelian pengaran dalam menggambarkan suatu cerita, pengarang serba tahu kejadian-kejadian yang ada dan menceritakan secara mendetail.

3.1.7 Konflik
Dalam kebanyakan fiksi terdapat suatu perjuangan, pertentangan konflik tempat tokoh utama berjuang mati-matian untuk segala kesukarang demi tercapainya tujuannya. Sementara orang beranggap bahwa keseukaran atau halangan yang harus dihadapi oleh tokoh utama itu berupa benda-benda konkrit atau manusia. Hal itu tidak selalu benar.
Wellek dan Werren (1990:285) menyatakan konflik adalah sesuatu yang ”dramatik” mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang, menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.
Tarigan (1986:134) menyatakan, terdapat beberapa ragam konflik, misalnya saja mungkin terdapat konflik antara :
a. manusia dengan manusia;
b. manusia dengan masyarakat;
c. manusia dengan alam sekitar;
d. suatu ide dengan ide lain;
e. seseorang denga kata hatinya.
Jenis konflik a, b, dan c di ata dapat kita sebut konflik fisik, konflik eksternal, konflik jasmaniah; sedangkan jenis d dan e kita sebut konflik psikologis, konflik internal, konflik batiniah.
Konflik jasmani yang ada dalam Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyimyaitu konflik antara manusia denga alam, dan manusia dengan masyarakat, terutama antara masyarakat pedesaan dengan perkotaan yang mempermasalahkan kurangnya air yang digunakan yang berasan dari umbul yang disebut oleh orang-orang kota untuk kebutuhannya. Seperti pada kutipan berikut.
”Dalam waktu dekat lairan dan Umbul Sunan yang masuk ke desa akan digilir.” Kata Pak Dukuh.
”Maksud Pak Dukuhbagaimana?” tanya lelalki yang tadi berjalan bersama Ki Wono.
”Saya tadi dipanggil ke Kelurahan. Di sana saya diberi pengumuman bahwa air Umbul Sunan sekarang harus dibagi kebanyak pihak yang berkepentingan. Misalnya untuk mengairi lapangan Golf yang rumput impornya selalu haus air. Juga untuk mengairi perumahan-perumahan yang banyak dibangun di bawah sana. Kemudian untuk memberi pasojan bagi dua pabrik air minum dalam kemasan yang belum lama diresmikan gubernur, dan untuk langganan air ledeng bagi penduduk kota”. (BTB : 79 – 80)

Dari kutipan novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim di atan menujjukan konflik antara orang kota dengan orang-orang penduduk desa yang sudah lama merawat alam sekitarnya dan sekarang harus direbut oleh orang-orang kota.
Konflik batin yang terdapat dalam novel Burung Tak bernama Karya Mustofa W. Hasyim juga terjadi pada tokoh utama, yaitu Ki Wono yang mempunyai pemikiran usaha untuk menghilangkan nama-nama yang semu, nama-nama yang antara bunyi dab maknanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya, seperti pada kutipan berikut.
Dalam hati lelaki itu mengleuh. Usaha utnuk menghilangkan nama dan hidup tanpa nama gagal, ia justru mendapatkan namanya kembali. Ditambah nama sebutan yang diberikan warga dusun. Istri muda itu kadang bercanda dengan dua nama itu. Terutama kalau perempuan muda itu ingin mengajak bercanda sebelum tidur bersama, di malam hari, dan waktu-waktu lain ketika mereka berdua membutuhkan. Kadang memanggil suami dengan Kangmas Jendral, kadang memanggil dengan Kangmas Wono. Lelaki itu membiarkan. Mungkin sudah menjadi takdirnya untuk tetap harus menyandang nama, manusia dan nama, nama dan manusia, dua hal yang berhubungan, tetapi dalam sejarah justru nama paling penting....... (BTB : 206)

Data di atas mnunjjukkan kegagalan tokoh utama untu8k menghilangkan nama-nama yang dia emban, misalnya nama jendral yang pernah dia sandang.


3.2 KONFLIK POLITIK DALAM NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM
Perkembangan sastra Indonesia pasca 1965 terlepas dari faktor situasi sosial politik masa awal kelahiran orde baru. Pada perikode tersebut terjadilah peristiwa penting baik pada bidang sosial politik, maupun kebudyaan. Dalam bidang kebudayaan termasuk di dalamnya kesusastraan, peristiwa yang cukup penting dan menentukan bagi kehidupan kesusuastran untuk masa berikutnya adalah kemenangan kubu. Minikebu dengan paham humanisme universalnya dan kekalahan kubu Lekra dengan paham realisme sosialnya. Teeuw (1986:43) mencatat bahwa bidang kebudayaan, segala macam kelompok dan perorangan, yang praktis tutup mulut sejak 8 Mei 1964, menjadi kembali bergerak dan mulai memperdengarkan suara mereka. Koran-koran dan majalah yang pernah dilarang pada masa Orde Lama, memulai kembali penerbitannya. Juga terbit majalah baru, yakni Horison sebagai majalah sastra.
Konflik politik novel Burung Tak Bernama Karya Mustofa W. Hasyim merupakan konflik yang dominan. Konflik tersebut meliputi hampir keseluruhan cerita. Konflik tercermin dalam tema, alur, dan pernokohan.
Novel Burung Tak Bernama mengisahkan pertentangan tokoh utama di masa lalunya dengan adanya golongan-golongan atau menggelar semacam operasi yang menentukan hidup mati orang banyak hanya dari pertemuan kelompok orang yang (merasa) pintar. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama, menghabisi potensi ekonomi global dapat masuk dan mengobrak-abrik potensi ekonomi kaum santri, mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah. Hal ini disebutkan secara eksplisit oleh pengannya.

Dengan panjang lebar pangeran itu menjalankan bagaimana penerapan strategi amangkurat itu di kemudian hari berlangsungan dengan cara yang kasar dan cara yang halus. Cara yang kasar dilakukan lewat intrik dengan target mengorbankan mereka. Biasanya mereka dipancing agar marah dan frustasi kemudian dijebak agar masuk dalam blunder politik, baru kemudian dihajar habis-habisan. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama itu sebenarnya sudah dicegah jauh-jauh oleh para pemimpinIslam senior, tapi kurirnya dihambat atau dihabisi di tengah jalan agar perontakan yang ditargetkan oleh pihak-pihak intelejen militer betul-betul meletus............”(BTB halaman 44)

Data di atas menggambarkan konflik politik-politik yang dilakukan oleh para intelejen, banyak kasus pemberontakan yang menghancurkan para santri dengan berbagai cara atau politik-politik lainnya. Konflik politik yang terdapat dalam novel ini semakin jelas dengan adanya gelombang seperti organisasi rahasia Gagak Hitam dan Kelabang Merah kedua Organisasi ini sangat berperan penting dalam konflik politik dalam novel ini. Atau lebih jelasnya konflik politik lebih banyak tergambarkan dalam novel ini pada bagian tiga. Pada bagian ini banyak menceritakan hal-hal politik yang menjadi bayang-bayang dalam benak tokoh utama dan akhirnya tokoh utama menghindar dari sebuah Ndelem untuk menghilangkan gelar-gelar yang dia miliki, tokoh utama menginginkan sebuah nama itu tidak ada sebuah nama yang tidak ada kaitannya dengan bunyi dan makna. Akan tetapi dalam usahanya suatu ketika dia tetap juga menggunakan nama-nama itu untuk kepentingan sosial dalam masyarakat pegunugan.
Dulu ia begitu penuh siasat. Menggelar bermacam-macam operasi. Menentukan hidup mati orang banyak hanya dari pertemuan sekelom[ok orang-orang yang (merasa) pintar. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama; menghabiskan potensi ekonomi kaum santri agar kekuatan ekonomi kaum santri, mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah, menghadirkan pasar alternatif bernama Supermarket, swalayan, mal, serta supermal dengan mengundang raksasa-raksasa ritel kelas dunia. Kaum inilah yang kemudian menjadi konflik untuk meledakkan berbagai kerusuhan.
Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers