Saturday, 7 June 2008

SASTRA DAN PEMBACA DI INDONESIA


By : Arief

Sebelum melihat tingkat keterbacaan sastra masyarakat Indonesia, ada baiknya kita mncermati hasil pengamatan Teeuw (1994) tentang keberaksaraan di Indonesia. Pada masa ini sebenarnya Indonesia mengalami empat tahap sekaligus. Di berbagai daerah paling tidak di pelosok-pelosoknya, tahap kelisanan yang cukup murni masih terdapat. Kemudian tahap kebudayaan khirografik, dalam berbagai lingkungan di mana pembacaan naskah sudah lazim dan masih lazim. Kemudian tahap tipografik sudah mulai dimasuki sejak awal abad ke dua puluh oleh makin banykanya orang, khususnya lewat pendidikan modern. Akhirnya tahap elektronik, dengan kelisanan sekunder, juga sudah luas dihayati orang; diantaranya ada golongan terdidik yang sebelumnya atau sekaligus juga menghayati kebudayaan tipografik, tetapi mungkin ada golongan cukup besar yang masuk tahap keempat ini tanpa interiarization of print cultural, pembatinan atan pencernaan tahap membaca yang sungguh-sungguh.

Kesimpulan yang dikemukakan oleh Teeuw di atas berdasarkan pengamatan berbagai fenomena yang ada di Indonesia. Pertama, di Indonesia banyak orang yang sudah pandai membaca, tetapi belum mengembangkan kebiasaan membaca demikian juga dengan di lingkungan keluarga. Kebijakan pemerintah juga lebih menguatkan keberadaan tradisi kelisanan seperti kolompencapir. Kedua, pendidikan yang berlangsung masih berorientasi kelisanan. Ini terlihat dari bahasa tulis yang digunakan . situasi kuliah masih dialami sebagai situasi penyampaian pengetahuan secara lisan; formula, skema-skema bahan yang harus dan dapat dihapalkan. Orientasi kelisanan dan teori ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian Teeuw, dalam banyak ususlan penelitian bagian yang diwajibkan berjudul “Landasar Teori” sering terdiri dari rangkaian kutipan atau rumusan, “formula” yang diambil dari berbagai karya ilmiah yang dianggapnya berwibawa, tetapi dengan rangkaian yang kacau atau sama sekali tanpa argumentasi ilmiah. Selanjutnya Sweeney (dalam Teeuw, 1994: 34) mengatakan bahwa pengajaran sastra Indonesia hampir seluruhnya terdiri atas formula terapung; formula-formula itu-itu saja terapung dari buku yng satu ke buku yang lain. Satu formula disambung secara praktis atau kumulatif dengan formula lain, informasi yang singguh baru tidak ada, “pengetahuan” semacam ini hanya dapat dihapalkan, tanpa mempunyai daya kembang bagi otak murid-murid; terjadi semacam fosilisasi informasi.

Danpak dari tradisi membaca yang lemah, mengakibatkan kebiasaan membaca pun lemah. Menarik apa yang dikemukakan oleh Sudewa (2000) bahwa bersastra belum merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Mereka enggan menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli karya sastra atau menikmati karya seni yang lainnya. Kita mendapatkan data yang sungguh sangat memperihatinkan, bahwa sebagian besar kaum terpelajar ata kaum muda bahkan sampai mahasiswa tidak begitu tahu tentang kehidupan dan keberadaan karya sastranya apalagi menikmatinya. Data ini dapat dilihat dari kebiasaan membaca siswa SMU yang nol buku (penelitian Taufik Ismail, 1998)

Selain dari pihak pembaca juga pola piker para pemegang kebijakan birokrat mapun yang memiliki otoritas di bidang pendidikan masih meyakini bahwa kemajuan IPTEK yang tinggi dan maju akan bias menyejahterakan rakyat dan mendamaikan hati sebuah negeri. Bangsa ini senantiasa dimanipulasi untuk mengusai semua itu. Dalam bidang pendidikan formal, system yang dianut atau ditiru berorientasi kepada Negara-negara Barat yang memiliki paham kapitalisme.

Ada beberapa sebab mengapa bangsa kita terlalu berorientasi kepada kemajuan teknologi dan meminggirkan karya seni atau karya sastra.

  1. Karya sastra dipandang tidak mempu mengembangkan atau memajukan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

  2. Karya sastra dipandang sebagai suatu produk masyarakat yang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga karya sastra menjadi terasing dari kehidupan bangsanya.

  3. Karya sastra dipandang sebagai suatu karya yang sangat subjektif yang hanya mampu mengemukakan nilai-nilai kehidupan yang subjektif pula sehingga dianggap suatu karya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

  4. Karya sastra dipandang sebagai suatu produk masyarakat yang bersifat dstruktif yang dapat membahayakan kehidupan bangsa dan terutama para penguasa.

  5. Karya sastra sebagai suatu dunia yang memiliki tingkat sosial yang rendah bagi orang yang menekuni dunia ini dipandang sebagai kelompok masyarakat pinggiran.


Pandangan tersebut di atas menjadi benar bagi kelompok orang yang memakai kacamata kapitalisme dalam memandang dunia sastra. Kaum lkapitalis cenderung mengabaikan hati nurani dunia setiap gerak langkahnya. Sedangkan, dari kacamata kaun humanis maka pola pikir seperti itu merupakan suatu bencana yang sangat menghkhawatirkan. Kenyataannya, bangsa kita sedang mengalami degradasi rasa kemanusiaan terjadi di mana-mana.

Beberapa akibat yang terjadi dari penyebab tersebut.

  1. Terjadi pendangkalan kualitas rasa atau humanis dari bangsa kita sehingga langkah bangsa ini menjadi tidak terkontrol.

  2. kehidupan karya sastra Indonesia menjadi mandeg di negeri sendiri, bahkan semakin dianggap tidak berarti.

  3. kurangnya minat masyarakat mendalami karya sastra atau masuk ke Jurusan Sastra Indonesia karena dianggap tidak memiliki kelas sosial yang tinggi di masyarakat.


Melihat keprihatinan terhadap lemahnya membaca sastra di kalangan bangsa Indonesia Lukaman Ali (dalam Sudewa, 2000: 161) mengemukakan beberapa upaya yang dilakukan dengan mengarahkan pada tujuan pengembangan: a) meluaskan wilayah pembaca atau penikmat sastra enggan menanamkan apresiasi sastra lebih mendalam: b) meningkatkan mutu hasil sastra; dan c) menggairahkan penciptaan sastra.

Sebagai tindak lanjut dari saran-saran yang dikemukakan adalah berupaya melakukan pembinaan dan pengembangan sastra Indonesia di masa depan dengan cara.

  1. Mengubah pola pikir, orientasi, perilaku masyarakat kita yang memandang karya sastra sebagai dunia pinggiran, menjadi dunia yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat.

  2. Mengubah urikulum pendidikan formal di Indonesia di berbagai tingkatan dengan menambah jumlah jam pelajaran tentang sastra.

  3. mengubah skala prioritas anggaran belanja negara dari prioritas dalam mengajar kemajuan IPTEK menjadi seimbang dengan usaha-usaha pembinaan dan pengembangan karya seni atau sastra khususnya.

  4. Meningkatkan usaha-usaha publikasi terhadap berbagai hasil dari apresiasi sastra di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik.

  5. Meningkatkan pemberian penghargaan kepada karya seni atau karya sastra yang dibuat oleh para seniman atau pengarang secara periodik dan stimultan.

  6. perlunya ditingkatkan pegadaan diskusi atau seminar tentang karya sastra di berbagai tingkatas sebagai sarana/media kontrol terhadap kehidupan seni/sastra itu sendiri.

  7. Memberi ruang gerak yang lebih bebas bagi para seniman untuk berkreasi dalam mencipta sehingga karya seni tercipta secara alamiah dan total.



DAFTAR PUSTAKA


Sudewa, I Ketut. 2000. ”Strategi Pembinaan dan Pengembangan Sastra Indonesia” dalam Sastra: Ideologi, Politik, dan Kekuasaan editor Soediro Satoto. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Teeuw, A. 1994. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta : Pustaka Jaya.


Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers