Sunday, 22 June 2008

SINOPSIS NOVEL BURUNG TAK BERNAMA KARYA MUSTOFA W. HASYIM


Seorang pensiun jendral yang terus-menerus dihantui oleh rasa bersalah dan dikejar-kejar dosa karena selalu terlibat dalam operasi intelijen dengan sasaran pesantren dan kaum santri memilih menyembunyikan namanya di sebuah dusun terpencil di lereng gunung. Ia menyebut dirinya tanpa nama. Walau begitu desa memberinya nama Ki Wono.
Di suatu waktu lelaki itu memejamkan mata ia mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah berkata rabuk yuswo. Ia ingat waktu jadi perwira intelijen dan mendapat tugas mengamat-amati malaysia dari sebuah pertambangan minyak di Riau. Dari bayang-bayangan selalu ingat pada masa lalu dia tetap selalu terbayangi atau dihantui oleh masa lalu yang melibatkan dirinya pada sebuah gerakan intelijen.
Suara burung dari ruang belakang tidak ia perhatikan. Ia masih terus ingat perjalanan hidup waktu di dunia intelijen militer dulu. Ada gunung rasa bersalah mau meledak dalam dadakan kepala, ia masih ingat bagaimana kelompok santri terus-menerus menjadi bulan-bulanan operasi intelijen tanpa mereka sadari. Ia tidak mampu mencegah. Juga ketika terjadi berbagai ledakan kerusuhan dengan pelaku para santri di lokasi semua kota dan daerah yang merupakan konsentrasi warga santri. Gerakan kerusuhan yang merebah di pulau Jawa itu sebenarnya mudah ditebak, ingin menghalangi agar kaum santri gagal melakukan konsolidasi ekonomi, sosial dan budaya, juga gagal menentukan agenda kemenangan di masa depan ketika terjadi perubahan besar.
Dengan begitu, masyarakat santri kehilangan tiket untuk berperan menentukan setelah perubahan besar itu terjadi. Bahkan, yang membuat lelaki itu makin sedih dan marah adalah ketika di Jawa Timur dilakukan operasi intelijen dengan target menghalangi munculnya kekuatan politik alternatif dengan basis pesantren. Caranya dengan menggelar operasi ”Nisan Berdupa”. Konkretnya, para kiai dan guru ngaji harus dibunuh di bawah payung gerakan massa membasmi dukun sasntet.
Dengan panjang lebar pangeran itu menjelaskan bagaimana penerapan strategi amangkurat itu di kemudian hari berlangsung dengan cara yang kasar dan cara yang halus. Cara yang kasar dilakukan lewat intrik dengan target mengorbankan mereka. Biasanya mereka dipancing agar marah dan frustasi kemudian dijebak agar masuk dalam blunder politik, baru kemudian dihajar habis-habisan. Kasus pemberontakan yang mengatasnamakan agama itu sebanarnya sudah dicegah jauh-jauh oleh para pemimpin islam senio, tapi kurirnya dihambat atau dihabisi di tengah jalan agar pemberontakan yang ditargetkan oleh pihak-pihak intelijen militer betul-betul meletus.
Ia ingin merubah diri menyamar menjadi petani, memilih memutuskan hubungan dengan dunia lamanya, militer. Meninggalkan istri cantik seorang cucu raja dari kalangan Keraton. Hidup sederhana menurt alam. Padahal rumahnya tak berkepalang besarnya. Sebuah Ndelem yang penuh dengan para abdi yang melayani apa pun kebutuhannya.
Ia malu. Dulu ia begitu penuh siasat. Menggelar bermacam-macam operasi. Menentukan hidup mati orang banyak dari pertemuan sekelompoj orang-orang yang (merasa) pintar. Ksus pemberontakan yang mengatasnamakan agama; menghabisi potensi ekonomi kau santri agar kekuatan ekonomi global dapat masuk dan dapat mengobrak-abrik potensi ekonomi kaum santri; mendatangkan barang-barang luar negeri dan menjual dengan harga murah; menghadirkan pasar alternatif bernama supermarket, swalayan, mal, serta supermal dengan mengundang raksasa-raksasa ritel kelas dunia. Kaum santri tersingkir, kehilangan akses pasar, kalah, lelah dan marah. Kemarahan inilah yang kemudian menjadi konflik untuk meledakkan kerusuhan.
Suatu saat ia tersadar kalau semua langkahnya selama ini ternyata didekte oleh berbagai rekomendasi daris ebuah lembaga riset dan lembaga pemikiran strategi. Tenyata yang semula ia sangat sebagai perbuatan demikian penting, negara hanya sekedar kepentingan kelompok-kelompok. Yang telah membuatnya semakin merasa berdosa adalah ketika akar dari semua ini adalah karena menguasai lebih mematuhi perintah dari pusat kekuatan ekonomi global ketimbang pertimabangan mempertimbangkan dan memenuhi aspirasi rakyat sendiri.
Usaha menghilangkan nama dan hidupnya tanpa nama gagal. Ia justru mendapatkan namanya kembali ketika air penduduk dusun dikuasai orang-orang yang berkuasa dari kota. Padahal air seharusnya tidak ada yang memiliki (res nullus). Air merupakan milik bersama umat manusia (res commune), bahkan milik bersama mahluk Tuhan sehingga tidak ada yang boleh memonopoli dan tidak boleh ada yang lemah tak berdaya.
Ia ingin membersihkan manusia dari nama-nama yang tidak perlu, nama-nama yang hanya menjadi beban, nama-nama yang semu, nama-nama yang antara bunyi dan maknanya tidak berhubungan langsung dan tidak berpengaruh pada perilaku penyandangnya. Ia ingin hadir di dalam semesta sebagai manusia. Tidak perlu embel-embel. Tidak ada yang menyembah dan menyebut gelar hebatnya yang kosong melompong.
Burung tak bernama dan lelaki yang ingin tak mempunyai nama merasa damai ketika mereka roboh bersama-sama. Ketika darah muncrat dari luka, mereka merasa datangnya ketegangan yang luar biasa. Atas kesepakatan warga dan seizin du istrinya, lelkai bersama burung tak bernama itu dikubur di dekat umbul. Tetap di tempat mereka di temukan berbaring bersama, dengan seulas senyum yang lalu dikenang oleh siapa saja yang pernah melihatnya.
Senyum yang damai.


Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers