Monday, 28 July 2008

Menyoal Sastra Satu Kamar

Oleh Bonari Nabonenar

Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa

Penghargaan seniman Jawa Timur 2008 sudah diserahkan 30 Juni lalu. Padahal, penghargaan kali ke-11 itu biasanya dilangsungkan seminggu menjelang Lebaran Idul Fitri saban tahunnya. Hal ini berkaitan dengan posisi ''sang pemilik tradisi'', Gubernur Imam Utomo, yang Agustus ini sudah harus mengakhiri masa jabatan keduanya.

''Tentu para seniman dag-dig-dug, karena Pak Imam tidak lama lagi akan meninggalkan jabatan ini, apakah ada pemberian penghargaan yang ke-12?'' ujar Dahlan Iskan saat diminta memberi sambutan pada acara yang diadakan di Gedung Grahadi itu. Para penerima penghargaan, panitia, bahkan Imam Utomo sendiri bertepuk tangan.

Harus diakui bahwa dari tahun ke tahun pelaksanaan penghargaan seniman Jawa Timur semakin baik, dan bahkan sepertinya kini tidak ada lagi suara-suara miring seperti di awal 2000-an. Meski begitu, saya masih menilai ada persoalan yang tampaknya sepele, tetapi cukup mengganjal dan mestinya dirasakan sebagai ganjalan yang signifikan oleh para pemerhati dan penggiat sastra etnik (untuk menyebut sastra yang memakai media bahasa daerah/dialek di Jawa Timur). Tahun ini para sastrawan yang mendapatkan penghargaan ialah M. Shoim Anwar (Surabaya), Mashuri (Sidoarjo), dan F.C. Pamuji (pengarang sastra Jawa, Nganjuk). Soal kecil pertama, mengapa panitia menyebut ''seniman bahasa Indonesia'' sebagai ''sastrawan'' dan menggunakan kata ''pengarang'' untuk F.C. Pamuji yang menulis dengan bahasa Jawa?

Soal kecil kedua, sastrawan yang memakai media bahasa daerah/dialek yang ada di Jawa Timur diletakkan ''satu kamar'' dengan sastrawan yang memakai media bahasa Indonesia. Jika kita baca profil di buku panduan yang diterbitkan panitia, kita akan menangkap kesan bahwa F.C. Pamuji dinyatakan berhak atas penghargaan seniman Jawa Timur 2008 dengan pertimbangan masa dan kualitas dedikasi serta kualitas karyanya di dua bidang: seni karawitan dan seni bahasa Jawa. M. Shoim Anwar sudah jelas bahwa selama ini ia dikenal sebagai sastrawan yang hanya memakai media bahasa Indonesia. Sedangkan Mashuri, selain sebagai penyair andal yang juga telah menyabet gelar juara I Lomba Cipta Novel Dewan Kesenian Jakarta 2007 dengan Hubbu-nya, laki-laki asal Lamongan ini juga dikenal sebagai penggurit di ranah sastra Jawa. Dengan kata lain, dari tiga sastrawan yang mendapatkan penghargaan seniman Jatim 2008 ini, dua di antaranya adalah sastrawan Jawa. Tetapi, jika benar bahwa F.C. Pamuji mendapat penghargaan lebih karena ia adalah seorang pengrawit dan Mashuri lebih karena ia adalah sastrawan yang sukses bersama Hubbu-nya, itu belumlah kabar baik bagi sastra etnik di Jawa Timur.

Kita boleh bilang, sastra adalah sastra, dan bahasa hanyalah persoalan media atau alat penyampai. Dari sisi ini pulalah tampaknya panitia/juri penghargaan seniman Jatim 2008 memandang. Hal demikian terasa meleset, justru dari pikiran seorang Imam Utomo, ''penggagas'' tradisi penganugerahan penghargaan seniman ini, yang, seperti dalam sambutannya menekankan betapa pentingnya memelihara nilai-nilai tradisi sambil menerima --ataupun mengawinkannya dengan-- anasir asing yang ''bagus''.

Menempatkan kreator sastra etnik dan sastra Indonesia dalam ''satu kamar'' dalam konteks pemberian penghargaan, seperti mengadu dua petinju yang berbeda kelas/berat badan. Seperti mengadu Chris John dengan Mike Tyson. Ini perbandingan kasarnya: sastrawan Jawa macam Djayus Pete atau Sumono Sandy Asmoro bisa menjual sebuah crita cekak (cerpen) karya mereka ke penerbit/media cetak seharga Rp 100 ribu. Untuk karya yang sama (cerpen) yang ditulis dengan bahasa Indonesia, Lan Fang atau Wina Bojonegoro, bisa menjualnya dengan harga antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Njomplang banget, kan? Memang, siapa yang menyuruh Djayus Pete atau Sumono Sandy Asmoro menekuni sastra Jawa? Mengapa tidak mengikuti jejak Suparto Brata yang hebat di kedua-duanya, sastra Indonesia dan sastra etnik (Jawa)? Itu kan pilihan mereka? Jika Anda bertanya seperti itu, maka, izinkanlah saya ajak Anda untuk memberi sedikit penghargaan kepada orang-orang yang memilih ''lahan kering'' itu. Atau Anda setuju untuk menyeru agar para seniman bahasa Jawa itu eksodus ke wilayah sastra Indonesia yang jelas-jelas lebih menjanjikan secara ekonomi?

Masyarakat Jawa Timur adalah masyarakat multikultur. Jika kita setuju keanekaragaman itu adalah kekayaan, dan kita setuju pula untuk menjaga dengan baik dan bahkan mengembangkan potensi-potensi keanekaragaman itu, jika kelak masih ada acara penganugerahan penghargaan seperti yang sudah 11 kali dilakukan di Jawa Timur ini, alangkah baiknya jika sastra etnik dan sastra Indonesia tidak diletakkan di ''kamar'' yang sama. Maka, kita bisa membayangkan, kelak, setiap tahun akan ada wajah-wajah dari wilayah subkultur: Madura, Osing, Surabaya, dll., yang menulis dengan bahasa ibu mereka di barisan sastrawan penerima penghargaan seniman Jawa Timur itu.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah saya terlalu nyinyir? (*)

Sumber : Jawa Pos
Share:

Bulan Jatuh di Orchard Road

Cerpen Fakhrunnas MA Jabbar

AKU terkesima tiba-tiba saat menatap bulan agak redup bergelantungan di atas Orchard Road. Bulan itu bernyanyi-nyanyi di kejauhan. Malam belum merangkak jauh. Angin laut terasa sejuk mengusap wajahku. Tapi tubuhku yang dibalut jaket tipis terasa kian hangat. Aku bagai menyulam mimpi kala Aras memelukku. Sungguh aku bagai tak berpijak di bumi. Sementara lalu-lalang ratusan pejalan kaki di depanku nyaris tak kuhirau lagi. Hanya kudengar hening di antara gemerisik dedaunan rindang yang berjajar di sepanjang jalan raya Kota Singapura.

Singapura, sungguh aku sedang tidak bermimpi malam ini! Jeritku dalam hati ketika menatap lelaki yang kini mendekapku. Seketika pula kusaksikan rembulan yang redup berubah cerah. Suara nyanyiannya kian deras menggetarkan jantungku. Burai cahayanya di sela-sela awan bagai menyapaku. ''Reguklah kemesraanmu malam ini, Tin!'' bisik bulan itu lembut menyelinap ke dalam jantungku.

Kucubit lengan kiriku agak sembunyi-sembunyi. Itu kulakukan sekadar memastikan aku bukan sedang mengkhayal. Saat kucoba menatap sekeliling dengan pikiran yang jernih, aku jadi begitu yakin bahwa aku sedang menikmati kebahagiaan yang sudah belasan tahun silam sirna. Terus terang, aku pernah memimpikan suasana seperti ini bersama mendiang suamiku saat berada dalam bahtera rumah-tangga selama lebih 10 tahun. Tapi, impian itu selalu berakhir kecewa karena suamiku lebih mementingkan bisnisnya dibanding kehangatan kasih. Pernah beberapa kali aku singgah di Singapura dan menyusuri Orchard Road sendirian di sela-sela waktu istirahatku terbang sebagai pramugari untuk 2-3 hari. Selalu saja, perenunganku dalam kesendirian itu berakhir kecewa.

Sungguh, dulu, semasa gadisku di sebuah kota kecil di sempadan Selat Melaka, aku punya impian untuk menikmati suasana seperti ini di jantung Negeri Tumasik itu. Aku pernah begitu terbius oleh kisah percintaan Sir Djoon dan Si Nona yang termaktub di dalam cerita Mencari Pencuri Anak Perawan yang ditulis pujangga kesukaanku, Soeman Hs. Bukan apa-apa, impian itu begitu kukuh bersemayam dalam pikiranku karena Emak pernah bercerita bahwa Si Nona itu sesungguhnya masih berkait-zuriat dengan nenekku. Konon, kisah kasih nenekku itulah yang mengilhami pujangga yang tunak menghirup adat-resam Melayu sehingga menulis roman terkenal itu. Meski, kutahu, Soeman sendiri berdarah Tapanuli. Begitulah, pengarang yang masyhur ini menabalkan ungkapan: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Malam ini, aku benar-benar merasa jadi Si Nona bersama seorang lelaki yang menyayangiku, layaknya seorang Sir Djoon. Persis seperti berlaku dalam kisah roman yang berlangsung di awal tahun 1900-an itu. Kami masih saja saling menghangatkan tubuh sambil meremas jemari masing-masing penuh kelembutan. Kucoba menatap Aras, anak jati Melayu yang memahami bagaimana membahagiakan seorang perempuan seperti aku. Aku benar-benar merasa berbahagia tiada tara di ujung usia kami yang separuh baya.

''Sudah belasan tahun kunantikan saat-saat seperti ini. Bagiku, kau adalah segalanya. Aku bagaikan terlahir kembali setelah tenggelam dalam usia. Kau begitu bijak memperlakukanku sebagai seorang kekasih di sisa usia kita,'' ucapku terbata-bata.

''Ya, aku merasakan getaran itu bagai senar gitar berdenting-denting di hatiku. Aku juga bagai budak-belia semasa kita bersekolah dulu. Aku pernah jatuh cinta padamu tapi tak berkelanjutan. Kinilah saatnya aku menebusnya, Tin,'' sahut Aras.

''Cinta pertama selalu abadi,'' lanjut lelaki itu.

Mulutku terkunci saat mengenang masa-masa silam yang sudah tertinggal jauh. Aras memang pernah melabuhkan cinta-kasihnya di pelabuhan jiwaku. Sepucuk surat merah jambu memang masih jadi saksi atas peristiwa yang berlangsung di usia belia kami. Namun, aku tak pernah berpikir soal percintaan meski kutahu banyak lelaki yang berusaha merebut simpatiku. Aku selalu menganggap semua simpati itu bagai angin lalu saja.

***

Pertemuanku kembali dengan Aras beberapa tahun lalu bagaikan sebuah perjalanan takdir belaka. Bagai ada tangan gaib yang menggiring pertautan batin kami. Saat kami bertemu setelah cukup lama saling melupakan, justru aku baru saja kehilangan suamiku yang menitipkan dua putri kecil, Sofi dan Nayla. Begitu pula Aras yang datang dengan segala kehampaan hidupnya dan berada di ambang perceraian. Padahal, ia sudah memiliki lima anak yang sudah belia pula.

Kisah-kasih kami terasa unik dan lucu. Kami bagaikan menyelami kebahagiaan baru di samudera kasih yang tak bertepi. Bagaikan dua ekor belibis yang mengibas-kibaskan kepaknya saat disirami embun malam yang dingin. Pertautan hati kami saling menyempurnakan. Di masa silam kami masing-masing selalu saja ternganga rasa kecewa karena kekurangan-kekurangan yang ada pada pasangan kami.

''Kita memiliki masa lalu yang tidak sempurna. Kinilah saatnya kita sempurnakan, Ras,'' ucapku sambil merasakan kehangatan bibir Aras. Ah, budak Melayu yang satu ini begitu pandai menggetarkan jaring-jaring bahagiaku yang sudah lama bungkam.

Hampir separo malam kami lewati bersama di penggalan Orchard Road. Cahaya bulan kian benderang. Memang, aku menyaksikan bulan bundar yang sedang merajut purnama itu bagaikan jatuh dan tersangkut di reranting pohon besar di sekeliling kami. Cahaya gemerlapan itu menyelinap ke dalam jantung kami. Oh, de silentio!

Hari-hari bahagiaku bersama Aras bagaikan arus Selat Melaka yang mengalir deras di bawah permukaan. Perjalanan kasih yang telah mengantarkan kami di negeri pulau ini memang tak begitu terencana. Suatu ketika, aku bercerita padanya soal impian masa laluku yang tak pernah berkesampaian. Apalagi, kampung halaman kami yang berseberangan dengan negeri jiran itu selalu menyergam tiba-tiba semasa aku masih kecil dulu. Kehebatan Singapura sudah jadi buah-bibir orang-orang kampungku yang ber-semokel ke negeri itu. Kemelimpahan dan kemewahaan negeri jiran itu sudah amat dikenal oleh saudara-mara kami. Buktinya, Datukku dulu, konon, meraih kelebihan harta-benda lewat perdagangan lintas-batas yang penuh risiko itu karena selalu diamuk gelombang dan badai Selat Melaka yang ganas di masa itu. Apalagi, tongkang kayu yang berukuran kecil dengan menggunakan mesin bertenaga apa adanya.

Lebih dari itu, Datukku menemukan jodohnya, anak angkat China yang ''dibeli'' mertuanya dulu di Negeri Singa itu. Kutahu, cukup banyak orang-orang kampungku yang melakukan hal sama sehingga keturunan yang bekembang merupakan perpaduan Melayu-China yang berkulit kuning dan mata agak sipit namun dengan semangat wira Hang Tuah dan Hang Jebat. Konon, kulit kuning langsatku dan mata yang agak sipit sebagai bukti asal-usul keturunanku seperti itu.

Kini, aku bertemu Aras setelah kisah perkawinanku selama belasan tahun dengan seorang lelaki terkubur bersama jasadnya. Kini aku benar-benar sedang kembali ke ''rumah'' Melayuku bagaikan ''pinang pulang ke tampuk''. Saat berada di negeri Singa mengisi masa liburan percintaan kami, aku merasa bagaikan berada dalam pelukan seorang sang Nila Utama yang gagah. Aku bagaikan sedang mereguk kembali kejayaan tahta Melayu di negeri yang dipenuhi orang-orang berbilang asal dari seluruh dunia dengan mayoritas keturunan China.

Semakin Aras dekat dalam kehidupanku, semakin kentara betapa kehadiran lelaki itu amat bermakna. Aku merasa hari-hari kosongku selama bertahun-tahun telah terisi kembali. Aras benar-benar segalanya bagiku. Tidak hanya aku, tapi juga bagi Sofi dan Nayla yang beranjak besar. Aras pun memperlihatkan kesungguhannya untuk merajut masa depan bersamaku. Itulah anugerah terbesar yang kurasakan di penggal akhir usiaku.

***

Sepulang menghirup udara malam dan menikmati burai cahaya rembulan di Orchard Road pada malam ketiga itu, aku menyaksikan wajah Aras begitu berbinar-binar. Tak ada beban pikiran apa-apa di wajahnya. Padahal, kutahu, lelaki berperawakan tenang itu bukannya tidak ada persoalan. Selain urusan keluarganya yang sudah di ambang kehancuran, ia juga bertarung dengan urusan kantor yang tak habis-habisnya. Situasi serupa itulah yang menantangku untuk mencurahkan segalanya buat Aras. Aku tak ingin ia hancur. Dan, kini, hidupku hanya buat Aras dan kedua malaikat kecilku.

Tiap malam kusaksikan rembulan di Orchard Road itu jatuh dan menebar cahaya di sekelilingku. Nyanyiannya mendayu-dayu bagai mendoakan kebahagiaan kami untuk selamanya. Suasana ini selalu membangkitkan kembali semangat hidup kami berdua.

''Tin, jalan yang terbentang di depan kita masih panjang. Masih kuatkah kau melangkah bersamaku?'' tanya Aras tiba-tiba mengejutkan lamunanku.

Aku agak terhenyak merenung kalimat bersayap itu. Kutatap mata Aras yang agak lembab karena menahan pilu hatinya mengenang prahara hidup yang sedang menimpanya. Bola mata yang sayu itu memang selalu jadi tumpuan perhatianku bila bertemu Aras.

''Jangan pernah tanyakan itu lagi, Ras. Tak ada kata letih bagi orang yang sudah memulai sebuah perjalanan. Hidup hanya tersedia bagi orang yang suka berjuang. Dan aku sudah memulainya...,'' sahutku agak hati-hati.

Aras mengusap wajah dan rambutku. Mesra sekali. Kemudian ia mendekapkan pipinya ke telingaku. Suasana seperti inilah yang sering hinggap di ranting-ranting kenanganku bila kami terpisah jauh untuk beberapa lama.

Sekumpulan burung menaburi langit Singapura petang itu. Kepak mereka melambai-lambai saat beriringan. Aku jadi teringat ketika Aras menceritakan bagaimana burung yang terbang kian kemari juga butuh tempat bersinggah di dalam hidupnya. Percintaan kami pun laksana burung-burung itu. Terus saja menemukan tempat istirah.

''Berapa lama lagi perjalanan panjang ini kita lewati, Ras?'' tanyaku sambil menyandar di bahu lelaki itu. Aras tampak bungkam. Lama ia menekur. Aku tahu pikirannya sedang melayang-layang mengenang persoalan yang menyebatnya dari waktu ke waktu selama belasan tahun di masa silamnya.

Burung-burung yang sejak tadi berkeliaran dengan suara cicit yang bersahutan, kini tiba-tiba senyap. Belasan burung yang berbaur sesamanya sempat hinggap di ranting-ranting pohon besar di sepanjang Orchard Road itu. Aku menatap sepasang burung yang saling mendekap dari kejauhan. Sungguh, aku ingin seperti burung itu. Menemukan tempat bernaung.

***

''Tin, kaulah istriku kini...''

Bisikan Aras itu kudengar dua tahun kemudian. Bulan selalu dan selalu saja jatuh di Orchard Road di malam-malam yang diam. Dan, burung-burung sore masih saja berkeliaran menembus awan putih kebiruan. Langit Singapura pun merona. (: t.a)

---

Catatan:

Orchard Road: jalan raya paling ramai di jantung Singapura

Negeri Tumasik : nama asal Singapura di masa Kerajaan Melayu Riau dulu.

Sempadan: perbatasan

Zuriat : keturunan

Sir Djoon dan Si Nona: nama tokoh utama dalam roman Mencari Pencuri Anak Perawan

Anak jati Melayu: putra asli

De silentio : kesunyian

Semokel : perdagangan lintas batas dengan sistem barter

Saudara-mara : sanak saudara

Hang Tuah dan Hang Jebat : tokoh/pahlawan Melayu yang dipercaya pernah hidup di Melaka dan Riau.

Sang Nila Utama : pendiri Kesultanan Tumasik (Singapura)


Sumber : Jawa Pos
Share:

Thursday, 24 July 2008

skripsiku

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, koheren, sintesis, dan mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. Sebagai kreasi sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan menciptakan dunia baru, meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya. Sastra bersifat otonom karena tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Sastra juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya mengungkapkan hal-hal yang tidak terungkapkan (Luxemburg dkk. Trj. Hartoko, 1991: 5-6)
Berbicara mengenai sastra tentu tidak lepas dari pembicaraan mengenai ilmu sastra. Ilmu sastra saat ini sudah menjadi disiplin dan mapan. Wellek dan Werren, ilmu sastra terbagi menjadi tiga bagian, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra bergerak di bidang teori, misalnya mengenai pengertian sastra, hakikat sastra, gaya sastra, dan lain-lain. Sejarah sastra bergerak di bidang sejarah perkembangan sastra. Kritik sastra bergerak di bidang penilaian baik buruknya karya sastra (Pradopo, 1997:9).dalam hal ini penulis lebih banyak mengacu dari perspektif cabang kritik sastra karena cabang itulah yang banyak memberikan gambaran hubungan sastra dan religius atau agama.
Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendapatkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Sastra dan agama adalah dua entitas yang berbeda. Tetapi dua entitas itu tak bisa ditepis membawa misi dan pesan yang sama. Keduanya, boleh dikatakan sama-sama membawa misi kebenaran, kebajikan dan keadilan. Tak pelak, ketika kedua entitas itu "bersinergi" dalam satu derap langkah yang kemudian terangkum dalam sastra religius, maka akan berkelindan dan memainkan peran yang tak saja meneguhkan keimanan, melainkan juga membangun harmonisasi ulama dan sastrawan.
Kalau di belahan dunia lain kita mengenal sastrawan humanisme, sosialisme, dan seterusnya maka dalam beberapa tahun terakhir ini muncul sekte sastra baru berideologi ajaran agama (Islam), dan sekarang ini sedang marak-maraknya, khususnya di tanah air. Sebenarnya bila mau di telisik agak jauh maka kita akan menemukan beberapa hubungan antara agama dan sastra seperti dikatakan Hamdan dalam esai sastranya di Cybersastra. Dia memaparkan hubungan antara agama dan sastra sebagai berikut.. hubungan yang pertama yang paling jelas antara agama dan sastra adalah kenyataan bahwa banyak karya sastra yang merupakan ungkapan penghayatan seorang terhadap Tuhan. Hubungan yang kedua adalah penggunaan simbol-simbol berupa kosakata yang sudah umum dipakai dalam kehidupan beragama sebagai tanda-tanda dalam karya sastra. Ketiga, dalam menciptakan karya sastra banyak pengarang yang tetap menjadikan agama sebagai patokan, sedangkan pengarang yang lain menganggap karya sastra bebas dari pengaruh agama. Perbedaan pendapat ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para sastrawan dan ahli sastra. Keempat, pembaca karya sastra menggunakan cakrawala harapannya dalam memahami karya sastra. Pembaca yang berorientasi pada agama, tentunya mengharapkan karya sastra itu tidak menentang agama (dalam arti agama formal) sehingga penentangan agama lewat karya sastra akan mereka tanggapi secara negatif. Kelima, bagaimanapun bisa dikatakan pengarang itu taat beragama atau tidak, karyanya tetap harus mengandung nilai-nilai estetika dan sesuai dengan konvensi sastra. Masyarakat sastralah yang akan memberikan penilaian karena kebesaran karya sastra ditentukan dengan kriteria di luar estetika, misalnya agama. Keenam, ilmu sastra sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, memiliki peran memberikan penjelasan ilmiah mengenai kaitan sastra bidang-bidang lain di luar sastra, misalnya agama. Dengan demikian, siapa saja yang akan memberikan keterangan secara ilmiah mengenai keterkaitan sastra dengan bidang lain harus memahami ilmu sastra.
Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa (Sumarjo dan Saini, 1991 : 3)
Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Pembaca dapat dengan bebas melarutkan diri bersama karya itu, dan mendapat kepuasan oleh karenanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu karya bisa dijadikan media dakwah.
Sebagai media dakwah, karya sastra merupakan elemen penting untuk membangun watak insan. Karya sastra dengan bahasa yang dapat mendorong pembacanya untuk menjiwai nilai-nilai kerohanian, kemanusiaan kemasyarakatan, dan kebudayaan.
Karya sastra yang dijadikan media dakwah ini jenisnya banyak, misalnya dalam bentuk puis, drama, novel, roman, dan lain-lain, itu semua merupakan genre sastra.
Gere sastra menurut Sumarjo dan Saini dapat dikelompokkan menjadi dia kelompok, yaitu : Sastra Imajinatif dan non imajinatif. Sastra imajinatif terdiri dari puisi, prosa dan drama, sedangkan sastra non imajinatif terdiri dari esai, kritik, biografi, catatan dan surat-surat (1991 : 17).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Aristotels dalam Teeuw bahwa karya sastra dapat digolongkan dalam beberapa kriteria. Ada tiga kriteria dipandang dari segi perwujudannya, di antara ketiga kriteria tersebut adalah teks naratif (epik) yaitu novel, roman dan cerpen, (1998 : 109).
Dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas ini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragama pula. Namun “ukuran luas” di sini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya salah satu unsur fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting, dan lain-lainnya hanya satu saja (Sumarjo dan Saini, 1991 : 29).
Ayat Ayat Cinta merupakan novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmalah dan Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi terlaris di Indonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Ayat Ayat Cinta juga merupakan pelopor karya sastra islami yang sedang dalam masa kebangkitannya dewasa ini yang mendapat penghargaan Best Seller.
Habiburrahman El-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunai. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004) telah dibuat versi filmnya, Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007), dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.
Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004).
Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastra (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP dan SMU, guru mengharapkan agar murid memiliki wawasan tentang sastra, mampu mnegapresiasi sastra, bersikap positif terhadap sastra, dan dapat mengembangkan pengalaman, wawasan dan melakukan sikap terhadap nilai-nilai yang ada pada karya sastra. Siswa diharapkan mampu memahami nilai yang ada pada karya sastra tersebut dan memiliki sikap terhadap nilai tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Nilai-nilai Religius Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy “.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1) nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) mendeskripsikan nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ;



1.4 Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. bagi dosen pengajar mata kuliah apresiasi sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kajian apresiasi, penulisan sastra dan kritik terutama tentang nilai-nilai religius karya sastra;
2. bagi mahasiswa calon guru SMP dan SMA, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam rangka pengembangan kegiatan apresiasi sastra dalam pembelajaran sastra;
3. bagi penggemar sastra, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pelengkap dalam mengapresiasi sastra.

1.5 Definisi Operasional
Definisi operasional perlu diberikan untuk menghindari kesalah pahaman dalam mengartikan istilah yang dipakai dalam penelitian ini ditegaskan sebagai berikut.
1) Nilai-nilai religius adalah hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan yang berhubungan dengan aspek eksistensi manusia yang ditampakkan melalui perwujudan watak dari segala aspek kehidupan.












BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Nilai-Nilai Religius dan Religiusitas dalam Karya Sastra
2.1.1 Nilai-Nilai Religius
Religion atau agama, menurut Kontjaranigrat adalah salah satu sistem religi (1984 : 65). Sebagai contoh sistem religi adalah shinto dan Konfusianisme. Tetapi di Indonesia religion atau agama hanya dipakai bila orang menyebut salah satu sistem religi yang keberadaannya sudah diakui secara sah oleh pemerintah sebagai suatu agama sistem religi itu adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.
Sosiolog memandang agama sebagai alat wadah alamiah yang mengatur pernyataan iman di forum terbuka atau dalam sistem sosial masyarakat dan manifestasinya dapat disaksikan dalam bentuk khotbah-khotbah, doa-doa dan sebagainya (Hendropuspito, 1983 : 45)
Dari sudut femologis, Mangunwidjaja menjelaskan bahwa agama lebih menitikberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembuhan manusia kepada penciptanya dan mengarah pada aspek kuantitas, sedangkan regiusitas lebih menekankan pada kualitas manusia beragama (1988 : 82). Masih menurut Mangunwidjaja, agama dan religiusitas merupakan kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, karena keduanya merupakan konsekuensi logis kehidupan manusia yang diibaratkan selalu mempunyai dua kutub, yaitu kehidupan pribadi dan kebersamaannya di tengah masyarakat.
Sebagai suatu kritik, religiusitas dimaksudkan sebagai pembuka jalan agar kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Moeljanto dan Sunardi menyatakan bahwa semakin orang religius, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupannya sendiri (1995 : 205). Bagi orang yang beragama, intensitas itu tidak dapat dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus menerus terhadap pusat kehidupan. Inilah yang disebut dengan religiusitas sebagai inti kualitas hidup manusia, karena ia adalah dimensi yang berada dalam lubuk hati dan sebagai getaran murni pribadi (Mangunwidjaja, 1986 : 11-15)
Dari pendapat-pendapat di atas, religiusitas sama pentingnya dengan ajaran agama bahkan religiusutas lebih dari sekedar memeluk ajaran agama tertentu. Reigiusitas mencakup seluruh hubungan dan konsekuensi, yaitu antara menusia dengan penciptanya dan dengan sesamanya di dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.2 Rligiustias Dalam Karya Sastra
Kajian tentang religiusitas dalam kesusastraan sebenarnya telah banyak dilakukan, tetapi kajian itu sering keliru dalam memformulasikan pengertian religiusitas. Kekeliruan yang paling mendasar adalah bahwa religiusitas sering dianggap sebagai representasi sikap yang menentang agama, padahal religiusitas sangat koheren dengan agama. Keduanya sama-sama berorientasi pada tindakan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dunia sastra Indonesia tidak akan lupa dengan Nota Rinkes yang menyatakan bahwa karya sastra tidak boleh berpolitik, tidak menyinggung agama (netral terhadap agama), dan tidak menyinggung kesusilaan masyarakat (Teeuw, 1955 : 60). Akan tetapi menurut penulis, agama yang dimaksud adalah agama formal yang menunjuk pada satu agama tertentu bukan semangat dasar dari agama. Pendapat berikut ini justru memberikan gambaran hubungan sastra dan religius atau agama.
Karya sastra sebagai struktur yang kompleks, yang di dalamnya menyoroti berbagai segi kehidupan termasuk masalah keagamaan layak kita gali lebih dalam untuk diambil manfaatnya. Kehadiran sastra keagamaan di tengah-tengah masyarakat pasti mempunyai latar belakang tersendiri. Dan mengetahui latar belakang ini adalah hal yang sangat perlu, karena dari sanalah kita bisa melihat apakah genre sastra religiusitas itu bersifat sementara ataukah menetap, yaitu mempunyai landasan yang kuat hingga dapat bertahan untuk selamanya. Sebelum digali lebih dalam, terlebih dahulu harus diketahui kriteria-kriteria religius dalam karya sastra.
Secara garis besar, kriteria-kriteria religius dalam karya sastra khususnya dalam novel, menurut Atmosuwito adalah berisi hal-hal sebagai berikut :
1. penyerahan diri, tunduk dan taat kepada Tuhan Y.M.E ;
2. kehidupan yang penuh kemuliaan ;
3. perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan ;
4. perasaan batin yang ada hubungannya dengan rasa berdoa ;
5. perasaan batin yang ada hubungannya dengan rasa takut ;
6. pengakuan aka kebesaran Tuhan (1989: 123-124).
Selain itu, ada juga kriteria religiusitas sastra sebagaimana yang diungkapkan oleh Saridjo dalam Jassin, yaitu 1) karya sastra yang melukiskan konflik keagamaan, 2) karya sastra yang menitik beratkan pada hal-hal keagamaan sebagai pemecah sosial (1984 : 40).
Unsur religius dalam karya sastra fiksi bukan bermaksud menambah pemeluk agama, melainkan untuk memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan melalui pernyataan-pernyataan yang dituangkan dalam karya sastra itu. Tugas sebuah karya sastra bukanlah memberikan jawaban, tetapi memberikan pernyataan sehingga pembaca karya itu menemukan jawaban sendiri.

2.1.3 Jenis dan Wujud Religiusitas
Tujuan mengapresiasikan novel adalah untuk menemukan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Jika suatu karya rekaan mengandung pesan religius, sebenarnya di situ terkandung lebih dari satu ajaran religius yang bisa diamalkan. Jenis dari wujud religiusitas yang terdapat dalam karya sastra, bergantung pada keyakinan, minat pengarang, religiusitas dapat mencakup masalah yang cukup luas, meliputi masalah hidup dan kehidupan, menyangkut masalah harkat dan martabat manusia dan sebagainya.
Masalah religiusitas yang akan dikaji dalam penelitian ini meliputi berbagai macam hubungan. Hubungan-hubungan tersebut meliputi 1) hubungan manusia dengan Tuhan, 2) hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, 3) hubungan manusia sesama manusia, dan 4) hubungan manusia dengan dirinya.

1. Hubungan manusia dengan Tuhan
Manusia sebagai makhluk ciptaan, pastilah sangat erat kaitannya dengan penciptanya, wujud dari hubungan itu bisa berupa doa-doa atau pun upacara-upacara seperti pelaksanaan ibadah. Doa dan upacara tersebut dilakukan oleh manusia, karena suatu kesadaran atau rasa sadar bahwa semua yang ada di alam raya ini ada yang menciptakan.

2. Hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat
Nilai kehidupan dalam hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakatnya, menampilkan nilai-nilai sebagai berikut, 1) gotong-royong, 2) musyawarah, 3) kepatuhan pada adab dan kebiasaan, 4) cinta tanah kelahiran, atau lingkungan tempat menjalani kehidupan. Keempat nilai itu memperlihatkan bagaimana individu mengikatkan diri dalam kelompoknya. Individu-individu akan selalu berhubungan satu sama lainnya dalam suatu kelompok. Kelompok tersebut adalah masyarakat, dan individu sebagai anggotanya akan selalu mematuhi dan menaati segala aturan yang berlaku di dalamnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengikatan diri, dan sebagai sarana pertahanan diri.

3. Hubungan manusia sesama manusia
Manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan manusia di muka bumi tidak akan pernah lepas dari manusia lainnya. Dalam hubungan dengan sesama manusia, kedua belah pihak saling membutuhkan, saling bekerja sama, tolong menolong, hormat-menghormati, dan menghargai. Walaupun sesama manusia dapat terjadi karena adanya benturan kepentingan atau perbedaan kepentingan di antara mereka.

4. Hubungan manusia dengan dirinya
Selain sebagai makhluk sosial, manusia juga makhluk pribadi yang telah mengutamakan kepentingannya sendiri, sebagai makhluk pribadi, manusia mempunyai hak untuk menentukan sikap, pandangan hidup, perilaku sesuai kemampuannya, dan itulah yang memberlakukannya dari manusia yang lainnya. Hak untuk menentukan keinginan sendiri itulah yang mencerminkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.



BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bab ini dipaparkan metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini, yang mencakup rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, instrumen penelitian dan prosedur penelitian.

3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini memakai rancangan kualitatif. Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik, di antaranya berlatar alamiah, deskriptif dan manusia sebagai alat (instumen). Penelitian kualitatif memiliki karakteristik berlatar alamiah maksudnya di dalam penelitian kualitatif, peneliti memasuki, berhadapan langsung dengan objek penelitian dan hasil penelitiannya adalah alamiah, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa rekayasa. Dalam penelitian ini, peneliti berhadapan langsung dengan objek penelitian, novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy, kemudian membaca dan mengamati masalah yang diteliti yaitu nilai-nilai religius di dalam novel tersebut dan hasil penelitiannya merupakan data asli, alamiah, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sesuai dengan data yang digambarkan dalam novel tersebut, tanpa adanya rekayasa.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik deskriptif maksudnya, dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen penting lainnya. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berisi kutipan-kutipan yang berasal dari sebuah novel yang berjudul Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy. Kutipan-kutipan tersebut berupa kata-kata, kalimat-kalimat, dan atau pragraf-paragraf yang mendeskripsikan masalah-masalah yang diteliti yaitu aspek nilai-nilai religius yang terdiri dari hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik manusia sebagai alat maksudnya dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Dalam penelitian ini kehadiran peneliti adalah sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan data dan analisis data. Peran peneliti sebagai pengamat penuh gambaran aspek nilai-nilai religius dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy untuk memperoleh data yang diperlukan sebagai bahan analsisi.

3.2 Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat-kalimat, dan atau paragraf-paragraf yang mendeskripsikan struktur aspek nilai-nilai religius yang terdapat pada novel yang berjudul Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman el Sirazy yang diterbitkan oleh Basmalah dan Republika pada tahun 2004 yang masih laris sampai sekarang dan mendapat penghargaan Best Seller pada tahun 2007.

3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi yaitu memakai sumber-sumber tertulis seperti yang diungkapkan oleh Arikunto (1998 : 131) bahwa dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan, maka teknik yang dipakai dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi adalah pengumpulan data dari sumber yang berupa catatan, data dalam buku, majalah, karya sastra, dokumen, catatan harian dan sebagainya (Arikunto, 1998 : 253). Pendapat tersebut didukung oleh Nawawi (1991 :133) yang mengatakan bahwa teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip yang termasuk juga buku-buku tentang pendapat-pendapat, teori-teori, dan hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah. Berdasarkan pendapat tersebut, pengumpulan data dilakukan hal-hal sebagai berikut :
(1) membaca teks novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy secara berulang-ulang dengan teliti, mencari kata-kata, kalimat-kalimat dan atau paragraf yang diindikasikan mendeskripsikan aspek nilai-nilai religius;
(2) menandai teks dengan cara menggaris bawahi kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf yang dianggap mendeskripsikan gambaran aspek nilai-nilai religius dan memberinya kode-kode sepeti HMT untuk Hubungan Manusia dengan Tuhan, HML untuk Hubungan Manusia dengan Lingkungan dan masyarakat, HMSM untuk Hubungan Manusia Sesama Manusia, HMD untuk Hubungan Manusia dengan Dirinya; dan
(3) mencatat, mengumpulkan serta mengurutkan data yang telah diberi kode-kode tersebut dimasukkan ke dalam instrumen pemandu pengumpulan data sebagaimana terlihat dalam lampiran.

3.4 Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah teknik deskriptif interperatif. Atmazaky (1994:230 menyatakan bahwa teknik deskriptif interperatif yaitu menggambarkan sesuatu secara sistematis penafsiran terhadap data yang diperoleh, dengan memberikan pandangan atau pendapat terhadap karya sastra. Sesuai dengan pendapat Atmazaky, analisis data dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan aspek nilai-nilai religius. Menurut Faisal (1984:33) langkah-langkah dalam melakukan analisis data adalah sebagai berikut.
1) Penyeleksian data
Setelah data terkumpul, data penelitian tersebut dibaca lagi berulang-ulang untuk memastikan apakah data yang terkumpul tersebut benar-benar cocok dengan aspek nilai-nilai religius yang mencakup : hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya.. setelah data tersebut dibaca berulang-ulang, daya yang terkumpul tersebut diseleksi satu persatu, mengambil dan mencatat data-data yang dianggap perlu dibahas sesuai dengan tujuan penelitian, masalah dan membuang yang kurang perlu untuk dibahas.
2) Membuat tipologi (pengklasifikasian data)
Tahap kedua yaitu membuat tipologi atau klasifikasi data sesuai dengan kelompok atau golongannya. Artinya data-data yang diperoleh harus dipilih dan diklasifikasikan sesuai dengan data yang menyangkut aspek nilai-nilai religius. Langkah-langkahnya, sebagai berikut :
a. membaca kembali secara seksama dan berulang-ulang data-data yang sudah diseleksi untuk mengetahui apakah sudah benar-benar cocok atau penting untuk dikaji atau dibahas sesuai dengan tujuan penelitian, masalah;
b. mengklasifikasikannya atau menggolongkannya sesuai dengan apa yang dideskripsikan data-data tersebut dengan cara data-data yang mendeskripsikan suatu aspek misalnya struktur nilai-nilai religius digabungkan menjadi satu dengan data-data yang mendeskripsikan nilai-nilai religius.; dan
c. mencatat dan mengurutkan data-data yang sudah diklasifikasikan atau dikelompokkan tersebut.
3) Menginterpretasikan data
Pada tahap ini peneliti menganalisis isi hal-hal yang terkandung dalam novel Ayat Ayat Cinta tentang nilai-nilai religius, serta memberikan kerangka keterangan atau penafsiran tentang unsur-unsur yang masuk dalam kajian nilai-nilai religius tersebut.
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
a. membaca secara seksama dan berulang-ulang data yang sudah dikalsifikasikan apakah data tersebut sudah benar dalam mengklasifikasikannya.
b. Memahami kata perkata, kalimat perkalimat, apa yang dideskripsikan dalam data secara perlahan-lahan dan hati-hati agar benar-benar cocok dan sesuai dengan tujuan penelitian, masalah; dan
c. Memberikan keterangan atau penafsiran kata-kata, kalimat-kalimat yang mendeskripsikan aspek-aspek nilai-nilai religius yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya. Untuk mempermudah dalam menganalisis data dibuat instrumen pemandu analisis data sebagaimana terlihat dalam lampiran.


3.5 Instrumen Penelitian
Untuk mempermudah kerja penelitian ini, peneliti memakai instrumen penelitian berupa instrumen pemandu pengumpulan data dan instrumen pemandu analisis data yang memuat tentang aspek nilai-nilai religius dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy. Instrumen yang digunakan dapat dilihat pada lampiran.

3.6 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi 1) pemilihan dan pemantapan judul penelitian; (2) pengadaan studi pustaka; (3) penyusunan metodologi penelitian; (4) membuat lampiran panduan data dan lampiran panduan analisis data. Tahap pelaksanaan meliputi ; (1) pengumpulan data; (2) menganalisis data berdasarkan teori-teori yang telah ditentukan; (3) menyimpulkan hasil penelitian. Tahap penyelesaian meliputi : (1) penyusunan laporan penelitian; (2)revisi laporan penelitian; dan (3) penggandaan laporan penelitian.











DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Atmazaki. 1994. Analisis Sajak: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung : Angkasa.

Atmosuwito, Subijantoro. 1989. Perihal Sastra dan Religiusitas dalam Sastra. Bandung : Sinar Baru.

Hendropuspito, O.C. 1985. Sosiologi Agama. Yogyakarta : Kanisius

Jassin, H.B. 1984. Analisa : Sorotan Mentalitas dan Pengembangan. Jakarta : Gramedia.

Mangunwidjaja, Y.B. 1986. Menumbuhkan Sikap Religius Pada Anak. Jakarta : Gramedia.
_________. 1988. Sastra dan Religius. Yogyakarta : Karnisius

Moleong, Lexy J.. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda Karya

Nawawi, H.. 1994. Penelitian Terapan. Jakarta : Gajah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Joko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sirazy, Habiburrahman El. 2008. Ayat Ayat Cinta. Jakarta : Basmala, Republika.

Sumarjo, J. Dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi Karya Kesusastraan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Tariga, Henry Guntur. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.


Teeuw. A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.












MATRIKS PENELITIAN

JUDUL RUMUSAN MASALAH RANCANGAN PENELITIAN DATA DAN SUMBER DATA PENGUMPULAN DATA ANLAISIS DATA
Analisis Nilai-Nilai Religius Novel Ayat Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy Nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ?
Penelitian Deskriptif Kualitatif

Penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang mengindikasikan rumusan masalah. Kata-Kata Tertulis Yang Mengindikasikan Rumusan Masalah

Sumber Data : Novel Ayat Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy. Teknik Dokumentasi


Langkah-Langkah.
1. Membaca Berulang-Ulang.
2. Menandai Teks.
3. Mencatat, mengumpulkan serta mengurutkan data. Teknik deskriptif interperatif

Langkah-Langkah.
1. Penyeleksian data.
2. mengklasifikasikan data
3. menginterpretasi data











Contoh : INSTRUMEN PEMANDU PENGUMPULAN DATA

No. Nilai-nilai Religius Kode Halaman
1.


2.


3.


4. Hubungan manusia dengan Tuhan

Hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat

Hubungan manusia sesama manusia

Hubungan manusia dengan dirinya.




























Contoh : INSTRUMEN PEMANDU ANALISIS DATA


No. Kode Data Data Interpretasi
1.


2.


3.


4.





























ANALISIS NILAI-NILAI RELIGIUS
NOVEL AYAT AYAT CINTA
KARYA HABIBURRHAMAN EL SIRAZY


PROPOSAL SKRIPSI



Oleh
Ibnu Arif Halili
NIM. 05122010










UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JULI, 2008
Share:

Monday, 21 July 2008

Melestarikan Pusaka Budaya


Minggu lalu saya berkunjung ke Padang dan Bukittinggi bersama sebuah tim kecil dalam rangka persiapan Temu Pusaka 2008 – semacam rapat kerja tahunan bagi pihak-pihak yang peduli akan kelestarian pusaka budaya Indonesia. Penyelenggaranya adalah Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Kami sengaja memilih Bukittinggi dan Sawahlunto di Sumatra Barat sebagai tempat pertemuan. Tentu saja, karena provinsi ini sangat kaya akan warisan budaya (cultural heritage), baik yang dapat dijamah (tangible) maupun yang intangible. Apa sih yang dimaksud dengan warisan budaya intangible itu? Contohnya adalah keris yang oleh Unesco telah diakui sebagai salah satu World Heritage dalam kategori pusaka intangible. Sekalipun keris merupakan benda wujud yang dapat disentuh, namun nilai-nilai utamanya justru bukan terletak pada wujudnya. Keris ‘kan tidak untuk merajang bawang, melainkan memiliki nilai-nilai luhur yang lebih dalam.

Kuliner juga merupakan contoh pusaka budaya intangible yang penting. Di banyak bagian dunia, makanan tidak saja berfungsi untuk mengenyangkan perut, melainkan memiliki nilai-nilai sakral dan seremonial. Banyaknya elemen kuliner yang hilang atau semakin langka di tanah air kita membuat Komunitas Jalansutra sejak tiga tahun yang lalu mengikrarkan tekad untuk “melestarikan pusaka kuliner Indonesia”.

Di Sumatra Barat, misalnya, Jalansutra telah melakukan satu langkah kecil pelestarian kuliner Minang. Tahun lalu, di bawah pimpinan Irvan Kartawiria dan Andrew Mulianto, kami membuat “paket wisata khusus” dengan mengunjungi Nagari Kinari, sebuah desa adat di dekat Solok. Kami datang ke desa itu, melakukan sembahyang Jumat bersama dengan warga setempat, lalu dijamu makan siang dengan hidangan khas Minang di sebuah rumah gadang. Setelah makan siang, kami menikmati upacara penyambutan secara adat dengan sekapur sirih, dilanjutkan dengan suguhan tarian daerah dan pencak silat. Kami juga melihat kelincahan seekor beruk (kera) memanjat pohon kelapa, memilih kelapa yang sudah tua, dan kemudian memetiknya. Ini memang cara khas masyarakat memanen kelapa di daerah itu.

Dalam jamuan makan siang di Nagari Kinari itu muncul satu hidangan khas tradisional yang sudah jarang muncul, yaitu pangek pisang. Biasanya, pangek adalah masakan dengan bahan ikan laut dan dipakai sebagai lauk nasi. Pangek pisang memakai bumbu yang sama, tetapi diperlakukan sebagai pencuci mulut atau kudapan, disantap dengan ketan kukus. Istimewa sekali.

Kami semua berpendapat bahwa “paket wisata khusus” seperti yang kami lakukan di Nagari Kinari itu memiliki nilai jual yang tinggi bila dikemas sebagai “komoditi” pariwisata. Di Negeri Belanda, tiap hari ratusan bus hilir-mudik membawa ribuan wisatawan meninjau desa-desa kecil seperti Marken, Volendam, Broek in Waterland, karena wisatawan selalu terpesona akan nilai-nilai budaya yang khas di negeri-negeri yang dikunjungi wisatawan.

Sumatra Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat besar bila ditinjau dari kekayaan budaya dan pusakanya. Sayangnya, tidak semua unsur-unsur itu dalam kondisi “siap jual”. Beberapa “pembangunan” bahkan telah merusak keindahan Kota Padang.

Setyanto P. Santosa, Badan Pimpinan BPPI, misalnya, menunjuk Jembatan Siti Nurbaya yang tampak angkuh dan salah tempat. Jembatan kokoh itu sebetulnya tidak berfungsi karena hanya menghubungkan satu bagian Padang dengan bukit di seberangnya – tempat makam Siti Nurbaya. Padahal, di bagian bukit itu tidak ada jalan utama, sehingga kendaraan harus berputar lagi. Apa gunanya? Alhasil, pada sore hari jembatan itu menjadi tempat jualan makanan.

Padahal, di sekitar jembatan itu adalah bagian kota lama Padang yang dalam kondisi hancur. Bangunan-bangunan di situ sudah tidak terawat lagi. BPPI dan mitranya di Padang kini sedang merenovasi Museum Bank Indonesia yang berdiri di sana. Di seberang Museum BI itu juga ada sebuah gudang besar yang dulunya dimiliki Geo Wehry – perusahaan dagang “Lima Besar” di masa lalu. Oleh cucu pemilik lama, BPPI sedang menyusun rencana untuk mengakuisisi gudang itu dari pemiliknya yang sekarang, dan melestarikannya. Langkah-langkah kecil itu diharapkan akan memicu revitalisasi kota tua Padang menjadi tujuan wisata penting.

Dalam pertemuan dengan Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi, kami sempat mengemukakan bahwa Ranah Minang ini mestinya memakai kuliner sebagai ujung tombak pariwisata. Tidak perlu diperdebatkan, masakan Minang adalah salah satu unggulan dalam kuliner Nusantara yang disukai banyak orang. Selain itu, masakan Minang juga sangat eksotis untuk diperkenalkan kepada wisatawan asing. Seperti halnya Thailand yang berhasil menembus pasar kuliner dunia dengan program “Thai Kitchen to the World” yang digagas oleh PM Thaksin Sinawatra, kuliner Minang merupakan ujung tombak penting bila Indonesia ingin melakukan langkah serupa.

Dibandingkan dengan elemen pariwisata lainnya, kuliner merupakan “objek” wisata yang paling siap untuk dikembangkan terlebih dulu sebagai ujung tombak pariwisata Sumatra Barat. Infrastruktur untuk mengembangkannya pun pasti paling murah.

Pertemuan dengan Walikota Bukittinggi H. Djufri malah membuahkan respon yang luar biasa. Pak Wali menyambut positif usulan BPPI untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisional di wilayahnya dengan mengacu pada pasar-pasar tradisional di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat yang berhasil menumbuhkan ekonomi rakyat sambil menciptakan tujuan pariwisata yang elok. Beberapa acuan mencakup Pasar Orchorkor di Bangkok, pasar tradisional di kawasan kota tua Budapest dan Nice, Grand Bazaar di Istanbul, dan Pike Market di Seattle, Amerika Serikat.

Pasar Atas di Bukittinggi punya kenangan khusus bagi saya. Di pertengahan dasawarsa 1950-an, ketika keluarga kami tinggal di Padang, Ayah punya langganan penjual tempe yang mangkal persis di kaki tangga pasar itu. Semua orang Jawa di Sumatra Barat tahu bahwa di situlah satu-satunya tempat untuk membeli tempe. Kini, tempe sudah merakyat di seluruh pelosok Nusantara.

Sekalipun Pasar Atas masih menjadi tujuan wisata penting di Bukittinggi, tetapi kesan keteraturan tidak tampak di sana. Penjual pisang bakar nyempil di antara pedagang kutang dan celana dalam. Los Lambuang – tempat para pedagang makanan dan minuman – becek dan kotor, sehingga mengurangi keseronokan makan di sana. Secara terintegrasi, Pasar Atas dan Pasar Bawah tentu dapat direvitalisasi dengan desain ulang yang cantik.

Kepada Walikota Djufri, kami juga sempat “melaporkan” Jam Gadang – ikon Kotamadya Bukittinggi – yang retak-retak setelah gempa bumi. Keretakan hanya ditambal sementara, tanpa meneliti kerusakan struktural yang mungkin lebih parah. Di samping itu, penataan lingkungan Jam Gadang tidak membuatnya tampil anggun dan gagah. Sungguh tidak sebanding dengan kompleks Kantor Walikota Bukittinggi yang anggun, megah, dan gagah di puncak bukit.

Serta-merta pula Pak Wali mengundang BPPI untuk mengajukan rencana pengelolaan Jam Gadang dan kawasan penunjangnya. “Saya sekarang memang sedang biru,” kata Pak Wali mengakui afiliasinya dengan Partai Demokrat. “Tetapi, silakan mengembalikan Jam Gadang ke warna aslinya, sambil menata lingkungannya agar menjadi objek pariwisata yang dapat dibanggakan.”

Telah terbukti di seluruh dunia bahwa hanya bangsa-bangsa yang menaruh perhatian pada pelestarian pusaka dan warisan budaya adalah bangsa-bangsa yang mendapat manfaat maksimum dari ekonomi pariwisata.

Walikota Solo Joko Widodo sudah terjangkiti "virus" pelestarian. (Baca: "Bangkitlah Pasarku"). Kini giliran gubernur dan walikota Sumatra Barat dibuat demam dengan virus yang sama.

Bondan Winarno

Sumber : KOMPASd
Share:

Acara Balai Bahasa Bandung

LOMBA BLOG

KEBAHASAAN DAN KESASTRAAN INDONESIA

BALAI BAHASA BANDUNG 2008

1. Penjelasan tentang Lomba


  1. • Lomba ini berkenaan dengan blog yang sepenuhnya tentang bahasa dan sastra Indonesia.
  1. Tema blog adalah “Menuju bahasa dan sastra Indonesia yang mencerdaskan dan meninggikan kemanusiaan”
  1. Lomba bertujuan untuk menyumbangkan gagasan untuk pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra Indonesia.
  1. Lomba ini mengajak para penggubah blog (blogger) untuk menuangkan aspirasi, gagasan, dan pengetahuan tentang bahasa dan sastra Indonesia melalui media blog.

2. Ketentuan Lomba

  1. Lomba ini terbuka bagi siapa saja. Jumlah, latar belakang usia, pendidikan, dan kewarganegaraan, serta domisili peserta tidak dibatasi. Namun, berkenaan dengan hadiah uang yang disediakan oleh panitia, pajak dan biaya transfer/pengiriman ditanggung oleh peserta pemenang.
  1. Kompetisi blog ini akan berlangsung sejak 1 Januari – 20 September 2008.
  1. Pemutakhiran (updating) dilakukan dengan pemajangan (posting) artikel.
  1. Penggubah blog dapat berinteraksi dengan pembaca dan mengembangkan diskusi tentang isu kebahasaan dan kesastraan Indonesia. Interaksi dan diskusi itu dapat dianggap sebagai pemutakhiran.
  1. Peserta bebas berkreasi untuk mengembangkan tema lomba sejauh tidak dimaksudkan untuk menyerang pribadi, mengeksploitasi pornografi, atau memicu konflik SARA..
  1. Foto atau bentuk grafis lain dapat digunakan untuk menunjang isi ataupun tampilan blog sejauh tidak bersifat mempromosikan produk atau jasa secara komersial. Penggunaan foto atau gambar tidak boleh melanggar hak cipta (copy rights).
  1. Penyelenggara berhak menganulir materi blog yang tidak sesuai dengan tema atau mengarah ke pornografi atau konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)
  1. Materi yang diikutsertakan pada kompetisi blog ini (artikel ataupun foto/gambar) akan menjadi hak milik Balai Bahasa Bandung. Materi terpilih akan menjadi salah satu artikel yang akan mengisi Laman balaibahasabandung.web.id.
  1. Keputusan tentang pemenang adalah hak prerogatif Balai Bahasa Bandung dan tidak dapat diganggu-gugat.

3. Syarat Lomba

  1. Isi blog dibatasi hanya pada masalah kebahasaan dan/atau kesastraan Indonesia.
  1. Pembahasan boleh difokuskan hanya pada aspek tertentu dari bahasa dan sastra Indonesia.
  1. Isi blog terutama memuat gagasan penggubah blog, yang dapat berupa pengembangan tanggapan pembaca.
  1. Setelah melewati proses registrasi, peserta harus memutakhirkan (meng-up date) blognya secara berkala dengan pemajangan artikel ataupun diskusi/interaksi dengan pembaca.
  1. Pemutakhiran blog dilakukan sampai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh penyelenggara kompetisi.
  1. Memasang button di bawah ini secara permanen pada blog yang didaftarkan. Button dapat dipasang di header, di sidebar, atau di footer; tetapi bukan sebagai bagian dari posting. Button juga seharusnya ditampilkan di setiap halaman posting dan page yang relevan.

balaibahasabandung.web.id

<a href="http://balaibahasabandung.web.id" title="balaibahasabandung"><img src="http://balaibahasabandung.web.id/balaibahasabandung.png" width="175" height="55" border="0" alt="balaibahasabandung.web.id" /></a>


4. Dasar Penilaian

  1. Originalitas gagasan penggubah blok
  1. Nilai ilmiah gagasan penggubah blok
  1. Kreativitas penggarapan materi yang sesuai dengan tema dan tujuan lomba
  1. Popularitas blog, yang ditunjukkan dengan banyaknya tanggapan

5. Juri:

  1. Pakar Bahasa dan Sastra
  1. Pakar IT

6. Hadiah

Hadiah yang akan diterima pemenang kompetisi blog adalah (sebagai berikut.):
Juara1 : Rp5.000.000

Juara II : Rp4.000.000

Juara III : Rp3.000.000

  • Pengumuman pemenang kompetisi blog ini akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2008.
Catatan:
Selama masa kompetisi, penyelenggara tidak melayani pertanyaan tentang hal lain kecuali tentang masalah teknis ke pos-el (e-mail): admin@balaibahasabandung.web.id.


Share:

Sunday, 20 July 2008

Melihat Kehidupan Masyarakat Kecamatan Sapeken, Sumenep

Melihat Kehidupan Masyarakat Kecamatan Sapeken, Sumenep

Kecamatan Sapeken merupakan daerah paling timur di Kabupaten Sumenep. Daerah itu sangat kaya sumber alam. Mulai dari minyak dan gas bumi hingga perikanan. Juga banyak keunikan di kecamatan itu. Apa itu?

A. ZAHRIR RIDLO, Sumenep


SAPEKEN memang berada nun jauh dari daratan Sumenep. Untuk menginjakkan kaki kepualuan ini, butuh 12 jam perjalanan laut dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Perjalanan akan lebih cepat jika menggunakan sarana transportasi udara dari Bandara Juanda. Tapi, mesti mendarat dulu lapangan terbang Pagerungan Besar.

Jalur udara ini bukan jalur komersil. Hanya bagi para pekerja dan tamu perusahaan migas PT Kangean Energy Indonesia (KAI) yang dapat menikmati perjalanan udara melalui jalur itu. Hanya butuh waktu 1 jam 20 menit untuk sampai ke Pagerungan dari Surabaya dengan menaiki pesawat cassa Pelita Air.

Jika mau ke Pulau Sapeken atau pulau-pulau di sekitarnya, bisa naik perahu motor. Paling tidak menghabiskan 1 jam perjalanan antarpulau.

Penduduk Kecamatan Sapeken sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Ini ditandai dengan adanya pelabuhan dan perahu.

Banyak orang menilai, Sapeken mirip Pulau Seribu karena banyaknya gugusan pulau. Pulau Sapeken merupakan ibukota kecamatan. Pulau itu dianggap sebagai “Singapura-nya Madura”. Sebab, pulau-pulau yang wilayahnya lebih luas dibandingkan Pulau Sapeken, malah menjadi desa-desa di bawah kekuasaan Camat Sapeken.

Kecamatan Sapeken memiliki sembilan desa. Yakni, Desa Sakala di Pulau Sekala, Desa Pagerungan Besar di Pulau Pagerungan Besar, Desa Pagerungan Kecil di Pulau Pagerungan Kecil, Desa Tanjung Kiaok dan Desa Sepanjang di Pulau Sepanjang, Desa Sasiil di Pulau Sasiil, Desa Sapeken di Pulau Sapeken, Desa Sabuntan di Pulau Sabuntan, dan Desa Paliat di Pulau Paliat.

Meski mereka masuk wilayah Madura, tapi sedikit sekali warga yang mengerti Bahasa Madura. Menurut warga, nenek moyangnya mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan. Ini terlihat dari bahasa keseharian yang mereka gunakan, yaitu Bahasa Bajo.

Sebenarnya, ada tiga bahasa yang fasih dan sering digunakan warga, yakni Bajo, Mandar, dan Bugis. “Tapi, kami lebih banyak berkomunikasi dengan Bahasa Bajo. Malah, kalau Bahasa Madura, kami tidak mengerti,” kata warga Desa Tanjung Kiok, Wahyu, kepada koran ini.

Ketika koran ini berbicara dengan warga menggunakan Bahasa Madura, mereka hanya bisa mengangguk. “Warga paham apa yang dikatakan. Tapi, sulit untuk menjawab dengan Bahasa Madura,” ujar Wahyu.

Kehidupan dan pergaulan mereka sangat sederhana. Rumah pun dibangun cukup sederhana. Model rumah mayoritas berbentuk rumah panggung. Tak satu pun rumah yang bertingkat seperti di kota.

Mereka membuat rumah panggung, karena saat air laut pasang sampai masuk ke rumah penduduk. Meski rumahnya sederhana, isi perabotan rumah tangga banyak yang bagus. Mereka punya TV, kulkas, dan handphone (HP).

Maklum saja, mereka mudah mencari uang. Tinggal pergi melaut mencari ikan. Kalau uangnya masih banyak, mereka pergi ke kota. Umumnya mereka pergi ke Bali. Sebab, perjalanan ke Pulau Dewata hanya ditempuh sekitar 5 jam.

Namun, kebutuhan listrik di pulau itu masih sangat terbatas. Listrik baru bisa hidup pada malam sampai pagi. Dari pukul 17.00 hingga 06.00. Mereka sangat berharap, kehidupannya sama dengan warga di perkotaan yang memiliki banyak fasilitasi infrastruktur. (*/mat)
Radar Madura, Minggu, 13 Apr 2008

Share:

LAILA

Cerpen Lan Fang

Apakah yang paling kusukai dari sebuah perjalanan? Menembus butanya malam!

Pekat terasa tak berujung. Aku adalah sebuah titik kecil yang menerobos gelap. Di antara titik-titik lainnya. Titik-titik lampu jalanan, titik-titik mobil yang berpapasan atau titik-titik rumah penduduk di tepi jalan.

Mobil yang membawa tubuhku menyalip mobil lain yang ada di depannya. Aku tidak merasa tubuhku bergoyang-goyang karenanya. Tetapi ketika angin masuk melalui kaca jendela mobil yang terbuka, kurasakan cahaya kecilku terguncang.

''Uh! Dingin!'' ujar sopir sambil menaikkan kaca jendela mobil.

''Ya, udara Jember belakangan ini tidak nyaman. Hujan terus-menerus,'' sahut laki-laki di sampingnya.

''Surabaya juga,'' sahut sopir sambil terus melajukan mobil.

''Apa kita bisa masuk Surabaya sebelum subuh?''

''Mudah-mudahan. Jember sudah jauh di belakang. Sebentar lagi kita sampai di Probolinggo.''

Aku juga berharap demikian. Bisa segera sampai di Surabaya. Dua hari yang lalu, aku berangkat ke Jember untuk bermain di sebuah pementasan sandiwara.

Aku ingat sekali nada suaranya ketika itu. Ia tidak pernah mengatakan ''tidak'' untuk apa saja yang ingin kulakukan. Ia selalu mengiyakan apa yang kuinginkan. Tetapi aku tahu betul bentuk kata-kata lain yang mengungkapkan keberatannya. ''Kamu kan tidak ingin jadi pemain sandiwara?''

Lalu, seperti biasa, aku pun ngeyel. Kuceritakan bagaimana seriusnya latihanku berbulan-bulan untuk melakonkan Laila, tokoh dalam naskah Pesta Pencuri yang hendak dipentaskan itu.

Laila adalah perempuan cantik yang kesepian dengan kecantikannya. Ia tidak bisa membuat dirinya mencintai seseorang kecuali dirinya sendiri. Sedang dirinya begitu kosong. Tak punya cinta. Maka, bagaimana dia bisa mencintai? Yang dia bisa hanyalah menangis dengan merana.

Seperti biasa ia tertawa mendengarkan ceritaku. ''Kamu bisa menangis?''

Ia memang tidak pernah melihatku menangis. Sebab ia selalu membuatku tertawa. Kalaupun ia membuatku menangis, itu selalu kulakukan dengan diam-diam. Menangis tanpa air mata. Menangis tanpa suara. Menangis tidak di depannya. Kurasa itu lebih mudah daripada harus berpura-pura menangis dengan sungguh-sungguh.

''Selamat jalan-jalan,'' akhirnya ia berkata begitu. Ia tahu betul bahwa ia tidak bisa menghentikan keinginanku. Maka, aku merasa selalu mementingkan keinginanku sendiri. Tetapi, karena itu pulalah, aku tidak bisa menemukan orang lain yang selalu memenuhi keinginanku, kecuali dia.

Jember bergerimis membuat gedung yang kutuju terasa begitu tua dan letih. Dindingnya pucat dan bergelembung ketika air merembes dari plafon. Lantai lembab seperti menyerap basah dari pori-pori tanah. Jendela kusam menyaksikan tubuhku disergap gigil.

Dingin merayap cepat dari ujung kaki menuju jantungku. Entah bagaimana, tahu-tahu saja dingin sudah bersenyawa dengan darahku. Dingin dengan ketenangan yang luar biasa menguasai tubuhku. Sehingga aku tidak bisa merasakan yang lain. Lalu apa yang harus kulakukan bila dingin itu memelukku? Maka, kuberikan saja bibirku pada dingin. Setidaknya, aku berharap bisa membagi kehangatan. Tetapi, dingin tetap dingin walaupun aku sudah mengulumnya dengan rakus.

Maka, aku berlari. Secepatnya. Dikejar dingin. Aku harus membawa tubuhku pergi dari gedung itu. Kalau tidak, tubuhku akan senasib dengan air yang merembes dari plafon. Atau akan diserap oleh lembab yang mengangga.

Lariku sampai pada titik-titik kecil. Awalnya kulihat seperti kunang-kunang. Atau mataku yang berbintang-bintang? Entah. Tetapi kemudian semakin terang. Benderang.

Tiba-tiba saja ada empat orang berpakaian putih-putih mengelilingiku. Aku jadi menyibukkan mereka.

''110: 70,'' ujar seseorang yang ada di sebelah kananku. Kulihat ia memompa sesuatu yang dibelitkan di lenganku.

''Nadi 70,'' yang di sebelah kiriku menyahut sambil memegang lenganku.

''Di mana yang sakit?'' seseorang yang mereka panggil sebagai dokter menanyaiku.

''Adakah selimut? Aku kedinginan,'' aku tidak merasa yakin kalau itu suaraku. Tetapi aku yakin kalau dingin masih menempel di tubuhku.

Mereka menggeleng sambil menatapku setengah keheranan. Mungkin kelihatannya aku normal-normal saja. Tetapi tidakkah mereka bisa merasakan dingin merambat di sekujur kulitku? Seperti para semut berjalan beriringan. Ujung-ujung jariku menebal lalu menyebar begitu cepat.

''Nama, umur, alamat?'' seseorang yang sejak tadi diam menanyaiku.

''Laila, 25 tahun, Surabaya,'' sahutku. Tetap dengan ketidakyakinan bahwa yang menjawab itu adalah suaraku.

''Alamat di Jember?''

''Gedung itu...''

''Gedung itu?'' ia mengulang kata-kataku dengan nada tanya. ''Maaf, ada keluarga yang bisa dihubungi?'' ia menyambung dengan pertanyaan lain.

Aku tidak suka dengan pertanyaan ini. Tetapi aku tahu bahwa orang ini harus menanyakan itu padaku. Aku semakin tidak suka dengan jawaban yang ingin kukatakan. Sebab, aku ingin menyebut namanya. Hanya ia yang tebersit di kepalaku saat itu. Tetapi aku tidak mungkin menyebutnya. Karena mungkin ia sedang bersama perempuan lain. Apa jadinya kalau kemudian orang-orang ini menghubunginya?

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Bukan saja karena aku tidak suka, aku lebih sibuk berperang melawan dingin. Kurasa perutku mulai keram. Atau bekukah? Dan, angin dingin keluar dari hidungku.

Suara dokter terdengar hanya seperti dengungan lebah. Sepertinya ia menyuruh perawat menyuntikkan sesuatu ke tubuhku. Aku tidak bisa mendengarnya lagi. Hanya kurasakan ada cairan yang merembes masuk melalui kulitku. Seperti air merembes pada dinding yang bergelembung di gedung itu...

Sekarang rasanya mataku hanya melihat terang. Tetapi tetap kedinginan. Dan, tetap tidak ada selimut. Aku kalah melawan dingin. Maka kubiarkan saja tubuhku menerima dingin. Seketika itu juga yang tampak hanya seperti layar putih. Tidak ada yang melintas di sana. Masa lalu hilang. Apalagi masa depan. Tetapi walaupun hanya sepersekian detik ia sempat berkelebat. Maka, kucoba untuk mencuri secuil ingatan walau hanya untuk beberapa jenak.

''Kalau aku mati lebih baik dibakar saja. Tidak usah dikubur. Pasti di bawah sana begitu lembab dan dingin. Lalu cacing berpestapora atas tubuhku. Oh, tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. Lebih baik abuku dilarung ke laut. Aku bisa jadi ikan,'' entah kenapa ia mengatakan hal yang menakutkan itu padaku.

Aku tidak suka berpikir tentang kematian. Aku sangat mencintai kehidupan. Karena, kalau mati, aku yakin pasti masuk neraka. Kata banyak orang, neraka itu lautan api panas. Semua meraung-raung dibakar sampai meleleh di sana. Lidah-lidah api akan menelan tubuhku. Pasti sangat menyiksa. Tetapi, kenapa ia justru memilih kematian dengan membakar jasad? Apakah ia tidak takut dengan panas itu? Bukankah dingin juga terasa melinukan seluruh sendi? Kurasa dingin juga sebentuk neraka. Ingin sekali kuceritakan padanya tentang neraka yang ini.

Oh! Aku tak kuasa menahan siksaan dingin. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lagi-lagi terasa dingin mengalir di ujung mataku. Simpul-simpulku yang belum terlalu dingin mengatakan bahwa aku tidak bisa lagi bercerita padanya. Ternyata dingin lebih dulu membekukan ceritaku.

''Lihat! Aku menangis. Tetapi, lagi-lagi kau tidak bisa melihatnya, kan?'' Kali ini aku yakin bahwa ini adalah suaraku. Sebab, memantul mencacah udara dengan begitu sedih. Kesedihan yang kusimpan hanya untuk diriku sendiri. Seperti Laila.

''Jangan menangis, ah...,'' aku ingat ia selalu berkilah sebelum tangisku dilihatnya. Awalnya, kupikir bahwa aku terlalu tinggi hati untuk membiarkannya melihatku menangis. Rupanya ia juga tidak mau melihatku menangis. Tetapi bagaimana mungkin aku tidak menangis bila ia berbicara seakan-akan kematiannya akan datang lima menit lagi?

''Kalau begitu, kamu jangan mati. Nanti aku sepi...,'' aku meratap sambil mati-matian menahan tangis. Bahkan untuk kehendaknya mati itu. Sebetulnya aku ingin tahu apakah ia juga akan menangisiku? Misalnya, bila aku pergi.

''Aku cuma ingin tidur seribu tahun. Aku letih,'' sahutnya mengelak dengan tidak lucu. Dalam hatiku bertanya-tanya, seletih apakah ia sampai ingin tidur seribu tahun? Apakah seletih gedung tua yang menyergapku dengan dingin itu?

Saat itu kucoba tertawa untuk sesuatu yang tidak lucu. Menertawakan kesedihan yang mencuat begitu saja. Kukatakan bahwa ia akan jadi pangeran tidur. Aku akan jadi putri yang menjaga tidurnya. Aku tidak akan lengah. Biarpun ia bukan punyaku, aku akan menjaga hatinya. Walaupun untuk seribu tahun. Dan, kelak kubangunkan dengan ciuman. Ketika itu pasti ia milikku.

Ia akan jadi ikan. Sedang dinginku sudah meleleh. Merembes seperti air di tembok gedung tua yang sama letihnya dengannya. Lalu mengalir sampai ke hilir. Ia bisa merenangiku dengan merdeka. Karena air tidak punya pintu. Sehingga ia tidak perlu letih melampauinya.

Tetapi ternyata sekarang air cuma menggenang di lantai yang membuat kaki malas berpijak. Kakiku menjerit, ''Jangan menebar gigil di sini!'' Dingin tetap saja tidak pamit undur diri. Masih setia berjingkat-jingkat.

Aku ingin menekan tombol ponselku. Meneleponnya, ''Peluk aku. Peluk aku.'' Mungkin juga berkata, ''Aku sekarang putri tidur itu. Entah untuk berapa tahun. Apa sekarang kau merasa sepi?''

Ia mulai lenyap. Aku berusaha menahannya. Aku ingin menculiknya. Untuk bersama-sama dalam ingatan yang tak pernah lekang. Kubekukan dalam benak dan pikiran yang tak bisa hilang.

Ia ikan dan aku air. Iya kan?

''Aku menyesal jadi Laila!'' seruku dengan hangatku yang tersisa. Kuharap ia mendengarnya. Seruanku bercerita tentang Laila yang haus tepuk tangan. Juga Laila yang terkapar. Laila yang menangisi dirinya sendiri. Laila yang kedinginan.

''Lailaaaaaaaaa.....'' Aku tidak tahu itu suara siapa. Aku yakin bahwa itu bukan suaranya. Ia tidak memanggilku dengan nama Laila. Lalu apakah suara dokter dan para perawat itu? Karena mereka hanya tahu namaku Laila. Atau teriakan lawan mainkukah? Memang ada sebuah adegan di mana lawan mainku meneriakkan nama itu sambil menenteng lampu bercahaya redup.

Mungkin itu benar suara lawan mainku. Karena terangku mulai meredup. Hanya jadi seperti titik-titik cahaya kecil yang tidak berdaya. Semakin lemah.

''Apa benar namanya Laila?'' kudengar suara sopir sambil terbatuk-batuk. ''Rasanya semakin dingin...''

''Ia mengaku begitu. Tetapi laki-laki yang kami hubungi tadi mengatakan bahwa ia bukan Laila,'' sahut laki-laki bersuara serak di sampingnya. ''Itu pintu tol Waru. Untunglah. Surabaya sebentar lagi. Laki-laki di telepon itu menyuruh kita mengantarnya ke Surabaya secepatnya. Kedengarannya sangat cemas.''

''Siapa laki-laki di telepon itu?''

''Entah. Kami tidak tahu harus menghubungi siapa ketika suhu tubuhnya semakin turun. Semakin dingin. Tiba-tiba saja sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Sukseskah Laila? cuma itu SMS yang masuk. Dan, kami memutuskan menghubungi nomor yang mengirim pesan singkat itu.''

Angin bernapas tidak teratur. Napasku mengangin.

''Dia cantik sekali. Seperti tidur.''

''Tapi tadi sempat kulihat ada air mata. Ia menangis dalam tidur.''

''Ah, masa? Ia cuma seperti tidur. Jadi pasti ia juga cuma seperti menangis. Lihat saja, nanti kalau sudah bertemu laki-laki itu, ia pasti bangun dan tertawa. Sekarang ia cuma pura-pura. Ia seperti pemain sandiwara.''

Titik-titik cahaya kecil rontok satu per satu.

''Eh, betul...rasanya dingin sekali...''

Lalu mereka diam. Mobil masih bergoyang-goyang saling menyalip. Aku ingin mereka lebih cepat. Cahayaku tinggal setitik.

''Kamu kan tidak ingin jadi pemain sandiwara?'' kali ini aku yakin bahwa yang kudengar adalah suaranya. Ia tidak pernah berkata ''tidak'' untuk apa saja yang ingin kulakukan. Tetapi bukankah nada suaranya mengatakan bahwa ia tidak suka aku bermain sandiwara? Ia tidak suka aku menjadi Laila.

Kali ini aku tidak ingin membantahnya lagi. Tidak ada salahnya bila aku menurutinya. Bukankah cuma dia yang selalu memenuhi keinginanku?

''Ya. Aku tidak ingin jadi pemain sandiwara. Aku cuma ingin jalan-jalan. Karena ada yang paling kusukai dari sebuah perjalanan. Menembus butanya malam!''

Lalu, malam sungguh-sungguh buta. Tidak ada cahaya lagi. Walau cuma setitik. ***

Sumber : Jawa Pos Minggu 20 Juli 2008

Share:

Membebaskan Rumah dari Amarah

[ Minggu, 20 Juli 2008 ]
Membebaskan Rumah dari Amarah
Marah adalah perilaku yang manusiawi; sering dianggap wajar tetapi kerap pula dicap sebagai tindakan yang negatif. Ternyata, tanpa kita sadari, perilaku tersebut pertama kali diperkenalkan kepada individu melalui institusi keluarga. Melalui buku ini Carl Semmelroth tak sekadar mengajak pembaca untuk mengetahui seluk-beluk perilaku marah. Namun, ia juga memberi solusi terapi kepada kita untuk menjauhkan perilaku marah mulai dari dalam rumah.

Kita terenyuh saat menonton televisi yang memberitakan kasus kekerasan akhir-akhir ini yang pelakunya adalah kaum muda. Mencuat berita tentang geng motor di Bandung dan geng perempuan ''Nero'' di Pati. Ada pula kasus unjuk rasa di Jakarta yang selalu berakhir dengan kericuhan. Semua itu adalah kulminasi dari amarah yang tak dikontrol dalam keseharian.

Masa kanak-kanak merupakan babakan fundamental dalam alur perkembangan manusia. Oleh karena itu, tepatlah kiranya jika berlaku sebuah pemahaman ''seorang anak manusia dilahirkan ke dunia bagai kertas putih". Jika pengalaman awal seorang anak cenderung positif, maka di masa depan kita bisa berharap si anak selalu mengedepankan segala sesuatu yang positif pula.

Carl Semmelroth adalah doktor psikologi yang sempat menjadi associate professor di Cleveland State University (1972-1975). Selama bertahun-tahun ia mendalami psikologi terapi dan mengakrabkan diri dengan para penderita depresi, fobia, panik, paska-traumatis, dan orang-orang yang bermasalah dalam perkawinan. Dengan pengalaman itulah ia menulis buku berseri dengan mengusung tema Anger Habit (kebiasaan marah). Mengingat setiap manusia pasti bermula dari sebuah keluarga (baca: rumah), maka buku ini bisa dibilang sebagai karya paling penting dari karangan Semmelroth.

Rasa marah merupakan perwujudan insting yang terkait dengan kesiapan fisik terhadap ancaman pihak luar. Secara alamiah, kemarahan menyebabkan berlangsungnya reaksi kimia dalam tubuh hingga jantung berdetak kencang dan volume pasokan darah meningkat ke tangan dan kaki. Maka, rasa marah adalah persiapan bagi seseorang untuk menyerang orang lain secara fisik (hlm. 24). Dengan demikian, kemarahan yang merupakan gejala alamiah manusia haruslah dikontrol agar tak merugikan orang lain.

Semmelroth mengajukan sebuah terapi awal bahwa setiap individu hendaknya melakukan refleksi terhadap kemarahan yang terjadi sepanjang perjalanan hidupnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui rantai kemarahan --lewat peristiwa apa pertama kali seseorang dimarahi dan siapa yang pertama kali memarahi. Individu yang memiliki sejarah buruk terkait kemarahan dan tidak pernah melakukan refleksi mendalam tentang perilaku marah yang dilakukannya memiliki kecenderungan untuk mudah marah kapan saja.

Hubungan antarindividu secara umum selalu berkenaan dengan kontrol dan otonomi. Sementara komunikasi merupakan saluran dalam berinteraksi yang berfungsi untuk membuat aturan. Setiap manusia senantiasa melangkahkan hidupnya menuju otonomi. Kontrol mulai diperlukan ketika ada benturan antarindividu dalam mencapai otonomi tersebut. Amarah acapkali menyeruak tatkala individu merasa hak otonominya mulai dibatasi oleh kontrol orang lain.

Interaksi yang sehat di dalam keluarga akan menentukan masa depan sebuah masyarakat. Sebab, pada institusi keluarga, seorang anak akan diperkenalkan untuk menggunakan hak otonomi yang dimilikinya dengan sejumlah batasan berupa aturan. Ketika orang tua lebih berperan sebagai pengontrol dengan perilaku yang senantiasa mengandung amarah, anak akan tumbuh dengan kecenderungan sikap egois di masyarakat. Pada titik inilah, aturan yang dibuat oleh orang tua dan anak seharusnya menjadi guiding principle dalam keluarga.

Tentu saja, aturan tersebut harus dibuat dengan mengutamakan kepentingan orang tua dan anak secara seimbang. Pelaksanaan dari sebuah aturan akan lebih efektif jika dilakukan secara bersama. Misalnya, orang tua tidak cukup menyuruh anaknya untuk merapikan kasur setelah bangun tidur namun orang tua seharusnya bersama si anak merapikan kasur. Orang tua selayaknya tak sekadar memberi perintah, tapi turut pula memberi contoh.

Ketika berkomunikasi dengan anak, orang tua seharusnya mengurangi tendensi kepentingannya sendiri. Sesuatu yang baik menurut orang tua, belum tentu baik dalam pandangan si anak. Jika orang tua cenderung memaksakan keinginan kepada si anak, maka perilaku marah bisa dipastikan akan sering muncul. Untuk itulah, Semmelroth menekankan pentingnya peta ''keinginan'' dan ''kebutuhan'' dibuat oleh orang tua dalam membina interaksi dengan anak.

Berkata-kata dalam nada yang halus bukanlah tanda bahwa komunikasi anak dan orang tua berlangsung harmonis. Komunikasi yang sehat hanya akan terjadi saat orang tua mampu membimbing anak untuk bersikap terbuka tanpa takut ''dihakimi'' dengan amarah. Maka, orang tua harus mampu membuka jalan pikiran si anak tentang kedewasaan bersikap melalui perilaku dan kata-kata.

Orang tua pun harus mengikuti perkembangan terkini yang berlangsung di masyarakat. Hal ini dilakukan agar orang tua dapat menyelami jiwa si anak sesuai dengan zaman yang senantiasa berubah. Memaksakan pandangan orang tua yang tak sesuai dengan zaman si anak hanya akan membuat perilaku asketisme negatif (misalnya penggunaan narkoba dan tawuran) berlangsung luas di masyarakat.

Jika hubungan dalam keluarga berlangsung harmonis, amarah tiap individu dapat dikelola dengan baik dari hari ke hari. Anak akan mengetahui bahwa marah merupakan perilaku yang normal saja. Dan, yang lebih penting, anak bisa mengukur kemarahan dalam dirinya sendiri saat bergaul di masyarakat. Hingga amarah niscaya tidak akan dianggap sebagai solusi satu-satunya dalam menyelesaikan persoalan saat si anak telah lepas dari orang tua. (*)

* Fenny Aprilia, alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, anggota Klub Baca Segala Buku Bandung

Sumber. Jawa Pos. Minggu 20 Juli 2008



Share:

Saturday, 19 July 2008

Pameran Ilustrasi Cerpen: Ketika Seni Rupa dan Sastra Berdialog

Bersamaan dengan semakin terbukanya lembar koran bagi sebuah karya sastra, terbuka juga pintu-pintu bagi seni rupa yang menjadi ilustrasinya. Apa yang diharapkan dari sebuah ilustrasi ketika derapnya sama cepat dengan cerpennya?
Lewat 49 karya ilustrasi cerpen Kompas yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta 15-25 Juli, nyatanya ilustrasi seperti mencoba mandiri dan menemukan ruang penciptaannya sendiri.
Cerpen dan ilustrasinya mungkin ibarat perkawinan satra dan seni rupa. Eddy Soetriyono, kurator,penyair, dan penulis buku biografi pengusaha dan sejumlah buku seni rupa, mencatat dalam katalog pameran bahwa bisa jadi sudah terjadi dialog, pergulatan, maupun konfrontasi antara sang perupa dengan karya sastra yang dihadapinya.
Dialog seperti apa yang berlangsung? Ambil contoh karya Isa Perkasa, ilustrasi cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma. Yang dilakukan Isa mungkin seperti memvisualisasikan judul cerpen saja. Begini ilustrasinya, ada dua pria berkepala plontos bersisian dengan perahu yang menautkan mereka.
Itu sah-sah saja,karena ilustrasi adalah gambar visual yang merujuk pada sebuah subjek. Karya-karya Isa yang lainnya yang menjadi ilustrasi cerpen Budi Darma Berjudul Kisah Pilot Bejo pun masih menggunakan pola yang sama. Seorang pria –yang tampaknya lagi-lagi plontos- berpakaian pilot dengan tanda nama bertulisan ‘BEJO’.
Itu mungkin imajinasi Isa. Bagi, budayawan Sindhunata imajinasi dan fantasi yang muncul dalam sebuah karya sastra berhak dituangkan dengan bebas oleh perupanya.
“Ilustrasi bukan sekadar interpretasi dari karya sastranya. Ilustrasi bisa juga mandiri sesuai bagaimana perupa menuangkan itu dalam kanvasnya,” kata Sindhunata dalam pembukaan pameran, Selasa (15/7) malam.
Ketimbang ‘mencaplok’ persis apa yang terbaca dalam karya sastra, Sindhunata mengatakan bahwa imajinasi dalam seni rupa bisa lebih mengalir.
Ipong Purnama Sidhi yang membuat ilustrasi cerpen Gincu Ini Merah, Sayang karya Eka Kurniawan bisa jadi satu perupa yang memilih mengalir itu.
Setidaknya, Ipong mengambil satu simbol saja yang menjadi ‘warna’ cerpen Eka,yakni gincu merah. Dari gincu itulah, ia mengalir memiaskan warna dan gambar yang tak sekadar bercerita tentang Marni –tokoh perempuan di cerpen Eka- yang menikahi pria yang sering mendatangi bar tempatnya bekerja.
Sama halnya dengan karya AS Kurnia, ilustrasi cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul Gerhana Mata. Kalau dari cerpennya, Djenar tetap Djenar yang masih ‘bermain-main dengan kelaminnya’ atau isu hubungan nonmonogamis.
AS Kurnia tampaknya memilih kondisi kebutaan yang secara eksplisit diterjemahkan lewat judul cerpen ‘gerhana mata’. Namun, dari ‘kebutaan’ itu, AS Kurnia justru menggoreskan lebih dari kisah perselingkuhan, kesepian, ataupun libido yang tuntas. Mungkin dialog yang dilakukan AS Kurnia dengan cerpennya Djenar lebih bergejolak.
Dari karya-karya yang ditampilkan memang tidak semuanya meruapakan karya asli, mayoritas sudah berbentuk digital printing. Beberapa karya asli yang dipamerkan semisal karya I Wayan Suklu dan Ketut Susena. Lainnya?
“Hehehe sudah susah cari aslinya kayaknya sebagian sudah dijual,” ujar Hermanu, tim penyelenggara pameran BBY. Yah, jadi teringat kembali betapa Yogyakarta sudah menjadi pabrik seni rupa kontemporer. Ilustrasi cerpen pun diembat... (SIN/Kompas Biro Yogya)

Share:

Wednesday, 16 July 2008

TARI KHAS JEMBER

TARIAN LAHBAKO

Lahbako merupakan tarian khas Jember menggambarkan petani sedang menanam dan mengolah tembakau yang merupakan produksi ekspor dari Jember disamping kopi, karet, terpentin dan kakao.
Tarian yang ditarikan oleh penari-penari remaja ini sering disajikan untuk menyambut tamu-tamu wisata di Kabupaten Jember baik tamu-tamu wisata mancanegara atau tamu-tamu wisata domestik.

KUDA KENCAK

Masyarakat Jember mengenal kuda kencak sejak jaman penjajahan. Kuda kencak digunakan untuk menghibur masyarakat tatkala ada kegiatan sunatan.
Pengantin sunat diarak kelliling desa untuk memenuhi sanak kerabatnya dengan menaiki kuda kencak.
Sekarang ini seni kuda kencak sudah berkembang tidak hanya masyarakat yang mempunyai hajatan sunatan tapi juga pawai-pawai dan festival.
Dengan kata lain seni kuda kencak sudah menjadi atraksi pariwisata bagi penduduk Pemerintah Daerah Kabupaten Jember.
Share:

PEMILU SERENTAK 2019

PEMILU SERENTAK 2019

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers