Wednesday, 2 July 2008

Lain Tempat Lain Penampilan



Becak di Mandar yang dijadikan “kendaraan politik”.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.


Di sela kegiatan penelitian bahari dan perikanan yang dilakukannya di berbagai daerah, citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin melakukan dokumentasi kecil-kecilan tentang becak. Keunikan becak di sejumlah kota disajikan dalam tulisan berikut ini. (p!)

Dalam perjalanan ke berbagai daerah untuk meneliti dunia perperahuan, kelautan, dan perikanan, ada satu benda yang hampir tidak ada hubungannya dengan laut, tapi selalu mencuri perhatian saya. Benda itu adalah becak.

Becak, kendaraan rakyat, yang para pengemudinya identik dengan kehidupan yang keras, miskin dan senantiasa terancam tergusur. Di kota-kota besar, becak makin terpinggirkan. Jalan-jalan utama diwajibkan bebas becak. Angkutan jarak pendek-menengah ini pun mengisi jalan-jalan kecil, pinggiran kota, atau bila terkadang nekat, melintas secara sembunyi-sembunyi di kawasan bebas becak.

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan moda transportasi beroda tiga ini. Tapi ketika saya semakin banyak mengunjungi berbagai tempat, becak semakin mencuri perhatian. Dari satu daerah ke daerah lain, model becak dan pola komunitas pengayuh becak, tampak beragam.

Bagi orang yang tidak pernah melancong ke daerah lain, bisa saja menyangka bahwa bentuk becak di mana-mana sama saja. Kenyataannya tidak! Becak banyak jenis dan bentuknya, dan ini yang menggelitik rasa penasaran saya: kenapa becak beragam bentuk dan jenisnya?

Awalnya saya berkenalan dengan becak di Makassar, sewaktu masih kecil. Lalu di akhir 80-an atau awal 90-an, becak mulai muncul di kampung saya di Tinambung, (yang kini menjadi wilayah Sulawesi Barat). Masih segar diingatan, becak yang pertama kali muncul di Tinambung bernama “Besi Tua”. Mungkin becak itu berasal dari hasil gusuran di Makassar sehingga diberi nama demikian. Sewanya untuk jarak berkisar 500 meter hingga satu kilometer, waktu di tahun 80-an hanyalah sekitar Rp 100. Sangat murah bukan?.

Pada tahun 1997, saat merantau ke Yogya, saya melihat becak Yogya yang sangat berbeda dengan model yang ada di Makassar. Becak Yogya lebih besar dan luas, per-nya lebih terasa, ruang penumpangnya lebih lapang, dan kalau bersandar lebih enak. Setelah melihat becak Yogya, saya lalu menyimpulkan: becak Makassar kecil, ramping, dan sempit!

Seiring waktu dan ketika semakin banyak daerah di Indonesia yang saya datangi, becak yang saya lihat pun semakin beragam.. Peruntukannya pun demikian, bukan hanya mengangkut manusia, tetapi untuk mengangkut ikan (misal Indramayu, Jawa Barat dan Kampung Baru di Balikpapan), mengangkut es balok (misalnya di Balikpapan dan Jakarta) atau sisa es yang digunakan armada penangkap ikan berukuran raksasa (di Muara Baru, Jakarta), dan juga sebagai “kendaraan politik”, misalnya selama Pemilihan Gubernur Sulawesi Barat. Becak-becak dimanfaatkan sebagai tempat menempel poster-poster para kandidat.

Perbedaan
Berikut sekilas perbedaan becak antara satu daerah dengan daerah lain di Nusantara yang sempat saya amati.

Secara umum becak-becak di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) persis sama. Becak di Makassar tidak memiliki perbedaan mendasar dengan becak di kabupaten paling selatan (Selayar) dengan becak di Kabupaten Polman (Polmas).

Sementara Kalimantan Timur. Di Balikpapan, saya hanya sempat memperhatikan becak-becak di Kampung Baru, yaitu kampung terapung di Teluk Balikpapan. Becak-becak di sini umumnya dipakai sebagai alat angkut ikan dari tempat merapatnya perahu ke pasar terdekat. Dua roda bagian depan tidak menggunakan roda sepeda "singking", tetapi roda motor. Jari-jarinya (terali) pun dibuat khusus, menggunakan besi diameter besar dan dilas (tidak bisa dibongkar-pasang). Dibuat demikian sebab becak didesain dapat menerima beban berat, misalnya balok-balok es batu dan tumpukan ikan. Becak-nya pun tidak beratap dan hanya berangka besi di tempat "penumpang". Sekali lagi, becak didesain untuk membawa barang.

Berikut becak-becak di Jawa, dalam hal ini becak di Banten, Jakarta, Indramayu (Jawa Barat), Yogya, dan Situbondo (Jawa Timur). Meski berada di satu pulau, tapi becak-becak di pulau terpadat penduduknya ini cukup beragam.

Becak di Banten sepertinya penggabungan becak Sulawesi Selatan dengan becak Yogya: berukuran kecil, tetapi ruang penumpangnya agak lapang, mirip becak Yogya. Yang khas pada becak Banten, bila dilihat dari luar atau samping, sandarannya hampir membentuk sudut 90 derajat.

Menuju ke arah timur, di Jakarta dan Indramayu, becaknya bertambah besar. Keunikannya, ada tempat alternatif bagi tukang becaknya, yaitu berupa papan yang memanjang ke belakang. Di bagian depan papan ada bantalan kecil untuk tempat duduk, tapi itu hanya "segumpalan". Tempat duduk ini persis di atas pelindung ban dan penahan Lumpur pada ban belakang. Tukang becak duduk di ruang duduk alternatif ini bila ingin mengayuh dengan lebih santai. Fungsi lain, papan yang memanjang itu juga digunakan sebagai pegangan jika bagian becak diangkat guna memudahkan naik-turunnya penumpang.

Pengalaman saya pribadi, becak Yogya paling enak ditumpangi. Kelebihan lain becak Yogya, atapnya bisa dinaik-turunkan (dilipat). Mungkin karena banyak turis (bule) yang pakai becak, maka becak di Yogya didesain demikian. Saya pernah lihat orang Eropa naik becak Makassar, repotnya bukan main! Becak Yogya juga mempunyai dudukan alternatif seperti becak di bagian barat. Tapi tidak ada tambahan papan.

Becak Jawa Timur (Madura dan Situbondo) lain lagi: terlihat lebih panjang, ramping/kurus (seperti becak Sulawesi Selatan) dan berangka. Ya, berangka! Entah bagaimana menggambarkan becak yang berangka tersebut. Yang jelas, batang-batang besi di becak lebih kontras adanya. Selain itu, di bagian sandaran tempat penumpang tidak sepenuhnya tertutup, misalnya oleh gabus empuk atau papan. Di kiri-kanan dudukan ada bagian kosong (depan tembus ke belakang). Mungkin juga karena di becak Jawa Timur tulisan untuk nomor dan nama becak berupa rangka besi yang dilas, bukan coretan cat, sehingga dominasi rangka besi begitu mencolok. Atap memang ada dan bisa dilipat mirip becak Yogya, tapi seperti seadanya laksana becak Sulawesi Selatan.

Demikianlah sekilas tentang becak di Nusantara. Saya yakin, becak di pulau-pulau lain memiliki kekhasan atau perbedaan dengan becak di daerah lain. Muncul pertanyaan, mengapa becak bisa berderivasi sedemikian rupa? Mengapa di Aceh dan Medan, becak malah telah dimodifikasi menjadi becak motor? Sejauh mana faktor budaya dan geografis ikut mempengaruhi? Menarik untuk ditelusuri lebih jauh bukan?. (p!)


Becak Makassar, angkutan andalan rakyat
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak Selayar, damai di desa.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak di Jakarta, menumpuk menjadi besi tua .
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak di Kangean, bergaya di tengah anjungan atas laut.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak di Situbondo, angkutan selanjutnya setelah kapal laut.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak di Yogya, kuning berjejer rapi.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


Becak di Indramayu, ikan hiu pun jadi penumpang.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin..


*Citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin dapat dihubungi melalui email sandeqlopi@yahoo.com


Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers