Sunday, 13 July 2008

Kota-Kota Kecil yang Kusinggahi dengan Ingatan



Cerpen Raudal Tanjung Banua

Pernahkah Anda singgah di sebuah kota dan merasa seolah itu kota pertama yang Anda singgahi di dunia? Aku pernah. Dan itu adalah kota-kota kecil yang kusinggahi kali pertama, baik secara harfiah --karena memang baru kali itu melakukan perjalanan jauh-- maupun yang pernah kusinggahi dengan rasa berbeda: sekelabat ingatan, tapi begitu dalam, kadang kujumpai kembali dengan kegugupan, ketakjuban panjang, dan tak jarang tergeragap dalam pandangan, yang rasa-rasanya selalu pertama. Beberapa terus mengendap di kepalaku, tak mau pergi; meski tak semuanya berkembang; beberapa memudar seirama bayang-bayang, tapi tak juga lenyap atau hilang...Izinkan aku membilang, satu-satu, siapa tahu Anda juga mengingat sesuatu, dekat atau jauh, di ranah ibu atau di seberang...

***

KAYU TANAM. Kota kecil dengan deretan pohon durian dan sekolah tua yang bersejarah, tak pernah kulupakan; meskipun kedua penanda ingatan itu mungkin mulai tak berbuah, atau ditebangi; dan sekolah INS warisan Engku Syafe'i yang pernah dikelola sastrawan Navis kian merana, tapi rasanya inilah kota kecil pertama tempatku singgah di dunia! Singgah bertahun silam, jadi kenangan begitu dalam. Saat itu bis carteran orang kampungku untuk wisata hari raya berhenti di tepi jalan, lalu kami makan nasi ketan campur durian, enak nian. Ibuku mengeluarkan penganan dan itu pun kami habiskan.

Jalan mendaki, tak terlihat persimpangan atau perempatan, namun jalanan padat selalu oleh kendaraan dari, dan menuju Padang Panjang --lewat Lembah Anai. Sebelum Padang Panjang, kota hujan di celah gunung, Kayu Tanamlah kota penyangga lintasan ini: penghubung kota-kota darek (pedalaman Minangkabau) dengan kota pesisir yang panas. Aku takjub mendengar nyaring klakson bis, dan truk berderak-derak, sesekali rem mencericit atau deram mesin di tanjakan. Aku pandangi semua yang lewat, hingga samar di balik pepohonan, lantas menghilang di tikungan. Kami pun berbenah. Ibu membungkus kembali rantang kotor dengan kain tetoron, bagai membungkus kenangan yang selalu dapat kutonton berulang-ulang. Kini, tiap kali melihat pohon durian, aku selalu tersirap, dan ingat, itu seolah tertanam di tepi jalan kota kecil Kayu Tanam...

***

SAWAHLUNTO. Seutas jalan memasuki cekungan, serupa lubang pusar, itulah Sawahlunto. Terminal, pasar, stasiun, berpusar di kedalaman dasar, diaduk-aduk putaran waktu sejak jauh dulu. Jalanannya sendiri ibarat tali pusar yang ujungnya menghunjam lebih dalam ke perut bumi. Memasukinya, seolah kita bertamu ke kota liliput --di mana segalanya serbamini-- tapi jelas bukan kota para pengecut. Orang bilang kota arang, karena hidup dari lorong tambang. Kota kuali, berpagar perbukitan, menggelegakkan keringat para kuli. Ketika pertama singgah (dan kini tak pernah lagi), aku tak punya bayangan apa-apa di balik keringat para kuli dan bangunan yang berdiri. Suatu keberuntungan! Keberuntungan? Ya, kunikmati ia tanpa beban. Atau kedunguan? O, aku menyadari kemudian bahwa ada yang kurang: telah kumasuki kota sarat sejarah dengan kepala kosong, seolah memasuki lorong panjang tanpa peta! Buta. Hampa.

Tentu, aku sering dengar cerita ''orang rantai'', misalnya, tapi aku tak tahu bahwa di Sawahlunto ''orang rantai'' justru terbantai oleh ganasnya tangan kolonial; sesuatu yang terbalik dari cerita di kampung. Dalam cerita kampung, ''orang rantai'' digambarkan suka memenggal kepala anak-anak untuk fondasi jembatan --mirip kepala kambing dalam persembahan. Tapi aku tahu, cerita itu sengaja diembuskan untuk menakut-nakuti orang kampung supaya tidak menolong mereka yang melarikan diri dari kamp rudapaksa, di mana mereka memang dirantai satu sama lain selayaknya kuda beban.

Kini, tiap kali ingat sudut kota tua itu, berbagai hal di balik keringat para kuli dan segala yang berdiri, datang bertubi. Kadang mengalahkan keberadaan kota itu sendiri. Ketika kubayangkan menara masjid tua di kaki bukit, yang terbayang bukan kubahnya atau corong mikrofon di ketinggiannya, justru muasal menara itu; bekas cerobong pembangkit listrik zaman Belanda. Begitu pula membayangkan stasiun kota, selalu berimpit dengan sejarah serangan berdarah orang-orang ''rumah tinggi'' dari Silungkang, yang dianggap tergesa, dan konon Tan Malaka belum lagi merestuinya.

Aku lantas percaya, sebuah kota tak hanya dibangun dengan arsitektur dan tata-ruang, juga tekstur, raung dan air mata. Sambil mengingat ujung jariku yang pernah menyentuh debu dinding gereja, sekaligus menyeka peluh di bawah menara masjid tua, aku merasa Sawahlunto tidak dibangun penguasa kolonial, melainkan pribumilah yang mempertaruhkan nyawa menggali perut bumi. Tapi benarkah kota ini bakal ada jika tak ada senjata, lecut cambuk, dan tali rantai? Di bawah kolonial memang dibangun gudang atau loji, perkantoran, rel kereta bahkan hingga ke pantai, Ema Haven; juga penjara, meski sebenarnya para buruhlah membangun itu dengan darah dan nanahnya. Tentu, tak satu pun dari yang mereka bangun ikut mereka nikmati, kecuali pasti pahitnya penjara.

Ya, sebuah penjara yang sampai kini masih berdiri di tengah kota, dijadikan kantor polisi. Tapi tak kutahu apakah para perwira menganggap markas mereka cukup berarti atau merasa terlalu tua dan sempit untuk ditempati, sehingga siapa tahu minta diganti? Dan itu berarti ada yang bakal runtuh. Aku pernah memasukinya, sekali, menemui seorang paman yang bertugas di situ, tapi suara-suara di dalamnya terasa terus bergema sampai sekarang, bagai memasuki lorong tambang. Di kepalaku, gema itu mengejutkan ribuan kelelawar, yang serentak berhamburan bagai kebangkitan roh-roh malang; mengusir kawanan pipit di sebidang sawah, dulu kulihat begitu manis, namun kini terasa sebagai cover majalah kelewat romantis dalam hidup yang hitam dan pahit...

***

MUAROLABUH. Ini kota, kukenang dengan separo rasa asing. Berhadapan punggung dengan daerahku, hanya dibatasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang dilindungi --meski diam-diam ditebangi, badak dan harimaunya diburu-- mestinya aku gampang ke situ. Tapi tidak. Bertahun-tahun kami dipisahkan hutan yang disakralkan sebagai paru-paru dunia, sehingga tak seutas jalan pun boleh melintasinya. Padahal ada sebuah jalan terbengkalai, antara Kambang-Muarolabuh, jika itu diizinkan diselesaikan, tentu daerahku bangkit dari kutukan ''jalan seutas benang'', sebab ada simpang ke pedalaman. Selama ini, jalan utama di daerahku hanya satu rentang, dari Lunang ke Padang. Bila ada jembatan putus atau longsor, putuslah hubungan dengan dunia luar. Kecuali jalan itu dibangun, tentu kami punya pintu belakang. Dan itu tak tembus-tembus sampai sekarang, sehingga hubungan kami dengan Muarolabuh terasa aneh: dekat tapi jauh, dan begitulah selamanya...

Banyak cerita di kampungku bersumber dari sini; naga di hulu sungai, dan asal-usul nenek-moyang. Beberapa sungai besar di daerahku, berhulu di sekitar Muarolabuh. Konon di situ bersemayam naga raksasa yang suatu ketika akan turun menyusuri muara, dan itu berarti bencana. Tapi, pastilah hanya sebatas cerita. Yang tidak mengada-ada ialah soal asal-usul, di mana menurut tambo dan silsilah, memang benar nenek-moyang kami dari Luhak Nan Tuo di sekitar Pagaruyung, lalu turun ke ranah Sungai Pagu, Muarolabuh. Dari Muarolabuh, mereka melintasi Bukit Barisan, turun ke pesisir, menetap, beranak-pinak membangun kampung.

Tapi meskipun Muarolabuh terasa dekat, sebenarnya ia cukup jauh. Kita mesti menempuh jalan melingkar ke Padang dulu, naik Bukit Sitinjau Laut, ke arah Solok Selatan, atau dari Sungai Penuh ke arah Gunung Talang. Karenanya, hanya sekali waktu aku melewatinya, ketika remaja, naik bis dari Sungai Penuh (kota lain dalam ingatanku). Bis berhenti cukup lama dan aku turun melihat-lihat suasana. O, kota yang dingin, bergerak pelan, meski terasa lebih pasti dibanding kampungku yang panas dan merana. Kususuri jalan kecil di sekitar terminal. Waktu itu hujan baru saja reda. Kuisi paru-paruku dengan udara gunung, lalu kuhembuskan perasaan asing yang mengepung dada remajaku. Sungguh, aku ingin lebih lama, berjalan terus sekian putaran di kota kecil Muarolabuh, tetapi klakson bis sudah memanggil-manggil dan aku mesti berbalik.

Di tikungan, sebuah pedati lewat dengan nyaring genta. Tak terduga, rodanya masuk ke lubang jalan, berupa selokan kecil. Lubang itu tergenang air hujan. Meski terasa lamban, air itu menciprat juga ke arahku. Mestinya aku bisa menghindar, tapi tidak; kubiarkan air selokan menciprat kaki celanaku, dan dengan itu aku bergegas kembali ke bis sambil mengamsalnya sebagai tegur-sapa yang manis. Tanpa perlu mengibasnya, aku duduk di bis yang melaju, dengan mata kaki terasa dingin. Di luar kaca jendela, rumah-rumah di tepi jalan kota kecil itu mulai ditinggalkan. O, kuingin memungutnya kembali, satu-satu, menyimpannya di saku atau laci, yang membuatku gemetar tiap kali tersentuh ujung jari.

***

SUNGAI PENUH. Ibu kota Kabupaten Kerinci ini, boleh dikata kota kecil di tengah hutan. Kita baru akan sampai setelah semalaman membenamkan pantat di bangku bis Anak Gunung atau Cahaya Kerinci, menembus pekat hutan TNKS, dengan jalanan sempit dan berlubang --dari arah mana pun kita datang; Tapan, Solok Selatan atau Sarolangun, Jambi. Tapi, ketika fajar menyingsing, dan bis tinggal menuruni perbukitan ke lembah, mata kita terbuka, seiring berangsur padamnya lampu-lampu kota. Lalu hutan dan pepohonan memperlihatkan wujudnya di sekeliling kita. Begitu sempurna. Bahkan rumput dan bunga-bunga yang menjulai ke badan jalan ikut menggores kaca jendela. Perlahan dikuakkan badan bis yang berlumpur. Penat perjalanan sirnalah. Kita bagai pengembara yang tersesat di tengah hutan, dan tiba-tiba menemukan sebuah kota!

Kedatangan pertamaku berbekal status koresponden sebuah koran lokal. Atas inisiatif dan kegelisahanku sendiri. Mengapa tak sesekali meliput kabupaten tetangga yang secara historis sangat dekat hubungannya dengan daerahku? Karena itulah aku berangkat. Waktu itu dunia bagiku terasa sangat luas, dan Sungai Penuh bukanlah kota yang mudah dijangkau. Kedatangan kedua, numpang lewat, sebab tujuan utamaku kebun teh Kayu Aro, di kaki Gunung Kerinci. Tapi jumpa pertama dan kedua, sama debarnya, sama takjubnya, dan kini menyatu dalam geliat ingatan yang luar biasa ajaibnya.

Kota itu seperti piring terbang bercahaya, terdampar ke bumi di tengah hutan-raya. Dan setiap kukenang, cahayanya terasa menyilaukan mata. O, seleret cahaya terpancar dari gereja beratap runcing serupa pemancar di lereng tebing. Cahaya lain muncul dari rumah-rumah yang berderet di kaki bukit, sampai ke tepi sungai terdekat, di bawah hijau hutan pinus menusuk langit. Cahaya terkuat tentu saja datang dari arah pasar dan pusat kota di mana ada sebuah tugu menyerupai Monas kecil terlihat anggun meski tak terawat. Selepas itu, ambil jalan ke kiri, itulah jalan naik ke Kampung Tinggi tempat masjid tua masih kokoh berdiri bersama rumah-rumah panjang dari kayu hutan Sumatera.

Di hari lain, aku naik ke Bukit Sentiong memandang keseluruhan kota sambil mendengar cerita seorang kenalan. Dulu, katanya, bukit itu jadi tempat muda-mudi memadu kasih. Suatu ketika, penduduk menangkap basah sepasang sejoli sedang bercinta di semak-semak, dan di luar dugaan, keduanya melompat ke jurang, ke arah jalan raya. Mereka tewas seperti berpelukan di aspal. Sejak itu tak ada lagi muda-mudi sudi mampir ke situ. Benar atau tidak, membayangkan cerita itu, tengkukku merinding seperti membaca cerita Harimau, Harimau dan Kuli Kontrak-nya Mochtar Lubis. Kebetulan, masa kecil Mochtar memang dihabiskan di Sungai Penuh, dengan hutan, satwa, dan ladang-ladangnya yang tak sepenuhnya mendatangkan bahagia...

***

LUBUK LINGGAU. Kota ini seperti gerbong yang panjang. Aku memasukinya setelah sebelumnya bis yang kutumpangi berhenti di sebuah kampung, di mana sungai berkelok bertubrukan langsung dengan tebing jalan, tapi tidak sampai longsor. Orang-orang salat di mushala kecil di atas tebing berpagar pohon duku dan pinang. Lalu bis kembali laju. Dan terbacalah nama Lubuk Linggau, kota yang memanjang, tanpa cecabang, kecuali sedikit simpang, di tepi jalan lintas Sumatera.

Bis berhenti lagi di rumah makan dekat simpang ke Bengkulu. Dari balik jendela, aku menyaksikan orang-orang transit berganti bis, tentu di antara dentang ban yang dicongkel. Saat melanjutkan perjalanan, aku memandang deretan gedung dan rumah-rumah, tak kunjung habis, seperti gerbong yang memanjang menyeret ingatan. Di bis yang melaju, aku tak tahu, akukah yang bergerak, atau rumah-rumah itu. Dan bilamana rumah-rumah mulai jarang, aku telah bersiap menikmati pemandangan yang bertolak-belakang: jalananan panjang yang lengang. O, aku merasa sedang menyusuri jalan pulang! Padahal, aku menuju arah yang berlawanan...

***

BANYUMAS. Selepas jalan mendaki melewati hutan karet, kita akan turun ke sebuah lembah di ceruk perbukitan. Di sana, segera terlihat bangunan-bangunan tua yang memudar warnanya, dan yang mencolok tentu saja sebuah sekolah dan rumah sakit dekat tikungan. Bahkan sebuah lapangan rumput ikut pudar kehijauannya, padahal kota ini berhawa sejuk. Ah, Banyumas, sejak pertama jumpa, bayangan kota kecil yang redup terus terasa; masa berakhirnya pamor kota keresidenan, dan semua tinggal kenangan. Bis-bis naik-turun tanjakan, tapi hanya lewat, sebab memburu kota lain yang berdenyut hidup, Purwokerto, di barat: kota yang punya terminal, toko, kantor, dan stasiun besar.

Sebelas tahun lalu, aku melewati Banyumas pertama kali, di atas bis ekonomi yang menepi sebab ban belakangnya pecah. Orang-orang turun dan berjongkok memperhatikan kernet mengganti ban, sementara aku menggumamkan nama Banyumas berulang-ulang, sambil memperhatikan sekeliling. Sungguh terasa asing! Inikah bekas ibu kota keresidenan zaman kolonial yang namanya sekaligus merujuk wilayah yang begitu luas? Alangkah sedikit jejak tertinggal. Bahkan tak ada terminal, atau stasiun kecil, sehingga lengkaplah ia kini sebagai kota pelintasan yang lengang.

Dalam perkembangannya kemudian, mungkin sudah puluhan kali aku melintasi kota ini, namun tiap kali lewat, ingatanku tetap saja sama --seperti pertama kali berjumpa: pudar dan hampa. Aneh, tiba-tiba aku teringat masa tua!

***

Cerpen Raudal Tanjung Banua

Pernahkah Anda singgah di sebuah kota dan merasa seolah itu kota pertama yang Anda singgahi di dunia? Aku pernah. Dan itu adalah kota-kota kecil yang kusinggahi kali pertama, baik secara harfiah --karena memang baru kali itu melakukan perjalanan jauh-- maupun yang pernah kusinggahi dengan rasa berbeda: sekelabat ingatan, tapi begitu dalam, kadang kujumpai kembali dengan kegugupan, ketakjuban panjang, dan tak jarang tergeragap dalam pandangan, yang rasa-rasanya selalu pertama. Beberapa terus mengendap di kepalaku, tak mau pergi; meski tak semuanya berkembang; beberapa memudar seirama bayang-bayang, tapi tak juga lenyap atau hilang...Izinkan aku membilang, satu-satu, siapa tahu Anda juga mengingat sesuatu, dekat atau jauh, di ranah ibu atau di seberang...

***

KAYU TANAM. Kota kecil dengan deretan pohon durian dan sekolah tua yang bersejarah, tak pernah kulupakan; meskipun kedua penanda ingatan itu mungkin mulai tak berbuah, atau ditebangi; dan sekolah INS warisan Engku Syafe'i yang pernah dikelola sastrawan Navis kian merana, tapi rasanya inilah kota kecil pertama tempatku singgah di dunia! Singgah bertahun silam, jadi kenangan begitu dalam. Saat itu bis carteran orang kampungku untuk wisata hari raya berhenti di tepi jalan, lalu kami makan nasi ketan campur durian, enak nian. Ibuku mengeluarkan penganan dan itu pun kami habiskan.

Jalan mendaki, tak terlihat persimpangan atau perempatan, namun jalanan padat selalu oleh kendaraan dari, dan menuju Padang Panjang --lewat Lembah Anai. Sebelum Padang Panjang, kota hujan di celah gunung, Kayu Tanamlah kota penyangga lintasan ini: penghubung kota-kota darek (pedalaman Minangkabau) dengan kota pesisir yang panas. Aku takjub mendengar nyaring klakson bis, dan truk berderak-derak, sesekali rem mencericit atau deram mesin di tanjakan. Aku pandangi semua yang lewat, hingga samar di balik pepohonan, lantas menghilang di tikungan. Kami pun berbenah. Ibu membungkus kembali rantang kotor dengan kain tetoron, bagai membungkus kenangan yang selalu dapat kutonton berulang-ulang. Kini, tiap kali melihat pohon durian, aku selalu tersirap, dan ingat, itu seolah tertanam di tepi jalan kota kecil Kayu Tanam...

***

SAWAHLUNTO. Seutas jalan memasuki cekungan, serupa lubang pusar, itulah Sawahlunto. Terminal, pasar, stasiun, berpusar di kedalaman dasar, diaduk-aduk putaran waktu sejak jauh dulu. Jalanannya sendiri ibarat tali pusar yang ujungnya menghunjam lebih dalam ke perut bumi. Memasukinya, seolah kita bertamu ke kota liliput --di mana segalanya serbamini-- tapi jelas bukan kota para pengecut. Orang bilang kota arang, karena hidup dari lorong tambang. Kota kuali, berpagar perbukitan, menggelegakkan keringat para kuli. Ketika pertama singgah (dan kini tak pernah lagi), aku tak punya bayangan apa-apa di balik keringat para kuli dan bangunan yang berdiri. Suatu keberuntungan! Keberuntungan? Ya, kunikmati ia tanpa beban. Atau kedunguan? O, aku menyadari kemudian bahwa ada yang kurang: telah kumasuki kota sarat sejarah dengan kepala kosong, seolah memasuki lorong panjang tanpa peta! Buta. Hampa.

Tentu, aku sering dengar cerita ''orang rantai'', misalnya, tapi aku tak tahu bahwa di Sawahlunto ''orang rantai'' justru terbantai oleh ganasnya tangan kolonial; sesuatu yang terbalik dari cerita di kampung. Dalam cerita kampung, ''orang rantai'' digambarkan suka memenggal kepala anak-anak untuk fondasi jembatan --mirip kepala kambing dalam persembahan. Tapi aku tahu, cerita itu sengaja diembuskan untuk menakut-nakuti orang kampung supaya tidak menolong mereka yang melarikan diri dari kamp rudapaksa, di mana mereka memang dirantai satu sama lain selayaknya kuda beban.

Kini, tiap kali ingat sudut kota tua itu, berbagai hal di balik keringat para kuli dan segala yang berdiri, datang bertubi. Kadang mengalahkan keberadaan kota itu sendiri. Ketika kubayangkan menara masjid tua di kaki bukit, yang terbayang bukan kubahnya atau corong mikrofon di ketinggiannya, justru muasal menara itu; bekas cerobong pembangkit listrik zaman Belanda. Begitu pula membayangkan stasiun kota, selalu berimpit dengan sejarah serangan berdarah orang-orang ''rumah tinggi'' dari Silungkang, yang dianggap tergesa, dan konon Tan Malaka belum lagi merestuinya.

Aku lantas percaya, sebuah kota tak hanya dibangun dengan arsitektur dan tata-ruang, juga tekstur, raung dan air mata. Sambil mengingat ujung jariku yang pernah menyentuh debu dinding gereja, sekaligus menyeka peluh di bawah menara masjid tua, aku merasa Sawahlunto tidak dibangun penguasa kolonial, melainkan pribumilah yang mempertaruhkan nyawa menggali perut bumi. Tapi benarkah kota ini bakal ada jika tak ada senjata, lecut cambuk, dan tali rantai? Di bawah kolonial memang dibangun gudang atau loji, perkantoran, rel kereta bahkan hingga ke pantai, Ema Haven; juga penjara, meski sebenarnya para buruhlah membangun itu dengan darah dan nanahnya. Tentu, tak satu pun dari yang mereka bangun ikut mereka nikmati, kecuali pasti pahitnya penjara.

Ya, sebuah penjara yang sampai kini masih berdiri di tengah kota, dijadikan kantor polisi. Tapi tak kutahu apakah para perwira menganggap markas mereka cukup berarti atau merasa terlalu tua dan sempit untuk ditempati, sehingga siapa tahu minta diganti? Dan itu berarti ada yang bakal runtuh. Aku pernah memasukinya, sekali, menemui seorang paman yang bertugas di situ, tapi suara-suara di dalamnya terasa terus bergema sampai sekarang, bagai memasuki lorong tambang. Di kepalaku, gema itu mengejutkan ribuan kelelawar, yang serentak berhamburan bagai kebangkitan roh-roh malang; mengusir kawanan pipit di sebidang sawah, dulu kulihat begitu manis, namun kini terasa sebagai cover majalah kelewat romantis dalam hidup yang hitam dan pahit...

***

MUAROLABUH. Ini kota, kukenang dengan separo rasa asing. Berhadapan punggung dengan daerahku, hanya dibatasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang dilindungi --meski diam-diam ditebangi, badak dan harimaunya diburu-- mestinya aku gampang ke situ. Tapi tidak. Bertahun-tahun kami dipisahkan hutan yang disakralkan sebagai paru-paru dunia, sehingga tak seutas jalan pun boleh melintasinya. Padahal ada sebuah jalan terbengkalai, antara Kambang-Muarolabuh, jika itu diizinkan diselesaikan, tentu daerahku bangkit dari kutukan ''jalan seutas benang'', sebab ada simpang ke pedalaman. Selama ini, jalan utama di daerahku hanya satu rentang, dari Lunang ke Padang. Bila ada jembatan putus atau longsor, putuslah hubungan dengan dunia luar. Kecuali jalan itu dibangun, tentu kami punya pintu belakang. Dan itu tak tembus-tembus sampai sekarang, sehingga hubungan kami dengan Muarolabuh terasa aneh: dekat tapi jauh, dan begitulah selamanya...

Banyak cerita di kampungku bersumber dari sini; naga di hulu sungai, dan asal-usul nenek-moyang. Beberapa sungai besar di daerahku, berhulu di sekitar Muarolabuh. Konon di situ bersemayam naga raksasa yang suatu ketika akan turun menyusuri muara, dan itu berarti bencana. Tapi, pastilah hanya sebatas cerita. Yang tidak mengada-ada ialah soal asal-usul, di mana menurut tambo dan silsilah, memang benar nenek-moyang kami dari Luhak Nan Tuo di sekitar Pagaruyung, lalu turun ke ranah Sungai Pagu, Muarolabuh. Dari Muarolabuh, mereka melintasi Bukit Barisan, turun ke pesisir, menetap, beranak-pinak membangun kampung.

Tapi meskipun Muarolabuh terasa dekat, sebenarnya ia cukup jauh. Kita mesti menempuh jalan melingkar ke Padang dulu, naik Bukit Sitinjau Laut, ke arah Solok Selatan, atau dari Sungai Penuh ke arah Gunung Talang. Karenanya, hanya sekali waktu aku melewatinya, ketika remaja, naik bis dari Sungai Penuh (kota lain dalam ingatanku). Bis berhenti cukup lama dan aku turun melihat-lihat suasana. O, kota yang dingin, bergerak pelan, meski terasa lebih pasti dibanding kampungku yang panas dan merana. Kususuri jalan kecil di sekitar terminal. Waktu itu hujan baru saja reda. Kuisi paru-paruku dengan udara gunung, lalu kuhembuskan perasaan asing yang mengepung dada remajaku. Sungguh, aku ingin lebih lama, berjalan terus sekian putaran di kota kecil Muarolabuh, tetapi klakson bis sudah memanggil-manggil dan aku mesti berbalik.

Di tikungan, sebuah pedati lewat dengan nyaring genta. Tak terduga, rodanya masuk ke lubang jalan, berupa selokan kecil. Lubang itu tergenang air hujan. Meski terasa lamban, air itu menciprat juga ke arahku. Mestinya aku bisa menghindar, tapi tidak; kubiarkan air selokan menciprat kaki celanaku, dan dengan itu aku bergegas kembali ke bis sambil mengamsalnya sebagai tegur-sapa yang manis. Tanpa perlu mengibasnya, aku duduk di bis yang melaju, dengan mata kaki terasa dingin. Di luar kaca jendela, rumah-rumah di tepi jalan kota kecil itu mulai ditinggalkan. O, kuingin memungutnya kembali, satu-satu, menyimpannya di saku atau laci, yang membuatku gemetar tiap kali tersentuh ujung jari.

***

SUNGAI PENUH. Ibu kota Kabupaten Kerinci ini, boleh dikata kota kecil di tengah hutan. Kita baru akan sampai setelah semalaman membenamkan pantat di bangku bis Anak Gunung atau Cahaya Kerinci, menembus pekat hutan TNKS, dengan jalanan sempit dan berlubang --dari arah mana pun kita datang; Tapan, Solok Selatan atau Sarolangun, Jambi. Tapi, ketika fajar menyingsing, dan bis tinggal menuruni perbukitan ke lembah, mata kita terbuka, seiring berangsur padamnya lampu-lampu kota. Lalu hutan dan pepohonan memperlihatkan wujudnya di sekeliling kita. Begitu sempurna. Bahkan rumput dan bunga-bunga yang menjulai ke badan jalan ikut menggores kaca jendela. Perlahan dikuakkan badan bis yang berlumpur. Penat perjalanan sirnalah. Kita bagai pengembara yang tersesat di tengah hutan, dan tiba-tiba menemukan sebuah kota!

Kedatangan pertamaku berbekal status koresponden sebuah koran lokal. Atas inisiatif dan kegelisahanku sendiri. Mengapa tak sesekali meliput kabupaten tetangga yang secara historis sangat dekat hubungannya dengan daerahku? Karena itulah aku berangkat. Waktu itu dunia bagiku terasa sangat luas, dan Sungai Penuh bukanlah kota yang mudah dijangkau. Kedatangan kedua, numpang lewat, sebab tujuan utamaku kebun teh Kayu Aro, di kaki Gunung Kerinci. Tapi jumpa pertama dan kedua, sama debarnya, sama takjubnya, dan kini menyatu dalam geliat ingatan yang luar biasa ajaibnya.

Kota itu seperti piring terbang bercahaya, terdampar ke bumi di tengah hutan-raya. Dan setiap kukenang, cahayanya terasa menyilaukan mata. O, seleret cahaya terpancar dari gereja beratap runcing serupa pemancar di lereng tebing. Cahaya lain muncul dari rumah-rumah yang berderet di kaki bukit, sampai ke tepi sungai terdekat, di bawah hijau hutan pinus menusuk langit. Cahaya terkuat tentu saja datang dari arah pasar dan pusat kota di mana ada sebuah tugu menyerupai Monas kecil terlihat anggun meski tak terawat. Selepas itu, ambil jalan ke kiri, itulah jalan naik ke Kampung Tinggi tempat masjid tua masih kokoh berdiri bersama rumah-rumah panjang dari kayu hutan Sumatera.

Di hari lain, aku naik ke Bukit Sentiong memandang keseluruhan kota sambil mendengar cerita seorang kenalan. Dulu, katanya, bukit itu jadi tempat muda-mudi memadu kasih. Suatu ketika, penduduk menangkap basah sepasang sejoli sedang bercinta di semak-semak, dan di luar dugaan, keduanya melompat ke jurang, ke arah jalan raya. Mereka tewas seperti berpelukan di aspal. Sejak itu tak ada lagi muda-mudi sudi mampir ke situ. Benar atau tidak, membayangkan cerita itu, tengkukku merinding seperti membaca cerita Harimau, Harimau dan Kuli Kontrak-nya Mochtar Lubis. Kebetulan, masa kecil Mochtar memang dihabiskan di Sungai Penuh, dengan hutan, satwa, dan ladang-ladangnya yang tak sepenuhnya mendatangkan bahagia...

***

LUBUK LINGGAU. Kota ini seperti gerbong yang panjang. Aku memasukinya setelah sebelumnya bis yang kutumpangi berhenti di sebuah kampung, di mana sungai berkelok bertubrukan langsung dengan tebing jalan, tapi tidak sampai longsor. Orang-orang salat di mushala kecil di atas tebing berpagar pohon duku dan pinang. Lalu bis kembali laju. Dan terbacalah nama Lubuk Linggau, kota yang memanjang, tanpa cecabang, kecuali sedikit simpang, di tepi jalan lintas Sumatera.

Bis berhenti lagi di rumah makan dekat simpang ke Bengkulu. Dari balik jendela, aku menyaksikan orang-orang transit berganti bis, tentu di antara dentang ban yang dicongkel. Saat melanjutkan perjalanan, aku memandang deretan gedung dan rumah-rumah, tak kunjung habis, seperti gerbong yang memanjang menyeret ingatan. Di bis yang melaju, aku tak tahu, akukah yang bergerak, atau rumah-rumah itu. Dan bilamana rumah-rumah mulai jarang, aku telah bersiap menikmati pemandangan yang bertolak-belakang: jalananan panjang yang lengang. O, aku merasa sedang menyusuri jalan pulang! Padahal, aku menuju arah yang berlawanan...

***

BANYUMAS. Selepas jalan mendaki melewati hutan karet, kita akan turun ke sebuah lembah di ceruk perbukitan. Di sana, segera terlihat bangunan-bangunan tua yang memudar warnanya, dan yang mencolok tentu saja sebuah sekolah dan rumah sakit dekat tikungan. Bahkan sebuah lapangan rumput ikut pudar kehijauannya, padahal kota ini berhawa sejuk. Ah, Banyumas, sejak pertama jumpa, bayangan kota kecil yang redup terus terasa; masa berakhirnya pamor kota keresidenan, dan semua tinggal kenangan. Bis-bis naik-turun tanjakan, tapi hanya lewat, sebab memburu kota lain yang berdenyut hidup, Purwokerto, di barat: kota yang punya terminal, toko, kantor, dan stasiun besar.

Sebelas tahun lalu, aku melewati Banyumas pertama kali, di atas bis ekonomi yang menepi sebab ban belakangnya pecah. Orang-orang turun dan berjongkok memperhatikan kernet mengganti ban, sementara aku menggumamkan nama Banyumas berulang-ulang, sambil memperhatikan sekeliling. Sungguh terasa asing! Inikah bekas ibu kota keresidenan zaman kolonial yang namanya sekaligus merujuk wilayah yang begitu luas? Alangkah sedikit jejak tertinggal. Bahkan tak ada terminal, atau stasiun kecil, sehingga lengkaplah ia kini sebagai kota pelintasan yang lengang.

Dalam perkembangannya kemudian, mungkin sudah puluhan kali aku melintasi kota ini, namun tiap kali lewat, ingatanku tetap saja sama --seperti pertama kali berjumpa: pudar dan hampa. Aneh, tiba-tiba aku teringat masa tua!

***

TANJUNG. Terbangun dari tidur di bis yang lamban, kudapatkan menara api berkobar di perempatan. Kugosok mataku dengan sebelah punggung tangan, dan obor besar itu terasa kian berkobar. Api apakah ini? Tak biasanya kulihat tugu seperti ini: di udara terbuka api tetap nyala. Kucari-cari nama kota, tak satu pun terbaca. Tapi api tak kunjung padam itu, jadi penanda untuk bertanya soal nama kemudian.

''Kalau yang kaumaksud kota bermenara api dekat perbatasan dengan Kaltim, namanya Tanjung, ibu kota Tabalong. Apinya nyala sendiri sebab minyaknya disedot langsung dari perut bumi,'' begitu jawab seorang kawan ketika aku sampai di Banjarmasin. Sukar membedakan, apakah yang kuingat dari Tanjung benar-benar keseluruhan kotanya, atau sekadar apinya yang berkobar. Jujur, bayanganku atas kota itu samar-kelabu, seperti kelimun kabut subuh. Jadi, yang terakhir lebih benar. Namun, api yang menari pun terkadang ikut samar, tiap kali aku menyangkutkan ingatan pada penanda yang abadi itu. Susah-payah, kubuat lagi ia nyala, kadang kugosok mataku bahkan dengan kedua (bukan sebelah) punggung tangan agar segalanya berkobar; lintasan, kenangan, dan ketakjuban pertama yang tak terlupakan!

***

DUMAI. Kutemui kota ini setelah melewati jalanan sempit di antara semak rengsam, kebun nanas setengah jadi, angguk kilang minyak setengah hati, dan pipa baja yang memanjang sampai ke pelabuhan, berkilau di bawah panas matahari. Becak-becak ala Sumatera --pengayuhnya di samping kanan-- tua dan goyah, melaju tanpa gairah di tengah kota, sampai ke gang-gang sempit dari kayu, menyerupai dermaga, di atas rawa-rawa. Sebuah becak mengantarku ke rumah saudara dan kawan lama, di gang becek berlumpur sebab jalan kayunya telah lapuk dan patah.

Aku langsung permisi ke belakang, hendak mencuci muka yang terasa terpanggang. Di tepian sumur tanah, lama kupandangi genangan air, meski sudah dibuatkan alat penyaring sederhana dari drum berisi pasir, tapi tetap berwarna kuning-keruh bercampur aroma minyak mentah. Aku berpikir, mana lebih berarti minyak atau air? Terus aku bertanya dalam hati, sambil bercermin di air berjelaga, sia-sia.

Tapi, jika pertanyaan itu diajukan kepada penghuni gang-gang sempit, yang kebanyakan tukang becak dan kuli angkut ini, aku yakin jawabannya air. Sebab untuk minum dan mencuci, mereka harus memesan dari truk tangki yang hanya bisa parkir di ujung gang; dan mereka mesti mengangkatnya lagi ke rumah-rumah papan, seperti mengangkut barang di pelabuhan. Jadi, minyak sungguh tak berarti. Juga pelabuhan, pulau-pulau dan bangsa serumpun di seberang itu. Bagi orang seperti saudara dan kawan lamaku, semua itu hanya cerita masa lalu dan dongeng indah masa kini. Apa artinya bangsa serumpun? Apa maknanya pelabuhan dan minyak bumi?

Dan celaka, di tanganku, cerita itu pun gagal tersampaikan selayaknya gema suara mereka yang menderita. Kenangan pada sebuah kota sering membuat tanganku lemah, hingga tak mampu membedakan tindakan dan kelangenan. Mungkin aku harus kembali, tinggal di rumah papan nestapa, dan berbaur lebih lama dengan mereka yang sejinak burung-burung gereja.

***

BELINYU. Di Belinyu, Bangka, ada sebuah kedai kopi paling tua, dekat tanjakan rendah, tapi aku tak mampir ke sana. Aku hanya mendengar cakap berpiuh, campur-aduk, dengan berbagai logat dan aksen, juga bahasa, sampai larut. Sejak aku turun ke arah pusat kota --melintasi toko-toko kayu, rumah-rumah walet-- hingga naik kembali menuju rumah-rumah dinas bekas milik perusahaan timah, kedai kopi itu belum juga mengantuk. Aku panjangkan leherku, menjenguk sambil lalu, dan tampak orang-orang mereguk dan mengaduk minumannya dengan bahagia. Tapi, ketika kupertajam telinga, suara mereka seperti berasal dari rumah walet yang gelap dan berbahaya.

***

TRENGGALEK. Adakah kota sesenyap ini, dari yang pernah kusinggahi? Trenggalek, tampaknya yang terhening bagiku. Tengah hari, dari pasar induk di pusat kota, satu-satunya suara dalam nada nyanyi berulangkali ialah rekaman kaset gerobak es krim yang mangkal di parkiran. Sore hari, di alun-alun kota, orang-orang bercengkerama seolah bercakap dalam rumah. Malam hari, kesenyapan menjalar ke Hotel Gotong-Royong milik sebuah koperasi yang kami tempati, setelah pihak hotel terlebih dulu memeriksa surat nikah bagi yang menginap, dan dengan cara itu kesenyapan lain menyelinap...

Di bis yang penuh anak-anak sekolah, jarang terdengar suara cerita atau tawa, sehingga kita baru sadar bahwa bis penuh justru ketika penumpangnya turun satu per satu di depan rumah mereka yang terlindung pohon asam Jawa. Bila aku ditanya kota tersenyap, rasanya tak perlu kujawab. Cukup mengingat kota kecil di antara Pegunungan Seribu dan Pegunungan Kidul, dan pantainya penuh lekuk-teluk itu --maka kesenyapan antara kita, diam-diam, menjalarlah.

Begitulah kota-kota kecil yang pernah kusinggahi, dengan sekelabat ingatan, kadang kujumpai kembali dengan kegugupan, ketakjuban panjang dan tak jarang tergeragap dalam pandangan, yang rasa-rasanya selalu pertama. Beberapa terus mengendap di kepalaku, tak mau pergi; meski tak semuanya berkembang; beberapa memudar seirama bayang-bayang, tapi tak juga lenyap atau hilang...Telah kubilang, satu-satu, meski aku tak tahu apakah Anda juga merasa perlu mengingat sesuatu, dekat atau jauh, di ranah ibu atau di seberang, lalu segera mengambil tindakan, atau memutuskan: persetan dengan kelangenan!

/Rumahlebah Yogyakarta, 2007-2008. Terbangun dari tidur di bis yang lamban, kudapatkan menara api berkobar di perempatan. Kugosok mataku dengan sebelah punggung tangan, dan obor besar itu terasa kian berkobar. Api apakah ini? Tak biasanya kulihat tugu seperti ini: di udara terbuka api tetap nyala. Kucari-cari nama kota, tak satu pun terbaca. Tapi api tak kunjung padam itu, jadi penanda untuk bertanya soal nama kemudian.

''Kalau yang kaumaksud kota bermenara api dekat perbatasan dengan Kaltim, namanya Tanjung, ibu kota Tabalong. Apinya nyala sendiri sebab minyaknya disedot langsung dari perut bumi,'' begitu jawab seorang kawan ketika aku sampai di Banjarmasin. Sukar membedakan, apakah yang kuingat dari Tanjung benar-benar keseluruhan kotanya, atau sekadar apinya yang berkobar. Jujur, bayanganku atas kota itu samar-kelabu, seperti kelimun kabut subuh. Jadi, yang terakhir lebih benar. Namun, api yang menari pun terkadang ikut samar, tiap kali aku menyangkutkan ingatan pada penanda yang abadi itu. Susah-payah, kubuat lagi ia nyala, kadang kugosok mataku bahkan dengan kedua (bukan sebelah) punggung tangan agar segalanya berkobar; lintasan, kenangan, dan ketakjuban pertama yang tak terlupakan!

***

DUMAI. Kutemui kota ini setelah melewati jalanan sempit di antara semak rengsam, kebun nanas setengah jadi, angguk kilang minyak setengah hati, dan pipa baja yang memanjang sampai ke pelabuhan, berkilau di bawah panas matahari. Becak-becak ala Sumatera --pengayuhnya di samping kanan-- tua dan goyah, melaju tanpa gairah di tengah kota, sampai ke gang-gang sempit dari kayu, menyerupai dermaga, di atas rawa-rawa. Sebuah becak mengantarku ke rumah saudara dan kawan lama, di gang becek berlumpur sebab jalan kayunya telah lapuk dan patah.

Aku langsung permisi ke belakang, hendak mencuci muka yang terasa terpanggang. Di tepian sumur tanah, lama kupandangi genangan air, meski sudah dibuatkan alat penyaring sederhana dari drum berisi pasir, tapi tetap berwarna kuning-keruh bercampur aroma minyak mentah. Aku berpikir, mana lebih berarti minyak atau air? Terus aku bertanya dalam hati, sambil bercermin di air berjelaga, sia-sia.

Tapi, jika pertanyaan itu diajukan kepada penghuni gang-gang sempit, yang kebanyakan tukang becak dan kuli angkut ini, aku yakin jawabannya air. Sebab untuk minum dan mencuci, mereka harus memesan dari truk tangki yang hanya bisa parkir di ujung gang; dan mereka mesti mengangkatnya lagi ke rumah-rumah papan, seperti mengangkut barang di pelabuhan. Jadi, minyak sungguh tak berarti. Juga pelabuhan, pulau-pulau dan bangsa serumpun di seberang itu. Bagi orang seperti saudara dan kawan lamaku, semua itu hanya cerita masa lalu dan dongeng indah masa kini. Apa artinya bangsa serumpun? Apa maknanya pelabuhan dan minyak bumi?

Dan celaka, di tanganku, cerita itu pun gagal tersampaikan selayaknya gema suara mereka yang menderita. Kenangan pada sebuah kota sering membuat tanganku lemah, hingga tak mampu membedakan tindakan dan kelangenan. Mungkin aku harus kembali, tinggal di rumah papan nestapa, dan berbaur lebih lama dengan mereka yang sejinak burung-burung gereja.

***

BELINYU. Di Belinyu, Bangka, ada sebuah kedai kopi paling tua, dekat tanjakan rendah, tapi aku tak mampir ke sana. Aku hanya mendengar cakap berpiuh, campur-aduk, dengan berbagai logat dan aksen, juga bahasa, sampai larut. Sejak aku turun ke arah pusat kota --melintasi toko-toko kayu, rumah-rumah walet-- hingga naik kembali menuju rumah-rumah dinas bekas milik perusahaan timah, kedai kopi itu belum juga mengantuk. Aku panjangkan leherku, menjenguk sambil lalu, dan tampak orang-orang mereguk dan mengaduk minumannya dengan bahagia. Tapi, ketika kupertajam telinga, suara mereka seperti berasal dari rumah walet yang gelap dan berbahaya.

***

TRENGGALEK. Adakah kota sesenyap ini, dari yang pernah kusinggahi? Trenggalek, tampaknya yang terhening bagiku. Tengah hari, dari pasar induk di pusat kota, satu-satunya suara dalam nada nyanyi berulangkali ialah rekaman kaset gerobak es krim yang mangkal di parkiran. Sore hari, di alun-alun kota, orang-orang bercengkerama seolah bercakap dalam rumah. Malam hari, kesenyapan menjalar ke Hotel Gotong-Royong milik sebuah koperasi yang kami tempati, setelah pihak hotel terlebih dulu memeriksa surat nikah bagi yang menginap, dan dengan cara itu kesenyapan lain menyelinap...

Di bis yang penuh anak-anak sekolah, jarang terdengar suara cerita atau tawa, sehingga kita baru sadar bahwa bis penuh justru ketika penumpangnya turun satu per satu di depan rumah mereka yang terlindung pohon asam Jawa. Bila aku ditanya kota tersenyap, rasanya tak perlu kujawab. Cukup mengingat kota kecil di antara Pegunungan Seribu dan Pegunungan Kidul, dan pantainya penuh lekuk-teluk itu --maka kesenyapan antara kita, diam-diam, menjalarlah.

Begitulah kota-kota kecil yang pernah kusinggahi, dengan sekelabat ingatan, kadang kujumpai kembali dengan kegugupan, ketakjuban panjang dan tak jarang tergeragap dalam pandangan, yang rasa-rasanya selalu pertama. Beberapa terus mengendap di kepalaku, tak mau pergi; meski tak semuanya berkembang; beberapa memudar seirama bayang-bayang, tapi tak juga lenyap atau hilang...Telah kubilang, satu-satu, meski aku tak tahu apakah Anda juga merasa perlu mengingat sesuatu, dekat atau jauh, di ranah ibu atau di seberang, lalu segera mengambil tindakan, atau memutuskan: persetan dengan kelangenan!

/Rumahlebah Yogyakarta, 2007-2008

സൌര്സ് : http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=detail&nid=10098
Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers