Sunday, 20 July 2008

Melihat Kehidupan Masyarakat Kecamatan Sapeken, Sumenep

Melihat Kehidupan Masyarakat Kecamatan Sapeken, Sumenep

Kecamatan Sapeken merupakan daerah paling timur di Kabupaten Sumenep. Daerah itu sangat kaya sumber alam. Mulai dari minyak dan gas bumi hingga perikanan. Juga banyak keunikan di kecamatan itu. Apa itu?

A. ZAHRIR RIDLO, Sumenep


SAPEKEN memang berada nun jauh dari daratan Sumenep. Untuk menginjakkan kaki kepualuan ini, butuh 12 jam perjalanan laut dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Perjalanan akan lebih cepat jika menggunakan sarana transportasi udara dari Bandara Juanda. Tapi, mesti mendarat dulu lapangan terbang Pagerungan Besar.

Jalur udara ini bukan jalur komersil. Hanya bagi para pekerja dan tamu perusahaan migas PT Kangean Energy Indonesia (KAI) yang dapat menikmati perjalanan udara melalui jalur itu. Hanya butuh waktu 1 jam 20 menit untuk sampai ke Pagerungan dari Surabaya dengan menaiki pesawat cassa Pelita Air.

Jika mau ke Pulau Sapeken atau pulau-pulau di sekitarnya, bisa naik perahu motor. Paling tidak menghabiskan 1 jam perjalanan antarpulau.

Penduduk Kecamatan Sapeken sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Ini ditandai dengan adanya pelabuhan dan perahu.

Banyak orang menilai, Sapeken mirip Pulau Seribu karena banyaknya gugusan pulau. Pulau Sapeken merupakan ibukota kecamatan. Pulau itu dianggap sebagai “Singapura-nya Madura”. Sebab, pulau-pulau yang wilayahnya lebih luas dibandingkan Pulau Sapeken, malah menjadi desa-desa di bawah kekuasaan Camat Sapeken.

Kecamatan Sapeken memiliki sembilan desa. Yakni, Desa Sakala di Pulau Sekala, Desa Pagerungan Besar di Pulau Pagerungan Besar, Desa Pagerungan Kecil di Pulau Pagerungan Kecil, Desa Tanjung Kiaok dan Desa Sepanjang di Pulau Sepanjang, Desa Sasiil di Pulau Sasiil, Desa Sapeken di Pulau Sapeken, Desa Sabuntan di Pulau Sabuntan, dan Desa Paliat di Pulau Paliat.

Meski mereka masuk wilayah Madura, tapi sedikit sekali warga yang mengerti Bahasa Madura. Menurut warga, nenek moyangnya mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan. Ini terlihat dari bahasa keseharian yang mereka gunakan, yaitu Bahasa Bajo.

Sebenarnya, ada tiga bahasa yang fasih dan sering digunakan warga, yakni Bajo, Mandar, dan Bugis. “Tapi, kami lebih banyak berkomunikasi dengan Bahasa Bajo. Malah, kalau Bahasa Madura, kami tidak mengerti,” kata warga Desa Tanjung Kiok, Wahyu, kepada koran ini.

Ketika koran ini berbicara dengan warga menggunakan Bahasa Madura, mereka hanya bisa mengangguk. “Warga paham apa yang dikatakan. Tapi, sulit untuk menjawab dengan Bahasa Madura,” ujar Wahyu.

Kehidupan dan pergaulan mereka sangat sederhana. Rumah pun dibangun cukup sederhana. Model rumah mayoritas berbentuk rumah panggung. Tak satu pun rumah yang bertingkat seperti di kota.

Mereka membuat rumah panggung, karena saat air laut pasang sampai masuk ke rumah penduduk. Meski rumahnya sederhana, isi perabotan rumah tangga banyak yang bagus. Mereka punya TV, kulkas, dan handphone (HP).

Maklum saja, mereka mudah mencari uang. Tinggal pergi melaut mencari ikan. Kalau uangnya masih banyak, mereka pergi ke kota. Umumnya mereka pergi ke Bali. Sebab, perjalanan ke Pulau Dewata hanya ditempuh sekitar 5 jam.

Namun, kebutuhan listrik di pulau itu masih sangat terbatas. Listrik baru bisa hidup pada malam sampai pagi. Dari pukul 17.00 hingga 06.00. Mereka sangat berharap, kehidupannya sama dengan warga di perkotaan yang memiliki banyak fasilitasi infrastruktur. (*/mat)
Radar Madura, Minggu, 13 Apr 2008

Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers