Saturday, 19 July 2008

Pameran Ilustrasi Cerpen: Ketika Seni Rupa dan Sastra Berdialog

Bersamaan dengan semakin terbukanya lembar koran bagi sebuah karya sastra, terbuka juga pintu-pintu bagi seni rupa yang menjadi ilustrasinya. Apa yang diharapkan dari sebuah ilustrasi ketika derapnya sama cepat dengan cerpennya?
Lewat 49 karya ilustrasi cerpen Kompas yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta 15-25 Juli, nyatanya ilustrasi seperti mencoba mandiri dan menemukan ruang penciptaannya sendiri.
Cerpen dan ilustrasinya mungkin ibarat perkawinan satra dan seni rupa. Eddy Soetriyono, kurator,penyair, dan penulis buku biografi pengusaha dan sejumlah buku seni rupa, mencatat dalam katalog pameran bahwa bisa jadi sudah terjadi dialog, pergulatan, maupun konfrontasi antara sang perupa dengan karya sastra yang dihadapinya.
Dialog seperti apa yang berlangsung? Ambil contoh karya Isa Perkasa, ilustrasi cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma. Yang dilakukan Isa mungkin seperti memvisualisasikan judul cerpen saja. Begini ilustrasinya, ada dua pria berkepala plontos bersisian dengan perahu yang menautkan mereka.
Itu sah-sah saja,karena ilustrasi adalah gambar visual yang merujuk pada sebuah subjek. Karya-karya Isa yang lainnya yang menjadi ilustrasi cerpen Budi Darma Berjudul Kisah Pilot Bejo pun masih menggunakan pola yang sama. Seorang pria –yang tampaknya lagi-lagi plontos- berpakaian pilot dengan tanda nama bertulisan ‘BEJO’.
Itu mungkin imajinasi Isa. Bagi, budayawan Sindhunata imajinasi dan fantasi yang muncul dalam sebuah karya sastra berhak dituangkan dengan bebas oleh perupanya.
“Ilustrasi bukan sekadar interpretasi dari karya sastranya. Ilustrasi bisa juga mandiri sesuai bagaimana perupa menuangkan itu dalam kanvasnya,” kata Sindhunata dalam pembukaan pameran, Selasa (15/7) malam.
Ketimbang ‘mencaplok’ persis apa yang terbaca dalam karya sastra, Sindhunata mengatakan bahwa imajinasi dalam seni rupa bisa lebih mengalir.
Ipong Purnama Sidhi yang membuat ilustrasi cerpen Gincu Ini Merah, Sayang karya Eka Kurniawan bisa jadi satu perupa yang memilih mengalir itu.
Setidaknya, Ipong mengambil satu simbol saja yang menjadi ‘warna’ cerpen Eka,yakni gincu merah. Dari gincu itulah, ia mengalir memiaskan warna dan gambar yang tak sekadar bercerita tentang Marni –tokoh perempuan di cerpen Eka- yang menikahi pria yang sering mendatangi bar tempatnya bekerja.
Sama halnya dengan karya AS Kurnia, ilustrasi cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul Gerhana Mata. Kalau dari cerpennya, Djenar tetap Djenar yang masih ‘bermain-main dengan kelaminnya’ atau isu hubungan nonmonogamis.
AS Kurnia tampaknya memilih kondisi kebutaan yang secara eksplisit diterjemahkan lewat judul cerpen ‘gerhana mata’. Namun, dari ‘kebutaan’ itu, AS Kurnia justru menggoreskan lebih dari kisah perselingkuhan, kesepian, ataupun libido yang tuntas. Mungkin dialog yang dilakukan AS Kurnia dengan cerpennya Djenar lebih bergejolak.
Dari karya-karya yang ditampilkan memang tidak semuanya meruapakan karya asli, mayoritas sudah berbentuk digital printing. Beberapa karya asli yang dipamerkan semisal karya I Wayan Suklu dan Ketut Susena. Lainnya?
“Hehehe sudah susah cari aslinya kayaknya sebagian sudah dijual,” ujar Hermanu, tim penyelenggara pameran BBY. Yah, jadi teringat kembali betapa Yogyakarta sudah menjadi pabrik seni rupa kontemporer. Ilustrasi cerpen pun diembat... (SIN/Kompas Biro Yogya)

Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers