Thursday, 24 July 2008

skripsiku

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, koheren, sintesis, dan mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. Sebagai kreasi sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan menciptakan dunia baru, meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya. Sastra bersifat otonom karena tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Sastra juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya mengungkapkan hal-hal yang tidak terungkapkan (Luxemburg dkk. Trj. Hartoko, 1991: 5-6)
Berbicara mengenai sastra tentu tidak lepas dari pembicaraan mengenai ilmu sastra. Ilmu sastra saat ini sudah menjadi disiplin dan mapan. Wellek dan Werren, ilmu sastra terbagi menjadi tiga bagian, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra bergerak di bidang teori, misalnya mengenai pengertian sastra, hakikat sastra, gaya sastra, dan lain-lain. Sejarah sastra bergerak di bidang sejarah perkembangan sastra. Kritik sastra bergerak di bidang penilaian baik buruknya karya sastra (Pradopo, 1997:9).dalam hal ini penulis lebih banyak mengacu dari perspektif cabang kritik sastra karena cabang itulah yang banyak memberikan gambaran hubungan sastra dan religius atau agama.
Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendapatkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Sastra dan agama adalah dua entitas yang berbeda. Tetapi dua entitas itu tak bisa ditepis membawa misi dan pesan yang sama. Keduanya, boleh dikatakan sama-sama membawa misi kebenaran, kebajikan dan keadilan. Tak pelak, ketika kedua entitas itu "bersinergi" dalam satu derap langkah yang kemudian terangkum dalam sastra religius, maka akan berkelindan dan memainkan peran yang tak saja meneguhkan keimanan, melainkan juga membangun harmonisasi ulama dan sastrawan.
Kalau di belahan dunia lain kita mengenal sastrawan humanisme, sosialisme, dan seterusnya maka dalam beberapa tahun terakhir ini muncul sekte sastra baru berideologi ajaran agama (Islam), dan sekarang ini sedang marak-maraknya, khususnya di tanah air. Sebenarnya bila mau di telisik agak jauh maka kita akan menemukan beberapa hubungan antara agama dan sastra seperti dikatakan Hamdan dalam esai sastranya di Cybersastra. Dia memaparkan hubungan antara agama dan sastra sebagai berikut.. hubungan yang pertama yang paling jelas antara agama dan sastra adalah kenyataan bahwa banyak karya sastra yang merupakan ungkapan penghayatan seorang terhadap Tuhan. Hubungan yang kedua adalah penggunaan simbol-simbol berupa kosakata yang sudah umum dipakai dalam kehidupan beragama sebagai tanda-tanda dalam karya sastra. Ketiga, dalam menciptakan karya sastra banyak pengarang yang tetap menjadikan agama sebagai patokan, sedangkan pengarang yang lain menganggap karya sastra bebas dari pengaruh agama. Perbedaan pendapat ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para sastrawan dan ahli sastra. Keempat, pembaca karya sastra menggunakan cakrawala harapannya dalam memahami karya sastra. Pembaca yang berorientasi pada agama, tentunya mengharapkan karya sastra itu tidak menentang agama (dalam arti agama formal) sehingga penentangan agama lewat karya sastra akan mereka tanggapi secara negatif. Kelima, bagaimanapun bisa dikatakan pengarang itu taat beragama atau tidak, karyanya tetap harus mengandung nilai-nilai estetika dan sesuai dengan konvensi sastra. Masyarakat sastralah yang akan memberikan penilaian karena kebesaran karya sastra ditentukan dengan kriteria di luar estetika, misalnya agama. Keenam, ilmu sastra sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, memiliki peran memberikan penjelasan ilmiah mengenai kaitan sastra bidang-bidang lain di luar sastra, misalnya agama. Dengan demikian, siapa saja yang akan memberikan keterangan secara ilmiah mengenai keterkaitan sastra dengan bidang lain harus memahami ilmu sastra.
Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa (Sumarjo dan Saini, 1991 : 3)
Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Pembaca dapat dengan bebas melarutkan diri bersama karya itu, dan mendapat kepuasan oleh karenanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu karya bisa dijadikan media dakwah.
Sebagai media dakwah, karya sastra merupakan elemen penting untuk membangun watak insan. Karya sastra dengan bahasa yang dapat mendorong pembacanya untuk menjiwai nilai-nilai kerohanian, kemanusiaan kemasyarakatan, dan kebudayaan.
Karya sastra yang dijadikan media dakwah ini jenisnya banyak, misalnya dalam bentuk puis, drama, novel, roman, dan lain-lain, itu semua merupakan genre sastra.
Gere sastra menurut Sumarjo dan Saini dapat dikelompokkan menjadi dia kelompok, yaitu : Sastra Imajinatif dan non imajinatif. Sastra imajinatif terdiri dari puisi, prosa dan drama, sedangkan sastra non imajinatif terdiri dari esai, kritik, biografi, catatan dan surat-surat (1991 : 17).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Aristotels dalam Teeuw bahwa karya sastra dapat digolongkan dalam beberapa kriteria. Ada tiga kriteria dipandang dari segi perwujudannya, di antara ketiga kriteria tersebut adalah teks naratif (epik) yaitu novel, roman dan cerpen, (1998 : 109).
Dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas ini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragama pula. Namun “ukuran luas” di sini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya salah satu unsur fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting, dan lain-lainnya hanya satu saja (Sumarjo dan Saini, 1991 : 29).
Ayat Ayat Cinta merupakan novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmalah dan Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi terlaris di Indonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Ayat Ayat Cinta juga merupakan pelopor karya sastra islami yang sedang dalam masa kebangkitannya dewasa ini yang mendapat penghargaan Best Seller.
Habiburrahman El-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunai. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004) telah dibuat versi filmnya, Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007), dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.
Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004).
Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastra (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP dan SMU, guru mengharapkan agar murid memiliki wawasan tentang sastra, mampu mnegapresiasi sastra, bersikap positif terhadap sastra, dan dapat mengembangkan pengalaman, wawasan dan melakukan sikap terhadap nilai-nilai yang ada pada karya sastra. Siswa diharapkan mampu memahami nilai yang ada pada karya sastra tersebut dan memiliki sikap terhadap nilai tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Nilai-nilai Religius Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy “.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1) nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) mendeskripsikan nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ;



1.4 Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. bagi dosen pengajar mata kuliah apresiasi sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kajian apresiasi, penulisan sastra dan kritik terutama tentang nilai-nilai religius karya sastra;
2. bagi mahasiswa calon guru SMP dan SMA, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam rangka pengembangan kegiatan apresiasi sastra dalam pembelajaran sastra;
3. bagi penggemar sastra, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pelengkap dalam mengapresiasi sastra.

1.5 Definisi Operasional
Definisi operasional perlu diberikan untuk menghindari kesalah pahaman dalam mengartikan istilah yang dipakai dalam penelitian ini ditegaskan sebagai berikut.
1) Nilai-nilai religius adalah hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan yang berhubungan dengan aspek eksistensi manusia yang ditampakkan melalui perwujudan watak dari segala aspek kehidupan.












BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Nilai-Nilai Religius dan Religiusitas dalam Karya Sastra
2.1.1 Nilai-Nilai Religius
Religion atau agama, menurut Kontjaranigrat adalah salah satu sistem religi (1984 : 65). Sebagai contoh sistem religi adalah shinto dan Konfusianisme. Tetapi di Indonesia religion atau agama hanya dipakai bila orang menyebut salah satu sistem religi yang keberadaannya sudah diakui secara sah oleh pemerintah sebagai suatu agama sistem religi itu adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.
Sosiolog memandang agama sebagai alat wadah alamiah yang mengatur pernyataan iman di forum terbuka atau dalam sistem sosial masyarakat dan manifestasinya dapat disaksikan dalam bentuk khotbah-khotbah, doa-doa dan sebagainya (Hendropuspito, 1983 : 45)
Dari sudut femologis, Mangunwidjaja menjelaskan bahwa agama lebih menitikberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembuhan manusia kepada penciptanya dan mengarah pada aspek kuantitas, sedangkan regiusitas lebih menekankan pada kualitas manusia beragama (1988 : 82). Masih menurut Mangunwidjaja, agama dan religiusitas merupakan kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, karena keduanya merupakan konsekuensi logis kehidupan manusia yang diibaratkan selalu mempunyai dua kutub, yaitu kehidupan pribadi dan kebersamaannya di tengah masyarakat.
Sebagai suatu kritik, religiusitas dimaksudkan sebagai pembuka jalan agar kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Moeljanto dan Sunardi menyatakan bahwa semakin orang religius, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupannya sendiri (1995 : 205). Bagi orang yang beragama, intensitas itu tidak dapat dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus menerus terhadap pusat kehidupan. Inilah yang disebut dengan religiusitas sebagai inti kualitas hidup manusia, karena ia adalah dimensi yang berada dalam lubuk hati dan sebagai getaran murni pribadi (Mangunwidjaja, 1986 : 11-15)
Dari pendapat-pendapat di atas, religiusitas sama pentingnya dengan ajaran agama bahkan religiusutas lebih dari sekedar memeluk ajaran agama tertentu. Reigiusitas mencakup seluruh hubungan dan konsekuensi, yaitu antara menusia dengan penciptanya dan dengan sesamanya di dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.2 Rligiustias Dalam Karya Sastra
Kajian tentang religiusitas dalam kesusastraan sebenarnya telah banyak dilakukan, tetapi kajian itu sering keliru dalam memformulasikan pengertian religiusitas. Kekeliruan yang paling mendasar adalah bahwa religiusitas sering dianggap sebagai representasi sikap yang menentang agama, padahal religiusitas sangat koheren dengan agama. Keduanya sama-sama berorientasi pada tindakan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dunia sastra Indonesia tidak akan lupa dengan Nota Rinkes yang menyatakan bahwa karya sastra tidak boleh berpolitik, tidak menyinggung agama (netral terhadap agama), dan tidak menyinggung kesusilaan masyarakat (Teeuw, 1955 : 60). Akan tetapi menurut penulis, agama yang dimaksud adalah agama formal yang menunjuk pada satu agama tertentu bukan semangat dasar dari agama. Pendapat berikut ini justru memberikan gambaran hubungan sastra dan religius atau agama.
Karya sastra sebagai struktur yang kompleks, yang di dalamnya menyoroti berbagai segi kehidupan termasuk masalah keagamaan layak kita gali lebih dalam untuk diambil manfaatnya. Kehadiran sastra keagamaan di tengah-tengah masyarakat pasti mempunyai latar belakang tersendiri. Dan mengetahui latar belakang ini adalah hal yang sangat perlu, karena dari sanalah kita bisa melihat apakah genre sastra religiusitas itu bersifat sementara ataukah menetap, yaitu mempunyai landasan yang kuat hingga dapat bertahan untuk selamanya. Sebelum digali lebih dalam, terlebih dahulu harus diketahui kriteria-kriteria religius dalam karya sastra.
Secara garis besar, kriteria-kriteria religius dalam karya sastra khususnya dalam novel, menurut Atmosuwito adalah berisi hal-hal sebagai berikut :
1. penyerahan diri, tunduk dan taat kepada Tuhan Y.M.E ;
2. kehidupan yang penuh kemuliaan ;
3. perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan ;
4. perasaan batin yang ada hubungannya dengan rasa berdoa ;
5. perasaan batin yang ada hubungannya dengan rasa takut ;
6. pengakuan aka kebesaran Tuhan (1989: 123-124).
Selain itu, ada juga kriteria religiusitas sastra sebagaimana yang diungkapkan oleh Saridjo dalam Jassin, yaitu 1) karya sastra yang melukiskan konflik keagamaan, 2) karya sastra yang menitik beratkan pada hal-hal keagamaan sebagai pemecah sosial (1984 : 40).
Unsur religius dalam karya sastra fiksi bukan bermaksud menambah pemeluk agama, melainkan untuk memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan melalui pernyataan-pernyataan yang dituangkan dalam karya sastra itu. Tugas sebuah karya sastra bukanlah memberikan jawaban, tetapi memberikan pernyataan sehingga pembaca karya itu menemukan jawaban sendiri.

2.1.3 Jenis dan Wujud Religiusitas
Tujuan mengapresiasikan novel adalah untuk menemukan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Jika suatu karya rekaan mengandung pesan religius, sebenarnya di situ terkandung lebih dari satu ajaran religius yang bisa diamalkan. Jenis dari wujud religiusitas yang terdapat dalam karya sastra, bergantung pada keyakinan, minat pengarang, religiusitas dapat mencakup masalah yang cukup luas, meliputi masalah hidup dan kehidupan, menyangkut masalah harkat dan martabat manusia dan sebagainya.
Masalah religiusitas yang akan dikaji dalam penelitian ini meliputi berbagai macam hubungan. Hubungan-hubungan tersebut meliputi 1) hubungan manusia dengan Tuhan, 2) hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, 3) hubungan manusia sesama manusia, dan 4) hubungan manusia dengan dirinya.

1. Hubungan manusia dengan Tuhan
Manusia sebagai makhluk ciptaan, pastilah sangat erat kaitannya dengan penciptanya, wujud dari hubungan itu bisa berupa doa-doa atau pun upacara-upacara seperti pelaksanaan ibadah. Doa dan upacara tersebut dilakukan oleh manusia, karena suatu kesadaran atau rasa sadar bahwa semua yang ada di alam raya ini ada yang menciptakan.

2. Hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat
Nilai kehidupan dalam hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakatnya, menampilkan nilai-nilai sebagai berikut, 1) gotong-royong, 2) musyawarah, 3) kepatuhan pada adab dan kebiasaan, 4) cinta tanah kelahiran, atau lingkungan tempat menjalani kehidupan. Keempat nilai itu memperlihatkan bagaimana individu mengikatkan diri dalam kelompoknya. Individu-individu akan selalu berhubungan satu sama lainnya dalam suatu kelompok. Kelompok tersebut adalah masyarakat, dan individu sebagai anggotanya akan selalu mematuhi dan menaati segala aturan yang berlaku di dalamnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengikatan diri, dan sebagai sarana pertahanan diri.

3. Hubungan manusia sesama manusia
Manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan manusia di muka bumi tidak akan pernah lepas dari manusia lainnya. Dalam hubungan dengan sesama manusia, kedua belah pihak saling membutuhkan, saling bekerja sama, tolong menolong, hormat-menghormati, dan menghargai. Walaupun sesama manusia dapat terjadi karena adanya benturan kepentingan atau perbedaan kepentingan di antara mereka.

4. Hubungan manusia dengan dirinya
Selain sebagai makhluk sosial, manusia juga makhluk pribadi yang telah mengutamakan kepentingannya sendiri, sebagai makhluk pribadi, manusia mempunyai hak untuk menentukan sikap, pandangan hidup, perilaku sesuai kemampuannya, dan itulah yang memberlakukannya dari manusia yang lainnya. Hak untuk menentukan keinginan sendiri itulah yang mencerminkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.



BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bab ini dipaparkan metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini, yang mencakup rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, instrumen penelitian dan prosedur penelitian.

3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini memakai rancangan kualitatif. Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik, di antaranya berlatar alamiah, deskriptif dan manusia sebagai alat (instumen). Penelitian kualitatif memiliki karakteristik berlatar alamiah maksudnya di dalam penelitian kualitatif, peneliti memasuki, berhadapan langsung dengan objek penelitian dan hasil penelitiannya adalah alamiah, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa rekayasa. Dalam penelitian ini, peneliti berhadapan langsung dengan objek penelitian, novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy, kemudian membaca dan mengamati masalah yang diteliti yaitu nilai-nilai religius di dalam novel tersebut dan hasil penelitiannya merupakan data asli, alamiah, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sesuai dengan data yang digambarkan dalam novel tersebut, tanpa adanya rekayasa.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik deskriptif maksudnya, dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen penting lainnya. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berisi kutipan-kutipan yang berasal dari sebuah novel yang berjudul Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy. Kutipan-kutipan tersebut berupa kata-kata, kalimat-kalimat, dan atau pragraf-paragraf yang mendeskripsikan masalah-masalah yang diteliti yaitu aspek nilai-nilai religius yang terdiri dari hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik manusia sebagai alat maksudnya dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Dalam penelitian ini kehadiran peneliti adalah sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan data dan analisis data. Peran peneliti sebagai pengamat penuh gambaran aspek nilai-nilai religius dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy untuk memperoleh data yang diperlukan sebagai bahan analsisi.

3.2 Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat-kalimat, dan atau paragraf-paragraf yang mendeskripsikan struktur aspek nilai-nilai religius yang terdapat pada novel yang berjudul Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman el Sirazy yang diterbitkan oleh Basmalah dan Republika pada tahun 2004 yang masih laris sampai sekarang dan mendapat penghargaan Best Seller pada tahun 2007.

3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi yaitu memakai sumber-sumber tertulis seperti yang diungkapkan oleh Arikunto (1998 : 131) bahwa dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan, maka teknik yang dipakai dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi adalah pengumpulan data dari sumber yang berupa catatan, data dalam buku, majalah, karya sastra, dokumen, catatan harian dan sebagainya (Arikunto, 1998 : 253). Pendapat tersebut didukung oleh Nawawi (1991 :133) yang mengatakan bahwa teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip yang termasuk juga buku-buku tentang pendapat-pendapat, teori-teori, dan hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah. Berdasarkan pendapat tersebut, pengumpulan data dilakukan hal-hal sebagai berikut :
(1) membaca teks novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy secara berulang-ulang dengan teliti, mencari kata-kata, kalimat-kalimat dan atau paragraf yang diindikasikan mendeskripsikan aspek nilai-nilai religius;
(2) menandai teks dengan cara menggaris bawahi kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf yang dianggap mendeskripsikan gambaran aspek nilai-nilai religius dan memberinya kode-kode sepeti HMT untuk Hubungan Manusia dengan Tuhan, HML untuk Hubungan Manusia dengan Lingkungan dan masyarakat, HMSM untuk Hubungan Manusia Sesama Manusia, HMD untuk Hubungan Manusia dengan Dirinya; dan
(3) mencatat, mengumpulkan serta mengurutkan data yang telah diberi kode-kode tersebut dimasukkan ke dalam instrumen pemandu pengumpulan data sebagaimana terlihat dalam lampiran.

3.4 Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah teknik deskriptif interperatif. Atmazaky (1994:230 menyatakan bahwa teknik deskriptif interperatif yaitu menggambarkan sesuatu secara sistematis penafsiran terhadap data yang diperoleh, dengan memberikan pandangan atau pendapat terhadap karya sastra. Sesuai dengan pendapat Atmazaky, analisis data dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan aspek nilai-nilai religius. Menurut Faisal (1984:33) langkah-langkah dalam melakukan analisis data adalah sebagai berikut.
1) Penyeleksian data
Setelah data terkumpul, data penelitian tersebut dibaca lagi berulang-ulang untuk memastikan apakah data yang terkumpul tersebut benar-benar cocok dengan aspek nilai-nilai religius yang mencakup : hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya.. setelah data tersebut dibaca berulang-ulang, daya yang terkumpul tersebut diseleksi satu persatu, mengambil dan mencatat data-data yang dianggap perlu dibahas sesuai dengan tujuan penelitian, masalah dan membuang yang kurang perlu untuk dibahas.
2) Membuat tipologi (pengklasifikasian data)
Tahap kedua yaitu membuat tipologi atau klasifikasi data sesuai dengan kelompok atau golongannya. Artinya data-data yang diperoleh harus dipilih dan diklasifikasikan sesuai dengan data yang menyangkut aspek nilai-nilai religius. Langkah-langkahnya, sebagai berikut :
a. membaca kembali secara seksama dan berulang-ulang data-data yang sudah diseleksi untuk mengetahui apakah sudah benar-benar cocok atau penting untuk dikaji atau dibahas sesuai dengan tujuan penelitian, masalah;
b. mengklasifikasikannya atau menggolongkannya sesuai dengan apa yang dideskripsikan data-data tersebut dengan cara data-data yang mendeskripsikan suatu aspek misalnya struktur nilai-nilai religius digabungkan menjadi satu dengan data-data yang mendeskripsikan nilai-nilai religius.; dan
c. mencatat dan mengurutkan data-data yang sudah diklasifikasikan atau dikelompokkan tersebut.
3) Menginterpretasikan data
Pada tahap ini peneliti menganalisis isi hal-hal yang terkandung dalam novel Ayat Ayat Cinta tentang nilai-nilai religius, serta memberikan kerangka keterangan atau penafsiran tentang unsur-unsur yang masuk dalam kajian nilai-nilai religius tersebut.
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
a. membaca secara seksama dan berulang-ulang data yang sudah dikalsifikasikan apakah data tersebut sudah benar dalam mengklasifikasikannya.
b. Memahami kata perkata, kalimat perkalimat, apa yang dideskripsikan dalam data secara perlahan-lahan dan hati-hati agar benar-benar cocok dan sesuai dengan tujuan penelitian, masalah; dan
c. Memberikan keterangan atau penafsiran kata-kata, kalimat-kalimat yang mendeskripsikan aspek-aspek nilai-nilai religius yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya. Untuk mempermudah dalam menganalisis data dibuat instrumen pemandu analisis data sebagaimana terlihat dalam lampiran.


3.5 Instrumen Penelitian
Untuk mempermudah kerja penelitian ini, peneliti memakai instrumen penelitian berupa instrumen pemandu pengumpulan data dan instrumen pemandu analisis data yang memuat tentang aspek nilai-nilai religius dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy. Instrumen yang digunakan dapat dilihat pada lampiran.

3.6 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi 1) pemilihan dan pemantapan judul penelitian; (2) pengadaan studi pustaka; (3) penyusunan metodologi penelitian; (4) membuat lampiran panduan data dan lampiran panduan analisis data. Tahap pelaksanaan meliputi ; (1) pengumpulan data; (2) menganalisis data berdasarkan teori-teori yang telah ditentukan; (3) menyimpulkan hasil penelitian. Tahap penyelesaian meliputi : (1) penyusunan laporan penelitian; (2)revisi laporan penelitian; dan (3) penggandaan laporan penelitian.











DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Atmazaki. 1994. Analisis Sajak: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung : Angkasa.

Atmosuwito, Subijantoro. 1989. Perihal Sastra dan Religiusitas dalam Sastra. Bandung : Sinar Baru.

Hendropuspito, O.C. 1985. Sosiologi Agama. Yogyakarta : Kanisius

Jassin, H.B. 1984. Analisa : Sorotan Mentalitas dan Pengembangan. Jakarta : Gramedia.

Mangunwidjaja, Y.B. 1986. Menumbuhkan Sikap Religius Pada Anak. Jakarta : Gramedia.
_________. 1988. Sastra dan Religius. Yogyakarta : Karnisius

Moleong, Lexy J.. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda Karya

Nawawi, H.. 1994. Penelitian Terapan. Jakarta : Gajah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Joko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sirazy, Habiburrahman El. 2008. Ayat Ayat Cinta. Jakarta : Basmala, Republika.

Sumarjo, J. Dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi Karya Kesusastraan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Tariga, Henry Guntur. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.


Teeuw. A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.












MATRIKS PENELITIAN

JUDUL RUMUSAN MASALAH RANCANGAN PENELITIAN DATA DAN SUMBER DATA PENGUMPULAN DATA ANLAISIS DATA
Analisis Nilai-Nilai Religius Novel Ayat Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy Nilai-nilai religius apa sajakah yang terkandung dalam novel novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy ?
Penelitian Deskriptif Kualitatif

Penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang mengindikasikan rumusan masalah. Kata-Kata Tertulis Yang Mengindikasikan Rumusan Masalah

Sumber Data : Novel Ayat Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Sirazy. Teknik Dokumentasi


Langkah-Langkah.
1. Membaca Berulang-Ulang.
2. Menandai Teks.
3. Mencatat, mengumpulkan serta mengurutkan data. Teknik deskriptif interperatif

Langkah-Langkah.
1. Penyeleksian data.
2. mengklasifikasikan data
3. menginterpretasi data











Contoh : INSTRUMEN PEMANDU PENGUMPULAN DATA

No. Nilai-nilai Religius Kode Halaman
1.


2.


3.


4. Hubungan manusia dengan Tuhan

Hubungan manusia dengan lingkungan dan masyarakat

Hubungan manusia sesama manusia

Hubungan manusia dengan dirinya.




























Contoh : INSTRUMEN PEMANDU ANALISIS DATA


No. Kode Data Data Interpretasi
1.


2.


3.


4.





























ANALISIS NILAI-NILAI RELIGIUS
NOVEL AYAT AYAT CINTA
KARYA HABIBURRHAMAN EL SIRAZY


PROPOSAL SKRIPSI



Oleh
Ibnu Arif Halili
NIM. 05122010










UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JULI, 2008
Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers