Thursday, 28 August 2008

Tutorial Cheat Seal Online

pertama-tama aku posting tutor ini karena banyak teman-teman pencinta game seal kebingungan mencarari tutor cheat seal, tutor ini aku ambil dari berbagai forum aku kumpulkan jadi satu jadi mempermudah teman-teman mencari tutornya,
klo kita lihat seperti di forum nyit-nyit ama snutz.us tutornya mencar kebanyakan pertanyaan yang itu-itu saja, jadi aku rampung semua tutor ini dari berbagai forum,
jujur bagi yang g suka ama tutor ini aku secara pribadi mohon maaf, tpi ini semua demi pencinta game seal


!!WARNING!!!!
Dibaca semua ampek abis, cz pling akhir ada pesan penting.!!!!

TUTOR CHEAT SEAL....
------------------------------------
download engine Monlight disini



Sebelum Settingannya di Mulai pertama2 extract dulu moonlight yang sudah di download secara gratis
Nah setelah tu to the poin ja ya

Settingnya seperti ini:
Klik setting yg ada dipojok kanan atas seperti pada gmbar dibawah ini


SETTING Engine UCE

Yg perlu dicentang
General Settings
[x] show und button
[x] show advanced....
[x] Update the list.....
[x] Center tommysensei engine.....
[x] Hide some/all........
[x] show values....
[x] show and work.....

Scan Settings
[x] fast scan.....
[ ] enable hyperscan.....
[ ] don't scan......
[ ] keep low.......
[x] MEM_PRIVATE.....
[x] MEM_IMAGE.....
[ ] MEM_MAPPED....
[x] Run scan

File Association
Tick Nothing : nah yg ini g ada yang di centang, klo dari enginnya yg tercntang adalah yg pling atas, nah itu dibuang juga centangnya.. dah ngerti blom……….?
Ko dah ngerti lanjut aja deh klik lagi yg disebelah kanan Yitu Plugins. Klo yg ini mang dari engginnya g ada yang mau dirubah…wakakaka

Plugins
Tick Nothing
Code Finder
[x] Use debug......
[ ] Memory acces........
[x] Try to prevent........
[ ] Handle.......


Assembler
[x] show dissembler
[x] show debugger.......
[ ] use int3
[x] replace.......
[x] ask for.....
[x] try prevent.....


Extra
[x] query memory.....
[x] Read/write....
[x] open process
[ ] undo changes....
[ ] Force memory....
[x] enable use.....
[x] use kernelmode.....
[ ] use global......
[ ] stealth mode user
[ ] stealth mode kernelmode>(x) prevent all modules

Nah kalo udah klik aja OK. Tau kan posisi tombol OK. Itu yang berdampingan dengan Cancel.mudeg g lo…

walaupun itu settingan yg terakhir. Ettt…blum selesai masih ada yg lain

kalo udah.... cara bypassnya ada di bawah ini

saat setelah anda klik mulai main, klo dah log in dah msuk charnya
nah anda klik di bagian atas kiri...
Seperti gambar dibawah ini


Setelah tombol itu di klik
Akan muncul gambar seperti ini ni lihat ya……

Nah udah muncul kan.
Klo udah klik aja yg aku beri tanda setelah itu
trus klik yang ada tulisan SO3D.exe
cari dibagian yag q bri tanda digambar ini ni


dan klik ok

secara, anda telah bypass

----------------------------------------
Nah yg ini langkah selanjudnya. Apa aja yag akan ada Cheater……
Umpamanya ASPD
Trus Cheat No Delay
Trus Cheat Area dan lainnya deh

Cheat ASPD

Pakai EQ yang ada opsi aspd nya.. 1 aja
misal aspd 2[baju]
lo scan 2 dulu....[4byte]
trus kalo dah dpt banyak disamping tuh.. lo lepas baju.......
trus lo next scan 0
ulangi terus sampe dapet 1 adress atau 3 adress
kalo 3 adress pilih yang paling bawah...

terus klik 2x.....
saat udah di add ke list
klik 2x lagi yang di bawah itu......
trus ganti jadi 180
.....


kalo kec gerak sama kayak di atas...... cuman opsinya aja yang beda... n kec ger lo jadiin 600


---warning---
saat chit aspd atao kec gerakan jangan ganti EQ langsung DC lhooo..



-------------------------------------------------------------------------
Cheat No delay....

1. lo tidur...
2.di enginenya lo scan 4
3.bangun....
4.lo scan 0
5 ulangi dari no 1-4 sampai dapat 1 adress [1 aja]
6.nah kalo bener tuh.. lo tidur dia jadi 4 lo bangun dia berubah jadi 0 itu bener..
7. pas lo mau no delay.. lo freeze dolo .......baru lo ganti jadi 3...

kalo mau stop ganti jadi 0 lagi...

-----------------------------------------------------------------------------------
Cheat Area:

1. Search Nama Skill lu yg area, misal Hell Burn, Deadly Cross, Area Destruction, Freeze, Blazing Hurricane
2. klao dapet address cari yg ada hubungannya ma deskripsi skill(browse MEMORY REGION)
(ada yg penting lgi pada saat serc nama skil kmu ganti dulu value type nya ganti ke tex jgan 4 bite. klu damam bentuk angka baru 4 bite, tapi kalo tex ya ganti ke tex) ngerti kan)
3. kiri atas lu add to address list.. liat address itu apa ..misal... 0809XXXX...

4. Buka kalkulator Scientific.. HEX type...
Tau calculator g buka di aksesoris computer lo
Dan lihat gambar dibawah ini

ingat Dec. ganti ke Hex

5. Kita Umpamakan 0809XXXX = Z
skill lvl 1 + 198
------- 2 + 1DC
------- 3 + 220
------- 4 + 264
------- 5 + 2A8
------- 6 + 2EC
------- 7 + 330
------- 8 + 374
------- 9 + 3B8
Skill lvl 10+3FC

yang ditambah itu addressnya bukan valuenya..

kalo udah.... valuenya baru dirubah jadi 1 miliar. jadi deh!

---------------------------------------------------------------

Cheat Attack Speed dan Move Speed


Step 1
sebelumnya pastikan sudah punya equiq apapun yg mempunyai opsi tambahan kecepatan gerak (optional jika ingin mengikuti tutor saya).
lebih bagus lagi kalau opsinya lebih dari 1.
sebagai contoh, Gw punya Tail dengan opsi tambahan kec. gerak 1. (info nomor 1). lalu pakailah equiq tersebut(info 2). Atl+Tab ke engine-nya lalu ketik angka 1 pada value di engine-nya(info 4). kalau punya opsi lain, maka yg kita ketik adalah angka yg sesuai dengan opsi tambahan tersebut. klik tombol "First Scan" (info 3). Tunggu sampai selesai.
Oh iya, Pastikan Value Type pada engine-nya adalah 4 byte.

Step 2
lalu ALt+Tab balik ke game seal dan lepaslah equiq tersebut, Alt+Tab lagi balik ke engine. sekarang isilah value 0 (info 6) dan tekan "Next Scan" (info 5).


Step 3
Alt+tab balik ke seal, pakai lagi equiq tersebut. Alt+tab balik ke enginenya, ketik lagi angka 1. lalu klik "Next Scan".

Step 4
Ulangi Step 2 lalu Step 3 terus menerus sampai menemukan 1 address. atau kalu tidak ketemu satu seperti gambar, maka kita akan mencoba merubahnya satu per satu.

Step 5
klik dua kali pada salah satu address yg kita temukan (info 7). maka address tersebut akan pindah ke bawah(info 8). lalu klik dua kali pada 'value' address yg sudah kita pindahkan tadi. jika opsi nya 1, maka klik pada angka 1 di address yg sudah ada di bawah tersebut. isikan sesuai dengan yg kita inginkan. misal 200. lalu klik OK. pada address tersebut centang tanda freeze. Alt+tab balik ke seal, lalu gunakan skill sleep.
Jika address yg kita ubah adalah address yg benar, maka di status-nya akan terjadi penambahan 200 pada move speed. coba jalan, kalau sudah kayak maling jalannya berarti sudah benar!
(optional)nah, ubah namanya menjadi "move speed" (klik dua kali pada "no description")




Step 6
kalau belum terjadi perubahan, hapuslah address yg sudah kita pindahkan tadi (klik kanan, delete this address from list). kemudian ulangi step 5. sampai dapat!

Step 7
Balik ke enginenya. Klik kanan pada address move speed tadi lalu pilih "Browse This Memory Region"



akan mucul window baru. itulah yg disebut memory viewer. lalu klik tanda panah ke atas SATU KALI.



Kemudian Klik kanan pada dua angka pojok kiri atas . dan pilih "Add This Address To The List" lalu close memory viewer-nya.

Pada engine, ubah lah valuenya sesuai dengan yg kita inginkan dan centang tanda freeze. biar gak salah ganti saja namanya. itu adalah address Attack Speed.

Cheat Reputasi, Unlimited AP, dan Super Charge HP

Step 1

Alt+Tab balik ke Seal dan lihatlah reputasi kita, Alt+Tab balik ke engine dan isilah nilai reputasi tersebut pada value engine-nya dan tekan "First Scan".



Step 2
Alt+tab balik ke seal.
ganti dengan char lain...
ingat! hati-hati stuck. usahakan ganti char di luar kota.
lihat reputasinya, Alt+tab lagi ke engine dan isilah value sesuai dengan reputasi char-nya lalu tekan "Next Scan".



Step 3
akan ada satu address yg kita dapat yg merupakan reputasi kita. kalau mau diubah silahkan. kalau belum dapat satu address coba ulangi Step 2.
kalau sudah dapat klik dua kali address untuk memindahkan nya ke bawah (table). lalu klik kanan dan pilih "Browse This Memory Region".



Klik 2 kali tanda panah ke atas.(scroll ke atas)



mari kita analogikan satu blok terdiri dari dua angka menyatu. nah, hitunglah blok angka ke-9 dari pojok kiri (info 9). klik kanan dan pilih "Add This Address to the List". address yg dipindahkan adalah current hp




Klik kanan pada angka di baris kedua dari pojok kiri. Pilih lagi "add this address to the list". address yg dipindahkan adalah current ap. lalu close memory viewer-nya.



Step 4
Alt+tab balik ke seal lalu penuhkan hp dan Ap loe. Alt+tab balik ke engine lalu centanglah freeze pada dua address paling bawah(yg baru kita temuikan tadi).

Selamat! Ap loe gak akan habis! wow...

Note : Ketika loe dipukul, lihatlah HP yg sekilas berkurang lalu bertambah lagi, nah, ketika mendekati sekarat, gunakan skill sleep maka HP akan penuh kembali. Ingat! HP akan tetap berkurang, jadi perkirakan dengan tepat kapan sekarat! lalu gunakan skill sleep. atau loe akan mati. kalau mau aman, setelah satu monster tidur aja sebentar lalu bangun lagi.


Cheat Level (Buat Teriak)
kalo loe belum level 50 tapi mau teriak...
Ok ini stepnya...

Step 1
lihat levelnya, Alt+tab balik ke engine isi value-nya lalu tekan "first Scan"



Step 2
balik ke seal .Ganti Char lalu balik ke engine lagi. isi value dengan level char itu. lalu tekan "next Scan".



Step 3
Lakukan Step 2 berulang-ulang sampai menemukan satu address. atau kalo address yg ketemu udah dikit coba aja satu2.

Nah, kalau udah ketemu satu pindahkan (klik dia kali) .lalu isi value
sesuai dengan yg diinginkan. kalau untuk bisa teriak ganti aja level 50. atau 200 boleh. coba2 aja.

Wow, kalo udah sampai sini berarti udah bisa teriak2, jalannya cepet, nyerangnya cepet, Hp dan ap no limit, dan bisa disebut God Mode buat hunt...

----------------------------------------------------------
Cheat cegel
Cara na gampang kalo mo cegel (seal) tinggal select proses seal misalnya cegel lo 5000 lu newscan. terus first scan 5000 lalu (tunggu yah aga lama)kalo dah muncul misalnya addresnya banyak kmu beli apa ke misal red potion uang kmu kan jadi 4700 lalu liat yang yg tadi liat value nya 4700 lalu kmu tekan 2kali nah kan sekarang ada di bawah value nya lu edit sesuka lo misalnya 2.000.000.000 (tulisnya gk usah pake titik) terus tinggal freeze voila! duid kmu 2M

tongue.gif itu kalo pake CE atau cheat engine
-------------------------------------------------------------
Paket Cleric ga abis :
1.cari paket tidur = 4 (tidur pake kasur) 0 (berdiri)
2.udah ketemu addres nya di browse


nanti ketemu gini klo ga salah:

04 00 00 00 00 DST
00 00 00 00 00
00 00 00 00 00
00 00 00 00 00
00 00 00 00 00
00 00 00 00 00

3.trus dipaket cleric

addres brubah jadi

04 00 00 00 00 DST
00 00 00 00 00
01 XX XX XX XX
01 XX XX XX XX
01 XX XX XX XX

nah yg 01 dibawah 04 itu addres durasi paket cleric 1 paket 1 addres
di add type float
setau wa paket cleric lvl 10/mentok durasinya 351.XXXXXXX
nah valuenya tinggal diubah ke 10000
-----------------------------------------------------------------------------

cheat PET 3X EXP?
============
pake pet seed
pakai 4 byte tipenya
kalo dia nyari gera search 1
nyari log search 2
nyari sap search 9
ketemu addressnya?
freeze aja
------------------------------------------------
deteksi nomer item :

taroh item di pojok kiri atas [ ato dmn terserah ] pertama taro milk search 98 ganti dgn sap next scan 9 sampe ktemu 1 address deh ...

klo gak ada milk atao sap bisa pakek

geranium = 1
rusty gear = 1451
alloy chain = 1111
herb = 97
dsb

ntar klo ketemu 1 address taro barang sera lo ntar muncul kodenya di engine
------------------------------------------------------------------------------
kalo mau baca yg lebih lengkap lgi masuk aja ke fofum
Snutz.us
klo mles daftar untuk log in pkek aja id ku
user name : halili
pasword : 24041986

aku kan baik g seperti temanku yg aku ceritakan tadi di atas
wakakaka, promosi ni
ya iyalah secara aku anak pulau
nah sekarang tak kasih tau ya inti dari semua ilmu adalah kita memperbanyak membaca.
ingat membaca.....

!!!PESAN PENTING .......!!!
et tunggu dulu. bgi yg iklas aku minta konsumsinya donk Rp. 50.000 ja kirim ke rekeningku
INGAT bagi yg iklas memberi aku konsumsi lo ya...
ni no rekeningku

(no rekening Bank Jatim : 0032724761 a/n Ibnu Arif Halili)
Share:

Saturday, 16 August 2008

Habiburrahman El Shirazi


Biografi
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Pendidikan

Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Aktivitas

Selama di Kairo

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Selama di Indonesia

Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik dan temannya.

Prestasi

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006. Dari novelnya yang berjudul "Ayat-ayat Cinta" dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.

Karya-karyanya

Selama di Kairo

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.

Karya puisi

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

Karya sastra populer

Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening], dan Bulan Madu di Yerussalem.
Sumber : wikipedia.org
Share:

Friday, 15 August 2008

Taufiq Ismail

Taufiq Ismail
Biografi
Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956--1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971--1972 dan 1991--1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960--1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960--1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968--1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).

Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

Hasil karya:

1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)
6. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
7. Tirani dan Benteng, Yayasan Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10. Seulawah — Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)

Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)

Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.

Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974--1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.

Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).

Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.

Anugerah yang diterima:

1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999)
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)

Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.
Telepon (021) 8504959
Faksimile (021) 8583190
Pos-el: taufiqism500@hotmail.com
Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

Saini K. M.



Biografi

Saini K. M. dilahirkan di Sumedang pada tangga 16 Juni 1938. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Perhatiannya terhadap sastra dan teater telah tumbuh sebelum ia memasuki perguruan tinggi. Latar belakang itulah yang kemudian mendorongnya mengambil prakarsa untuk mendirikan Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di samping menjadi pengajar tetap di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, .Saini K.M. juga melakukan kegiatan di bidang kesenian, khususnya di bidang sastra dan teater. Di bidang sastra ia aktif menulis esai dan puisi. Tiga buah buku puisinya yang telah diterbitkan adalah Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969), Rumah Cermin (Sargani dan Co., 1979), dan Sepuluh Orang Utusan (PT Granesia, 1989). Kumpulan esai sastranya yang diterbitkan adalah Protes Sosial dalam Sastra (Angkasa, 1983).

Di bidang teater, Saini K.M. menulis sastra lakon. Ia pernah memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1973 untuk karyanya Pangeran Sunten Jaya , tahun 1977 untuk karyanya Ben Go Tun, pada tahun 1978 untuk karyanya Egon, dan tahun 1981 untuk karyanya Serikat Kacamata Hitam dan Sang Prabu. Dua naskah lakon yang ditulisnya untuk anak-anak memenangkan sayembara yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan (Depdikbud), yaitu Kerajaan Burung (1980) dan Pohon Kalpataru (1981).

Sastra lakon karya Saini K.M. yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina (1980) memenangkan hadiah dalam Sayembara penulisan yang diadakan oleh Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Jakarta Raya. Esai tentang teater yang ditulis Saini K.M. terhimpun dalam buku Beberapa Gagasan Teater (Nurcahaya, 1981), Dramawan dan Karyanya (Angkasa, 1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (Binacipta, 1987), dan Peristiwa Teater (Penerbit ITB, 1996). Pada tahun 1999 terbit himpunan karya lakonya “Ben Go Tun”, “Dunia Orang Mati”, “Madegel”, dan “Orang Baru” dalam satu judul Lima Orang Saksi. Himpunan karya lakon itu diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku pada tahun 2000.

Lakon Ken Arok (Balai Pustaka, 1985) mendapat penghargaan sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, pada tahun 1990. Lakon lain yang ditulis Saini dan dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia adalah Pangeran Geusan Ulun (1963), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1978), Panji Koming (1984), Madegel (1984), Amat Jaga (1985), Syekh Siti Jenar (1986), Dunia Orang-Orang Mati (1986), Ciung Wanara (1992), dan Damarwulan (1995). Madegel pernah dipentaskan di Jepang pada tahun 1987. Ken Arok dan Sepuluh Orang Utusan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Renate Sterngal.

Bersama Jakob Sumardjo, Saini K.M. menulis buku Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) dan Antologi Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) untuk siswa sekolah menengah lanjutan atas. Selain itu, ia juga menulis buku untuk anak-anak, yaitu Cerita Rakyat Jawa Barat (Grasindo, 1993). Pada tahun 1960—1994 Saini menjadi pengasuh kolom puisi harian umum Pikiran Rakyat. Berbagai tulisan kritisnya tentang puisi karya penyair muda yang dimuat harian Pikiran Rakyat itu diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993). Berkat kegiatannya yang tidak pernah lelah dalam mengasuh para penyair remaja, Saini mendapat Anugerah Sastra dari Yayasan Forum Sastra Bandung pada tahun 1995.

Pada tahun 1988—1995 Saini dipercaya menjadi Direktur ASTI Bandung (serkarang STSI). Selepas itu, pada tahun 1995—1990, Saini K.M. menjabat Direktur Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud. Saini K.M. juga tercatat sebagai anggota Konsorsium Seni sejak tahun 1994 dan sebagai anggota Komisi Disiplin Seni sejak tahun 1999. Ia juga aktif dalam penyelenggaraan Art Summit Indonesia. Pada tahun 2001 Saini K.M. menerima penghargaan Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Write Awards 2001) dari pemerintah Thailand.

Karya lain yang telah ditulis Saini K.M. adalah sebagai berikut.

A. Kumpulan Puisi

1. Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969)

2. Rumah Cermin (Sargani dan Co., 1979)

3. Sepuluh Orang Utusan (PT Granesia, 1989)

4. Mawar Merah (Aksara Indonesia, 2001)

B. Prosa

1. Puragabaya (1976)

2. Cerita Rakyat Jawa Barat (Grasindo, 1993)

3. Berkas yang Hilang (Aksara Indonesia, 2001)

C. Lakon

1. Pangeran Geusan Ulun (1963)

2. Pangeran Sunten Jaya (1973)

3. Ben Go Tun (1977)

4. Siapa Bilang Saya Godot (1977)

5. Restoran Anjing (1978)

6. Egon (1978)

7. Kerajaan Burung (1980)

8. Sebuah Rumah di Argentina (1980)

9. Serikat Kacamata Hitam (1981)

10. Sang Prabu (1981)

11. Pohon Kalpataru (1981)

12. Panji Koming (1984)

13. Madegel (1984)

14. Amat Jaga (1985)

15. Ken Arok (Balai Pustaka (1985)

16. Syekh Siti Jenar (1986)

17. Dunia Orang-Orang Mati (1986)

18. Ciung Wanara (1992)

19. Damarwulan (1995)

D. Karya Terjemahan

1. Percakapan dengan Stalin (karya Milovan Djilas)

2. Bulan di Luar Penjara (karya Ho Tji Minh)

E. Karya Nonfiksi

1. Protes Sosial dalam Sastra (1983)

2. Beberapa Gagasan Teater (1981)

3. Dramawan dan Karyanya (1985)

4. Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (1987)

5. Apresiasi Kesusastraan (bersama Jakob Sunardjo, 1986)

6. Antologi Apresiasi Kesusastraan (bersama Jakob Sumardjo, 1986)

7. Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993)

8. Peristiwa Teater (Penerbit ITB, 1996)

9. Seni Teater 1—6 (bersama Ade Puspa dan Isdaryanto, 1989 dan 1990)

F. Hadiah/Anugerah/Penghargaan

1. Hadiah Sayembara Penulisan Drama Anak-Anak Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980

2. Hadiah Sayembara Penulisan Drama DKJ 1973, 1977, 1978, 1980, dan 1981

3. Hadiah Sayembara Bakom PKB DKI Jakarta Raya 1980 dan 1981

4. Anugerah Sastra dari Yayasan Forum Sastra Bandung, 1995

5. Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa , 1991

6. Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Writte Awards 2001)
Sumber : Balai Bahasa Bandung

Share:

Rosihan


Biografi

Rosihan Anwar lahir tanggal 10 Mei 1922, di Kelurahan Kubang Nan Duo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia adalah putra seorang Ambtenaar Binnelands Bestuur, pamong praja, yang bernama Gelar Maharaja Soetan.

Rosihan Anwar adalah sastrawan Angkatan ’45, istilah “Angkatan ‘45” dalam kesusastraan berasal dari Rosihan. Kesastrawanannya dimulai dengan memublikasikan puisi-puisinya di berbagai media massa pada waktu itu, antara lain, di surat kabar Asia Raya, Merdeka, dan majalah mingguan politik dan budaya Siasat. Beberpa puisinya dimasukkan H.B. Jassin ke dalam bukunya Kesusastraan Indonesia di masa Jepang (1948).

Rosihan juga menerjemahkan puisi-puisi asing ke dalam bahasa Indonesia. Di antaranya, puisi yang ditulis oleh pahlawan kemerdekaan Filipina, Yose Rizal, yang berjudul “Mi Ultimo Adios” (salamku yang terakhir), diterjemahkan Rosihan menjadi “Selamat Tinggal”. Walaupun bukan terjemahan langsung, puisi terjemahan itu dinilai para kritikus, antara lain Ramadhan K.H., sebagai puisi yang berhasil.

Penelaahan Rosihan atas riwayat pahlawan Yose Rizal serta daya upaya Rosihan memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia membuat masyarakat Filipina senang. Oleh karena itu, pada tahun 1961, dalam rangka memperingati hari ulang tahun pahlawan itu, pemerintah Filipina mengundang Rosihan Anwar ke negaranya. “Selamat Tinggal” (“Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia) pun berkumandang, dideklamasikan oleh Rosihan, pada acara itu.

Terjemahan rosihan yang lain adalah sebuah puisi dari Henriette Roland Holts, penyair Belanda yang sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1940-an. Puisi yang diterjemahkan oleh Rosihan itu, kemudian, dipasang menghiasi tugu batu pualam Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang.

Rosihan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat Islam. Jadi, Selain bersekolah di HIS (untuk pendidikan formal), ia juga wajib belajar di Madrasah, dan sore harinya ke surau. Keadaan itu, ternyata, belum dapat dijadikan jaminan bahwa kehidupan beragamanya akan langgeng.

Pada waktu bersekolah di AMS Yogyakarta, karena beberapa temannya (yang juga Islam) makan babi, ia pun ikut makan babi. Padahal, dalam Islam, jelas, makan babi itu haram. Akan tetapi, ia tidak peduli. Bahkan, pada zaman Jepang, ia sudah tidak berpuasa dan tidak salat lagi. Ia juga tidak berkeberatan dijuluki kafirun.

Pada suatu hari di tahun 1957 (saat Rosihan masih menjabat sebagai pemimpin redaksi Pedoman), dalam sebuah resepsi, Rosihan berseloroh kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kafrawi, “Kafrawi, you kapan memberi saya kesempatan naik haji?” Sebenarnya, ia hanya bercanda. Akan tetapi, Kafrawi menanggapinya serius. Kafrawi memberinya kesempatan dan menugasinya sebagai pimpinan rombongan “haji terbang”. Sepuluh hari kemudian, Ia pun benar-benar berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji.

Sekembali dari Mekkah itulah, kehidupan rohani Rosihan berubah. Ia mulai menulis hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam. Setiap hari Jumat, ia menulis Tajuk Rencana di harian Pedoman. Tajuk itu berjudul “Renungan Wak Haji”. Di dalam tajuk itu terdapat percakapan antara Wak Haji dan Haji Waang (tokoh Haji Waang adalah dirinya).

Rosihan Anwar menikah dengan Siti Zuraida Sanawi (Ida Sanawi), pada tanggal 25 April 1947, di Yogyakarta. Ida Sanawi, gadis Betawi Asli, adalah adik kandung Sonia Hermine Sanawi, istri Usmar Ismail. Usmar Ismail, tokoh teater dan film nasional itu, adalah sahabat Rosihan. Perkenalan anatara Rosihan dan Ida terjadi ketika mereka sama-sama bekerja di surat kabar Asia Raya, Rosihan adalah reporter dan Ida adalah sekretaris pemimpin redaksi.

Karya-karya Rosihan Anwar

Puisi

1. “keyakinan”

2. “Mari Kumandangkan Indonesia Raya”

3. “Manusia Baru”

4. “Pulang Berjasa”

5. “Musafir”

6. “Kini Abad Rakyat Jelata”

7. “Di Kubur Pahlawan”

8. “Bukan Mimpi”

9. “Raja Jin”

10. “Di dalam Revolusi”

11. “Lukisan”

12. “Kisah di Waktu Pagi”

13. “Kami Kenangkan kembali”

14. “Seruan Lepas”

15. “Hamba”

16. “Bertanya”

17. “Lahir dan Batin”

18. “Untuk Saudara”

19. Kepadamu Gunung”

20. “Indahlah Nusa”

Cerita Pendek

1. “Pamanku”

2. “Radio Masyarakat”

Novel
Raja Kecil: Bajak Laut di Selat Malaka
Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

Rendra


Rendra
Biografi
Rendra, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, di kota yang sama.

Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya.
Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul
Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika. Ketika kembali lagi ke Indonesia ( 1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Karya-karya Rendra, antara lain, adalah
1) Kumpulan Puisi, Ballada Orang-Orang Tercinta (1957), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonie (1971), Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972), Nyanyian Orang Urakan (1985), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), dan Orang-Orang Rangkas Bitung (1993) ;
2) Drama, Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954), Selamatan Anak Cucu Sulaiman (1967), Mastodon dan Burung Kondor (1972), Kisah Perjuangan Suku Naga (1975), SEKDA (1977), dan Panembahan Reso (1986) ; dan
3) Kumpulam Esai: Mempertimbangkan Tradisi (1983).
Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); dan The S.E.A. Write Award (1996).

Usianya yang hampir berkepala tujuh itu tidak membuatnya kehabisan energi. Berbagai kegiatan sastra masih aktif diikutinya, di samping tetap memimpin Bengkel Teater yang terkenal itu

Sumber : Balai Bahasa Bandung

Share:

Oto Iskandar di Nata

Biografi

Oto Iskandar di Nata adalah pejuang kemerdekaan yang lahir di Bandung 31 Maret 1897. Ia memimpin Pagoejoeban Pasoendan sejak tahun 1929 sampai 1942. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan (mendirikan banyak sekolah), budaya, ekonomi (Bank dan koperasi) dan hukum (lembaga bantuan hukum dan rehabilitasi mantan narapidana). Tahun 1931 sampai 1941 ia anggota Volksraad, yang menjadi embrio dari dewan perwakilan rakyat di kemudian hari.

Tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) dan duduk pada PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Oto Iskandar di Nata ikut merancang UUD 1945. Dalam sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945, Oto mengusulkan agar Sukarno dipilih sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden. Anggota sidang menyetujui usul tersebut secara aklamasi.

Setelah Indonesia merdeka, Oto diangkat menjadi Menteri Negara yang mengurus masalah keamanan. Dalam kedudukan itulah ia hilang pada akhir tahun 1945. Bisa dikatakan Oto Iskandar di Nata adalah “orang hilang” pertama dalam sejarah Republik Indonesia.

Baru 14 tahun kemudian (1959), terungkap bahwa ia dibunuh seorang polisi bernama Mujitaba. Pembunuhan itu dilakukan di pantai Mauk,Tangerang. Sang pelaku dihukum 15 tahun penjara. Namun di dalam pengadilan tidak terungkap siapa yang menyuruh Mujitaba.

rijana Abdurrasyid (kini Prof.Dr) yang menjadi jaksa dalam persidangan itu meminta tambahan waktu sidang untuk mengungkap dalang dibalik pembunuhan itu. Tapi usulannya tak terkabul, sehingga hanya pelaku lapangan yang tertangkap dan dihukum, namun aktor intelektualnya tak tersentuh.

Untuk menghormati jasa Oto, Pemerintah Jawa Barat membangun sebuah taman makam pahlawan di Taman Pasir, Lembang. Pada batu nisan tertulis Otoiskandardinata, lahir 31-3-1887, wafat 19-12-1945. Sebenarnya, tak ada jasad Oto, tak ada jenasah Oto Iskandar di Nata di situ. Yang ada hanya sejumput pasir dari pantai Mauk, terbungkus kain putih.


Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

NH Dini

Nh Dini
Biografi
Nama Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Nh. Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.

Dini bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun, ia tidak dapat mewujudkan cita-cita itu karena orang tuanya tidak mampu membiayainya. Ia hanya dapat mencapai pendidikannya sampai sekolah menengah atas jurusan sastra. Ia mengikuti kursus B1 jurusan sejarah (1957). Di samping itu, ia menambah pengetahuan bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan. Meskipun demikian, ia lebih berkonsentrasi pada kegiatan menulis. Hasil karyanya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.

Kegiatan lain yang dilakukannya ialah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya.Kegiatannya ialah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).

Pada tahun 1960 Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis yang bernama Yves Coffin. Ia mengikuti tugas suaminya di Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Karena bersuamikan orang Prancis, Dini beralih warga negaranya menjadi warga negara Prancis. Dari perkawinannya itu Dini mempunyai dua orang anak, yaitu Marie Claire Lintang dan Louis Padang. Terhadap kedua anaknya itu, Dini memeberi kebebasan budaya yang akan dianut dan bahasa yang akan dipelajari. Untuk mengajarkan budaya Indonesia, Dini menyuruh anaknya mendengarkan musik Indonesia, terutama gamelan Jawa, Bali, dan Sunda serta melatihnya menari.

Pada tahun 1984 Dini bercerai dengan suaminya. Pada tahun 1985 kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan menulis serta mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Pondok Baca N.H. Dini yang beralamat di Perumahan Beringin Indah, jalan Angsana No. 9, Blok A-V Ngalian, Semarang 50159, Jawa Tengah.

Pengalaman menjadi istri diplomat memperkaya pengetahuannya sehingga banyak mempengaruhi karya-karyanya, seperti karyanya yang berlatar kehidupan Jepang, Eropa, dan Amerika.

Sebagai pengarang, Nh. Dini termasuk salah satu pengarang yang kreatif. Banyak karya yang telah ditulisnya, baik itu puisi, cerpen, maupun novel. Karya puisi yang telah ditulisnya ialah “Februari” (1956), “Pesan Ibu” (1956), “Kapal di Pelabuhan Semarang” (1956), “Kematian” (1968), “Berdua” (1958), “Surat Kepada Kawan” (1964), “Bertemu Kembali” (1964), “Dari Jendela” (1966), “Sahabat” (1968), “Kotaku” (1968), “Penggembala” (1968), “Terpendam” (1969), “Pulau yang Ditinggal” (1969), “Bulan di Abad yang Akan Datang” (1969), “Anakku Bertanya” (1969), “Tetangga” (1970), “Kelahiran “ (1970), “Burung Kecil” (1970), “Pagi Bersalju” (1970), “Sesaudara” (1970), “Jam Berdentang” (1970), “Musim Gugur di Hutan” (1970) “Penyapu Jalan di Paris” (1970), “Yang Telah Pergi”(1970), “Rinduku” (1970). “Tak Ada yang Kulupa” (1971), Le havre” (1971), “Paeis yang Kukenal” (1971), “Mimpi” (1971), “Dua yang Pokok” (1971), dan “Kemari Dekatkan Kursimu” (1971).

Cerita pendek yang ditulisnya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Dua Dunia (1956), Tuileries (1982), serta Segi dan Garis (1983). Kumpulan cerpen Dua Dunia terdiri atas tujuh cerpen, yaitu “Dua Dunia”, “Istri Prajurit”, “Djatayu”, “Kelahiran”, “Pendurhaka”, “Perempuan Warung, dan “Penemuan”. Kumpulan cerpen Tuileries terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Tuileries”, “Kucing”, “Pabrik”, “Hari Larut di Kampung Borjuis”, “Kalipasir”, “Jenazah”, “Pencakar Langit”, “Matinya Sebuah Pulau”, “Pasir Hewan”, “Burung Putih”, “Tanah yang Terjanjikan”, dan “Warga Kota”.Kumpulan cerpen Segi dan Garis terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Di Langit di Hati”, “Di Pondok Salju”, “Hujan”, “Ibu Jeantte”, “Janda Muda”, “Kebahagiaan”, “Keluar Tanah Air”, “Pandanaran”, “Penanggung Jawab Candi”, “Perjalanan”, “Sebuah Teluk””, dan “Wanita Siam”. Kumpulan cerpen yang lain ialah Liar (1989) (perubahan judul kumpulan cerpen Dua Dunia) dan Istri Konsul (1989)

Novel yang telah ditulisnya ialah Dua Dunia, (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Orang-Orang Trans (1985), Pertemuan Dua hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1993), dan Kemayoran (2000).

Karya lain yang ditulisnya ialah Pangeran dari Negeri Seberang (Biografi penyair Amir Hamzah) (1981), Dongeng dari Galia Jilid I dan II (cerita rakyat Prancis) (1981), Peri Polybotte (cerita rakyat Prancis) (1983), dan Sampar (novel terjemahan dari La Peste karya Albert Camus) (1985).

Penghargaan yang telah diperolehnya ialah hadia kedua untuk cerpennya “Di Pondok Salju” yang dimuat dalam majalah Sastra (1963), hadiah lomba cerpen majalah Femina (1980), dan hadiah kesatu dalam lomba mengarang cerita pendek dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Le Monde dan Radio Frence Internasionale (1987).

Sumber : Balai Bahasa Bandung

Share:

Jusuf Sjarif Badudu

JS Badudu
Biografi
Jusuf Sjarif Badudu, lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, lahir di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Dalam usia tiga belas tahun (1939) Badudu manamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tenggara. Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tenggara (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tertena, Sulawesi Tenggara. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951. Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

Sebagai orang yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia, Badudu telah mengabdikan diri sebagai guru sejak usia 15 tahun 5 bulan. Ia menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Pada tahun 1951—1955 ia menjadi guru SMP di Poso, Sulawesi Tengah, dan pada tahun 1955—1964 menjadi guru SMA di Bandung. Ia juga pernah menyumbangkan tenaga sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1965 –1991.

Tahun 1982—sekarang, Badudu menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Bandung (dulu IKIP Bandung). Ia juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor pada tahun 1991—sekarang dan di Universitas Nasional Jakarta pada tahun 1994—sekarang (tidak aktif memberikan kuliah, tugas diserahkan kepada asisten). Ia juga pernah, selama tiga tahun, menatar guru-guru sekolah dasar di enam provinsi (Sumatra Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta) dalam proyek PEQIP (Prelimenary Education Quality Improvement Project), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional). Tahun 1995—1997, ia mengunjungi setiap provinsi itu 2 kali dalam setahun.

Tokoh bahasa ini juga dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977—1979) dan sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Ia juga sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Dalam usia 76 tahun saat ini Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karyanya:
1) Pelik-Pelik Bahasa Indonesia;
2) Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid);
3) Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya;
4) Ejaan Bahasa Indonesia;
5) Sari Kesusasteraan Indonesia untuk SMA (2 jilid);
6) Buku dan Pengarang;
7) Belajar memahami Peribahasa (6 jiIid);
8) Peribahasa;
9) Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid); dan
10) Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP (Catatan: Buku no. 7 s.d. 10 tidak diterbitkan lagi).

Badudu juga pernah melakukan penelitian bahasa, antara lain:
1) Morfologi Bahasa Indonesia Lisan (Pusat Bahasa);
2) Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan (Pusat Babasa);
3) Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga tahun 40-an (Pusat Bahasa);
4) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (Pusat Bahasa);
5) “Bahasa Indonesia di Daerah Perbatasan Bogor—Jakarta“ (Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung).

Sebagai pakar bahasa yang sangat berpengalaman, Badudu juga telah menyusun beberapa kamus, antara lain:

1) Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia;
2) Kamus Umum Bahasa Indonesia (Bedudu — Zain);
3) “Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar” (sedang diselesaikan);
4) “Kamus Kata-Kata Serapan Asing Bahasa Indonesia” (segera terbit).

Di masa pengabdian sebagai dosen dan guru besar, Badudu membimbing penulisan tesis mahasiswa S2 dan disertasi mahasiswa S3. Tujuh orang di antaranya sekarang telah menjadi guru besar (profesor) dan tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Bandung, Universitas Hasanuddin (Makassar), STKIP Gorontalo, Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Lambung Mangkurat (Samarinda).

Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia selama 49 tahun, Badudu pernah menerima bintang jasa Pemerintah RI, yaitu Satyalencana 25 tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra yang diserahkan sendiri oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada tanggal 15 Agustus 2001 di Istana Negara. Bintang jasa itu diberikan pemerintah sebagai penghargaan atas jasanya membina bahasa Indonesia selama bertahun-tahun bagi seluruh lapisan masyarakat.

Badudu didampingi istri yang sangat setia, Eva Henriette Alma Badudu—Koroh. Mereka menikah 9 Mei 1953. Buah perkawinan mereka menghasilkan 9 putra-putri, yaitu Dharmayanti Francisca, Erwin Suryawan, Chandramulia Satriawan, Chitra Meilani, Armand Edwin, Rizal Indrayana, Sari Rezeki Adrianita, Mutia Indrakemala, dan Jussar Laksmikusala.

Profesor bahasa ini tinggal di Jalan Bukit Dago Selatan 27 Bandung
Telepon dan Faksimile: 022—2501362
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 22 November 2007 )
Sumber : Balai Bahasa Bandung

Share:

Gatot Mangkupraja

Biografi

Gatot Mangkupraja (1898-1968) adalah tokoh yang dekat dengan Bung Karno. Ketika PNI didirikan tahun 1927 Sukarno menjadi Ketua dan Gatot menjadi sekretaris pembantu Soekarno. Pada 1929 hingga 1931, ia ditangkap dan diadili bersama Bung Karno, di Bandung. Keluar dari penjara, Gatot membuka toko obat dan menjalankan bisnis.

Pada jaman Jepang, Gatot tidak setuju dengan adanya milisi yang dianggapnya malapetaka bagi rakyat. Namun ia menganjurkan berdirinya barisan sukarela yang kemudian dikenal sebagai Peta (Pembela Tanah Air). Bahkan surat permohonan pembentukan barisan itu dibuatnya dengan tinta darah.

Tanggal 22 Oktober 1945 Gatot ditangkap tentara Sekutu ditahan di pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Baru tahun 1947 ia dibebaskan. Setelah itu ia aktif dalam Gerakan Pembela Panca Sila dan tahun 1962 menjadi anggota MPRS. Ia diberhentikan Soeharto sebagai anggota MPRS tahun 1966 karena dianggap pendukung Bung Karno.
Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

Harimurti Kridalaksana

hari murti

Biografi

Harimurti Kridalaksana lahir di Ungaran, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Desember 1939. Ia memiliki nama lengkap Raden Mas Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana.

Pada tahun 1963 Harimurti menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada tahun 1971 ia mengikuti pendidikan tentang didaktik bahasa di University of Pittsburg, Amerika Serikat, dan pada tahun 1973 mengikuti summer school sekaligus menjadi visiting scholar di University of Michigan Ann Arbor, Amerika Serkat. Ia pernah menjadi Fulbright Scholar di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 1971; Ia juga pernah menjadi visiting scholar di University of Michigan, Amerika Serikat, pada 1973. Pada tahun 1985 ia menjadi pengajar dan peneliti tamu di Johan Wolfgang Goethe Universitat, Jerman. Kemudian, pada tahun 1987 ia memperoleh gelar doktor ilmu sastra .

Harimurti memulai karier dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 ketika ia menjadi guru dalam bidang civies dan penerjemah karya-karya dalam ilmu politik dan ilmu sosial selama beberapa tahun. Pada tahun 1961 ia mulai mengabdi di Universitas Indonesia dan mendapat tugas mengajar sejarah linguistik dan linguistik historis komparatif Austronesia pada tahun 1963. Setahun kemudian Harimurti mengajar di Universitas Atma Jaya dan di pelbagai perguruan tinggi di Jakarta dan Yogyakarta, termasuk di Sekolah Staf dan Komando Angkatan
Laut, Universitas Gadjah Mada. Ia juga pernah mengajar di Frankfurt, Napoli, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Ia juga pernah dan masih menjadi external examiner di Universiti Malaya, Universiti Putra Malaysia, Annamalia University (India), dan Universiti Brunei Darussalam. Di Universitas Indonesia ia juga pernah menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia dua kali dan menjadi Koordinator Bidang Ilmu Budaya Program Pascasarjana selama dua periode.

Sebagai pakar bahasa, Harimurti telah manulis makalah lebih dari 100 dan buku lebih dari 20. Di awal kariernya, Ia pernah menulis, antara lain "Towards a standardization of phonologic and morphologic borrowed elements in Indonesian" dalam International Conference of Orientalists, Kuala Lumpur 1967; "Second participant in Indonesian address" dalam International Congress of Orientalist, Camberra (Australia) 1971; dan "Lexicography in Indonesia" dalam International Congress of Linguists, Wina (Austria) 1979. Beberapa penelitian lapangan pernah juga dilaksanakannya, antara lain penelitian sosiolinguistik di Jakarta dalam rangka kerja sama Stanford University dan Universitas Indonesia pada tahun 1969. Selain penelitian sosiolinguistik, Harimurti juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga, lalu melanjutkan penelitiannya mengenai bahasa Orang Laut di Kepulauan Riau dan mengenai bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972 Penenlitian ini disponsori oleh Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI. Kemudian, pada tahun 1974 ia melakukan survei politik bahasa di Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Harimurti adalah editor Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dan Kamus Mandarin-Indonesia. Di antara buku-buku yang pernah ditulisnya ialah Kamus Linguistik, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Masa Lampau Bahasa Indonesia:Sebuah Bunga Rampai, Introduction to Word Formation and Word Classes in Indonesian, Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Makalah penting
terkini yang beredar di luar negeri berjudul "The Sanskrit legacy in Indonesia today" yang disajikannya dalam 11th World Conference of Sanskrit di Turino Italia pada 3 April 2000, dan "Paradigma semiotik dalam linguistik Melayu/Indonesia" yang disajikan di Universiti Putra
Malaysia pada 22 Oktober 2001. Dalam bulan Juli 2002 diluncurkan buku terbarunya yang berjudul Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Di organisasi profesi Harimurti juga aktif. Ia pernah menjadi anggota organisasi ilmiah seperti Linguistic Society of America, Societas Linguistica Europaea, Royal Asiatic Society, International Association of Cognitive Linguistics, Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, Masyarakat Linguistik Indonesia, Perkumpulan Linguistik Malaysia. Ia juga menjadi salah seorang anggota International Committee on Indonesian Etymology, Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia yang pertama (2 periode), dan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia 2 periode. Sampai sekarang ia masih menjadi profesor teori linguistik dan Bahasa Indonesia dan Kepala Pusat Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia; dan pada 1 Desember 1999 ia mulai menjabat Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.


Share:

Asrul Sani

Asrul sani

Biografi

ASRUL SANI (1926—2004)*

Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, pada tanggal …2004.

Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar “Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat”. Meski membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya terkenal dari Schubert.

Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, namun sangat memperhatikan pendidikannya. Sejak kecil ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku-buku cerita ternama. Ibunya selalu membacakan buku-buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sekali lagi, ia patut berbangga hati karena sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita Surat Kepada Raja karya Tagore.

Inilah gambaran Asrul muda di mata Pramoedya Ananta Toer:

Seorang pemuda langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat tulen…Tinggalnya di jalan Gondangdia Lama. Mendengar nama jalan ini saja, kami pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap wajahnya. Di Gondangdia Lama hanya ada gedung-gedung besar, megah, dan mewah. Akan tetapi, kami pun punya kebanggaan “penerbitan kami”. Begitulah, pada suatu kali kami undang dia datang menghadiri diskusi sastra. “Penerbitan” kebanggaan kami, kami perlihatkan kepadanya. Dia baca pendapat redaksi tentang sajak-sajak peserta. Tentunya, kami ingin tahu pendapatnya, dan sudah tentu juga perhatiannya. Ternyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang kami harapkan. Aku masih ingat kata-katanya: “Tahu apa orang-orang ini tentang sajak?” Dan, kami pun sadar, sesungguhnya kami tidak tahu. Tapi itu tidaklah begitu mengejutkan dibanding dengan kata-katanya yang lain: “Tahu apa orang-orang ini tentang Keats dan Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar kata-kata aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah!

Pemuda berpeci merah tebal itu adalah asrul Sani . Dan “penerbitan” kamipun mati kehabisan darah kebakaran semangant.

Asrul memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936. Lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955. Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, gelar bergengsi itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari dunia seni (sastra, teater, dan film). Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).

Asrul Sani bisa memuji secara habis, selamanya disediakan tempat yang lebih tinggi bagi dirinya. (M. Balfas dalamHutagalung)g

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya ,Mahkamah, mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre, “Burung Camar” karya Anton P. Chekov, dll. Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), “Kemelut Hidup” (mendapat Piala Citra 1979),dll. Ia juga menyutradarai film “Salah Asuhan” (1972), “Jembatan Merah” (1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dll.

Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya dan berbagai bidang pula. Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama, Anggota DPR-MPR (1966—1983), dll.

Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama, ia menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahu lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972. Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki

Pada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak menghalangi keduanya untuk tampil di depan umum dengan mesra. Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya. Makanan dan minuman yang sesekali meluncur dari bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan lembut.

Karya-Karya Asrul Sani

I. Karya Asli

a) puisi

b) cerita pendek

c) drama

d) esai

II. Karya Terjemahan

a) puisi

b) cerita pendek

c) novel (masih berupa naskah)

d) drama (sebagian besar masih berupa naskah)



Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

Anton M. Moeliono

Anton M. Moeliono
Biografi
Anton M. Moeliono lahir di Bandung pada tanggal 21 Februari 1929, sebagai anak ketiga suami-istri R.M. Moeliono Prawirohardjo dan Maria A. Igno.

Ia beristri Cecilia Soeparni Josowidagdo. Anaknya yang sulung, Miriam Dian Pramesti, bersuami Yultido Ichwan. Mereka mempunyai dua anak: Diptraya Pramandana Ratulangi dan Karisa Diacita. Anaknya yang kedua, Isbia Nilam Paramita, bersuami Rafiq Hakim Radinal. Mereka dikaruniai dua orang anak: Giovanni Reshwara Argya dan Rafael Nararya Prasidha.

Pada tahun 1958 Anton M. Moeliono menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Kemudian, pada tahun 1965 dia memperoleh gelar Master of Arts in General Lingustics di Cornell University, AS. Dia mengikuti program Studi Pascasarjana, Rijksuniversiteit Leiden, pada tahun 1971?1972 dan pernah menjadi Professional Associate di East-West Center, University of Hawai pada tahun 1977. Setelah itu, pada tahun 1980 dia menjadi Visiting Fellow, Research School of Pacific Studies, The Australian National University. Dia memperoleh gelar doktor Ilmu Sastra, Bidang Linguistik, di Universitas Indonesia pada tahun 1981 dan sejak tahun 1982 menjadi guru besar bahasa Indonesia dan Lingustik pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Sebagai pakar bahasa, Anton Moeliono memiliki segudang pengalaman, baik di Universitas Indonesia, Pusat Bahasa maupun Universitas Atma Jaya. Dia meniti jenjang kariernya di Universitas Indonesia sejak tahun 1958. Pada mulanya dia menjadi Asisten Ahli. Kemudian, ketika berumur 31 tahun, pada tahun 1960--1963 dia menjadi-Ketua Jurusan Sastra Indonesia. Pada tahun 1962--1967 dia menjadi Lektor. Dia juga pernah menjadi Pembantu Dekan Bidang Akademi sejak tahun 1965 sampai dengan 1967 dan Ketua Badan Pimpinan Fakultas Sastra tahun 1966--1967.

Kemudian, pada tahun 1969--1977 dia menjadi Kepala Lembaga Linguistik. Pada tahun 1967--1973 dia diangkat menjadi Lektor Kepala Madya dan pada tahun 1973--1982 menjadi Lektor Kepala. Dia pernah memangku jabatan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Sastra pada tahun1982--1983 dan Ketua Program Studi Linguistik Pascasarjana tahun 1987--2000. Kemudian, dia menjadi Ketua Jurusan Sastra Germania pada tahun 1989--1990 dan tahun 1991--1995 merangkap jabatan Ketua Program Studi Sastra Belanda. Dia menjadi profesor tamu pada Goethe Universität, Frankfurt tahun 1990--1991; profesor tamu pada Katholieke Universiteit Brabant, Tilburg, tahun 1991; profesor tidak tetap pada Program Pascasarjana, IKIP Jakarta, pada tahun 1991--1995.

Anton M. Moeliono juga mengabdi pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 1960. Pada tahun 1960--1963 dia menjadi Kepala Bidang Perkamusan. Kemudian, dia menjadi Ketua Komisi Istilah Seksi Linguistik pada tahun 1962--1967 dan pada tahun 1966--1967 menjadi Wakil Ketua Komisi Istilah. Pada tahun 1966--1972 dia diangkat menjadi Ketua Panitia Ejaan Baru. Dia menjadi Wakil Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan pada tahun 1972--1984 dan Ketuanya pada tahun 1984--1989. Sejak tahun 1993 sampai sekarang dia menjadi Anggota Panitia Kerja Sama Kebahasaan.

Dia memangku jabatan Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1984--1989. Dia juga pernah menjadi Direktur Indonesian Linguistics Development Project (Proyek Kerja Sama Universitas Leiden-Pusat Bahasa) pada tahun 1988--990 dan menjadi Direktur Eksekutifnya pada tahun 1990--1992. Sejak tahun 1993 sampai sekarang, dia aktif sebagai Konsultan Bahasa, khususnya peristilahan.

Selain berkhidmat di Universitas Indonesia dan Pusat Bahasa, Depdiknas, Anton M. Moeliono juga berkiprah di Universitas Atma Jaya. Dia salah seorang anggota perintis dan pendiri Yayasan Atma Jaya pada 1960, dan menjadi anggota yayasan tersebut sejak tahun 1962 sampai 1999.

Dia pernah menjadi Ketua Badan Harian Yayasan Atma Jaya pada tahun 1967--1968 lalu menjadi anggota badan itu sejak tahun 1968 sampai 1999. Di samping itu, pada tahun 1961--1963 dia menjadi Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, lalu pada tahun 1964--1970 dia memangku jabatan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan pada tahun 1967--1970 merangkap menjadi Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dia kemudian menjadi Direktur Pusat Penelitian pada tahun 1974--1986 dan 1991--1994, dan pada tahun 1980--1981 merangkap menjadi Direktur Lembaga Bahasa.

Pada tahun 1984--1990 selaku warga Atma Jaya dia terpilih menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik. Kemudian, pada tahun 1993 dia diangkat menjadi Profesor tidak tetap Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Program Pendidikan Pascasarjana. Sejak tahun 2000 lalu menjadi guru besar tetap FKIP Atma Jaya dan merangkap sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan tersebut. Pada tahun 2001 dia mendapat kehormatan menjadi Warga Adipurna Atma Jaya.

Di organisasi profesi Anton M. Moeliono juga aktif. Dia pernah menjadi Wakil Ketua Ikatan Sarjana Kaltolik (ISKA) pada tahun 1959--1963; Wakil Ketua Ikatan Sarjana Sastra Indonesia pada tahun 1961--1966; Ketua Ikatan Lingustik Indonesia, Jakarta, pada tahun 1967--1975; dan Wakil Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia pada tahun 1975--1979. Selain itu, Anton M. Moeliono juga menjadi anggota Dewan Pembina Himpunan Pembina Bahasa Indonesia pada tahun 1985--kini, anggota Dewan Pembina Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia pada tahun 1986/kini, anggota Royal Institute of Linguistics and Anthropology, Netherlands tahun 1950--kini, dan anggota Linguistic Society of America tahun 1965 ini.

Tanda penghargaan yang pernah diterimanya adalah:

1. Bintang Ksatria Ordo Gregorius Magnus Agung
dari Vatikan, tahun 1993.

2. Gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Sastra dari
Melbourne University, tahun 1995.

3. Bintang Ksatria Perwira ordo Oranje-Nassau
dari Kerajaan Belanda, tahun 1996.

Di samping itu, ada empat buku muhibah yang disampaikan oleh bekas muridnya, rekan dan sahabatnya.

1. Bahasawan Cendekia (1994)

2. Mengiring Rekan Sejawat: Festschrift buat Pak
Ton (1994)

3. Telaah Bahasa dan Sastra (1999)

4. Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono,
Pereksa Bahasa (2001)

Sebagai pakar bahasa yang sangat dikenal masyarakat, khususnya para pencinta bahasa, Anton Moeliono telah menghasilkan karya yang sampai saat ini masih digunakan sebagai acuan. Daftar karya tersebut adalah sebagai berikut:

1958
'Fonologi Bahasa Nias Utara', Skripsi Fakultas Sastra, U.I.

1960

(dengan T.W. Kamil) 'Beberapa Patokan dan Saran untuk Pelaksanaan Linguistik di Indonesia'. Majalah llmu Pengetahuan 2/1. Jakarta.

1963 Ragam Bahasa di Irian Barat. Di dalam
Koentjaraningrat dan H.W. Bachtiar (ed.).
Penduduk lrian Barat. Jakarta:
Penerbit Universitas.

1964 'On Grammatical Categories in Indonesian'.
Tesis M.A., Cornell University.

1965 (ed.). Kamus Ilmu Bahasa dan
Kesusastraan. Djakarta: Lembaga Bahasa
Nasional.

1966 'Studi Bidang Bangunan dan Alat Rumah
Tangga'. Di dalam Studi Bidang Kehidupan
Desa di Pinggiran Djakarta. Jakarta:
Balai Pustaka.

1967
a. (ed.) Edjaan Baru Bahasa
Indonesia. Jakarta: Penerbit Dian
Rakjat.
b.'Suatu Reorientasi dalam Tata Bahasa
Indonesia'. Di dalam Lukman Ali dan
Achadiati Ikram (ed.). Bahasa dan
Kesusastraan Indonesia sebagal Cermin
Manusia Indonesia Baru. Jakarta:
Gunung Agung.
c. 'Beberapa Tjatatan Bahasa terhadap Doa
Harian'. Berita Liturgi II, 5 dan
6.
d. 'Arti Kata Spiritus dalam Bahasa
Indonesia'. Berita Liturgi II, 10.

1968

a. 'Terdjemahan Baru Bacaan Alkitab dalam
Misa Mempelai'. Berita Liturgi
III, 5.

b. 'Faktor Sosiobudaja dalam Bahasa
Kegeredjaan Kita'. Berita Liturgi
III, 11.

1969

a. 'Sekali Lagi Masalah Tutur Sapa'.
Berita Liturgi IV, 6 dan 7.
b. 'Bahasa Indonesia dan Pembakuannya: Suatu
Tinjauan Linguistik'. Di dalam Majalah
Dewan Bahasa XIII, 4, dan di dalam
Harimurti Kridalaksana dan Djoko Kentjono
(ed.). Seminar Bahasa Indonesia 1968.
Endeh, Flores: Nusa Indah, 1971.

1972 'Aspek Etnolinguistik dalam Terjemahan'.
Basis II, 8. Yogyakarta: Kanisius.

1973 'Terms and Terminological Language'. The
Indonesian Quarterly 2/1: 90-104.

1975

a. (et al.) Pedoman Umum Ejaan Yang
Disempurnakan. Jakarta : Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
b. (et aI.) Pedoman Umum Pembentukan
Istilah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
c. 'A Recent History of Spelling Reforms in
Indonesia'. Nusa: Linguistic Studies
in Indonesian and Languages in
Indonesia,Part 1. Jakarta: Badan
Penyelenggara Seri
Nusa.
d. 'Language Loyalty versus Linguistic
Diversification', ASANAL II, 1975

1976

a. 'Ciri-ciri Bahasa Indonesia yang Baku'.
Di dalam Amran Halim (ed.). Politik
Bahasa Nasional, II. Jakarta: Pusat
Bahasa, 1976 dan Majalah Pengajaran
Bahasa dan Sastra I, 3. 1977.

b. 'Penyusunan Tata Bahasa Struktural'. Di
dalam Yus Rusyana dan Samsuri (ed.).
Pedoman Penulisan Tata Bahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

1978 'Dua Pedoman Pelengkap Pembentukan Istilah'
Di dalam Maman Sumantri et al. Sejarah
dan Perkembangan Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. Jilid 3. Sen
Penyuluhan 12.

1980 a. 'Bahasa Indonesia dan Ragam-Ragamnya'.
Majalah Pembinaan Bahasa
Indonesia, 1:15--34.

b. 'Pemodernan Bahasa Indonesia',
Analisis Kebudayaan I, 3: 24--32.

1981 'Hal Pemenggalan Kata'. MPBI II: 45--47.
Pelangi Bahasa. Suntingan bersama
dengan Harimurti Kridalaksana. Jakarta:

1982 'Diksi atau Pilihan Kata'. MPBI III: 139--
150.

1983 a. 'Ikhtisar Putusan Kongres Bahasa'. MPBI
IV:259--261.

b. 'Beberapa Segi Standardisasi Tata
Bahasa'. Risalah Kongres Bahasa Indonesia
III, 1978.

c. 'Language Planning and Modernization',
Lokakarya Culture Learning Institute,
Hawaii, 1983

1984 Santun Bahasa. Jakarta: Gramedia

1985 'Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan
Alternatif dalam Perencanaan Bahasa'. Sen
Indonesian Linguistics Development
Project, W.A.L. Stokhof (ed.); juga
dalam versi Inggris: Language Development
and Language Cultivation: Alternative
Approaches in Language Planning. Sen
Pacific Linguistics, S.A. Wurm (ed.).

1986 Language Development and Cultivation:
Alternative Approaches in Language
Planning. Pacific Linguistics, Series 0
no. 68 Canberra: The Australian National
University.

1987

a. Masalah Bahasa yang Dapat Anda Atasi
Sendiri. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.

b. 'Intellectualization of the Lexicon: The
Development of Indonesian Terminologies',
prasaran pada Kongres Studi Belanda di
Indonesia, Universitas Indonesia, 27
November 1987.

c. ""Indonesian Language in Science and
Technology"", prasaran pada Program
Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia,
Universitas Satyawacana, Salatiga, 19
Januari 1987.

d. ""Functional Roles of Indonesian:
Experiment in Language Planning"",
prasaran pada Annual Conference of
Linguistic Society of Papua New Guinea,
Lae, 12 JuIi 1987.

1988

a. (Penyunting Penyelia) Kamus Besar
Bahasa Indonesia, edisi 1, 1988.

b. ""Indonesia Language vis-Ã -vis Strategies
of National Culture Development"",
prasaran pada Program Intensif Bahasa dan
Budaya Indonesia, Universitas Kristen
Satyawacana, Salatiga, 1988.

c. ""Makna Pembinaan Bahasa Jerman di dalam
Masyarakat Indonesia"", prasaran pada
Lokakarya Guru Bahasa Jerman Se-
Indonesia, Srengseng, Jawa Barat, 1988.

d. ""Sikap Bahasa yang Bertalian dengan Usaha
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa"",
prasaran pada Kongres Bahasa Indonesia V,
Jakarta, 2 November 1988.

e. ""Peranan Bahasa Pembangunan"", prasaran
pada Pertemuan Direksi dan Staf
Pertamina, Jakarta, 22 November 1988.

f. ""Pedoman Pengembangan Istilah"", prasaran
pada Pertemuan Panitia lstilah Departemen
Kehutanan, Jakarta, 18 Agustus 1988.

g.(Penyunting bersama dengan Soenjono
Dardjowidjojo) Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia, edisi I,1988.

1989 Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan
Tersebar. Jakarta: Gramedia.

1989 Language Planning Processes in a
Multilingual Society. Leiden: University
of Leiden

1993 ""The First Efforts to Promote and Develop
Indonesian"" dalam Joshua A. Fishman (ed.)
The Earliest Stage of Language
Planning: The ""First Congress""
Phenomenon. Berlin, New York: Mouton de
Gruyter.

1994 ""Indonesian Language Development and
Cultivation"" dalam Abdullah Hassan (Comp.)
Language Planning in Southeast Asia.
Ohio University Symposium 1989. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

1994 ""Standardisation and Modernisation in
Indonesian Language Planning"" dalam
Georges Luedi (ed.)
Sprachstandardisierung. 12 Kolloquium
der Schweizenischen Akademie der Geistes-und
Sozialwissenschaften (1991) Freibung,
Schweiz: Universitet Verlag 1994.

1994 ""Contact-induced Language Change in Present-
day Indonesian"" dalam Tom Dutton dan Darrell
T. Tryon (eds.) Language Contact and
Change in the Austronesian Worlds.
Trends in Linguistics Studies and Monographs
(77). Berlin, New York: Mouton de Gruyter.

1994 ""Le Probleme de Ia Langue: Cest a se taper
la Tête contre les Murs"" dalam Marcell
Bonneff et al. L'Indonesie
Contemporaine. Cahier d'Archipel (21)
Paris: LHarmattan.

1994 Anton M. Moeliono dan Charles E. Grimes.
""Indonesian (Malay)"" dalam Darrell T. Tryon
(ed.) Comparative Austronesian
Dictionary: An Introduction to
Austronesian Studies. Part 1: Fascicle 1.
Berlin, New York: Mouton de Gruyter.

1996 ""Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam
Bidang Iptek"". Bandung: Penerbit ITB.

1997 1. Aspek Teoretis dalam Penerjemahan"".

2. Beberapa Aspek Masalah Penerjemahan ke
Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.

1998 Implikasi Penerjemahan dalam Pengembangan
Bahasa Indonesia. Bandung:Penerbit ITB.

2000 a. Bahasa dan Peristilahan dalam Konteks
Hukum dan Perundang-undangan. Jakarta:
Badan Pembinaan Hukum Nasional.

b. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu
Bangsa. Media Indonesia.
(19 Desember)


Sumber : Balai Bahasa Bandung
Share:

PEMILU SERENTAK 2019

PEMILU SERENTAK 2019

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers