Monday, 11 August 2008

Beni Setia

ukliterarybiennale.com

Beni Setia lahir di Bandung, 1954. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertanian Atas, Soreang, Bandung pada 1974. Ia menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Bukunya yang telah terbit, Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996). Kini ia tinggal bersama keluarganya di Caruban, Madiun, Jawa Timur.

Berikut adalah sejumlah puisinya, yang dikutip dari sejumlah sumber. Empat puisi pertama dikutip dari Jurnal Nasional edisi Minggu, 27 Juli 2008. Puisi lain dikutip dari Koran Tempo dan sebuah blog. Silakan disimak.

SAJAK-SAJAK BENI SETIA
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu 27 Juli 2008

TRANSKRIPSI QANA

ada lubang di mana ranjang cinta
pernah ada. seharusnya tetap ada

udara, kau tahu? penuh debu
sisa serpihan dan tebaran
bubungan dari segala yang runtuh

barbeque party di halaman dalam
di tengah musim. di sini, kini:
tak ada musik. tak ada riuh suara anak-anak

hanya sirine. gerak sigap tanpa suara
di antara ogah menangis dan mengeluh

kami bisu. kebencian muncul dari
aroma darah. silsilah bom + roket menjalar

BAALBEK — JOMBANG

persaudaraan itu 1.000.000 tenda
yang menyatukan kita dalam satu
ruang. luka di baalbek nyeri di jombang

kami berteriak. 1.000.000.000 takbir
membuat kita lupa akan derita
penghinaan dan pengkhianatan amerika

kita tegak. tangan terkepal, suara
lantang. percaya kemurahan Allah
– roda nasib digulingkan dari jombang

dengan berteriak di jalan-jalan,
dengan berdoa di masjid-masjid
– hanya berdoa. berdoa bersama-sama

TALKING ABOUT

di winter’s tales bar di long beach
seorang penyanyi negro bergumam:
”sometimes the snow comes down on june”*]

seorang marinir mengangkat gelas wishkey,
”di libanon selatan,” katanya, ”bom + roket
berjatuhan tiap dini hari sepanjang akhir juli”

gadis-gadis topless menawarkan xo ekstra
dengan pusar ditindik butir berlian imitasi

kemilau bagai sisa tangis dalam kelam
di pipi anak yatim disiram sisa lampu
mobil ambulan. ”berjatuhan tiap dini hari …”

”semua mati …,” katanya. dan di jakarta
london. roma. paris. la. new york. tel aviv
sambung-menyambung. ledakan tak kunjung reda

*] bait awal lagu Vanessa Williams, ”Save The For Last”

DINDING AMARAH

sisa panas siang naik dari ladang
angin darat menating dan menebar
di atas deru ombak dan lenguh lumba-lumba

tanpa atap. tanpa dinding. di tengah
instalasi reruntuk bombardir dini hari
adzan shubuh bagai jamaah yang tersesat

tersaruk mencari ceruk. sisa mihrab buat
mengeluh. ”berapa kilo lagi,” katanya,
”berapa hari lagi untuk tiba di jerusalem …?”

kami tak punya apa-apa. hanya amarah
yang dihidangkan dengan tangan kosong
yang akan dihidangkan dengan tangan kosong

———

Pusi Beni Setia
Sumber: Koran Tempo, Minggu, 01 Juni 2008

KARNA

tembang siapa yang bikin
kantuk singgah? nina bobo
apa yang ngangkat jiwa
(nun) terbang ke alam mimpi?

layang-layang yang
diwahyukan lewat
ayah dan ibu
melayang-layang

anaknya lanang apa?
anaknya wadon apa?
aku cuma lumut–hanyut
mengglosor dari raut batu

sampai yang lebih kukuh
dari pancang: merengkuh.
tetes tangis menggerus
candi anonim–ayah dan ibu

yatim-piatu

YUDISTIRA

aku akan mendaki gunung
ini, aku mencari puncak
itu. karena pengembaraan
mengekalkan rindu dalam kalbu

yang kekal itu tak di lurah,
tak di lembah, tak muncul
dari tunggul sebagai tunas. itu
ada di penghujung undakan awan

diam-diam meninggalkan
istana, menjauhi rakyat,
kerabat, musuh dan saudara
–yang mengekal batu di setapak

: ada yang memayungi segala
meski tak tampak di mana-mana

BIMA

hari kamis: aku menyelam
ke dasar samudra. mencari
awal yang membangkitkan
alun, ombak dan badai lautan

mencari penggerak diri
mencari pengukuh aku
–sumber dari segala ada

hari jumat: hati pergi
sendiri, nuh berjingkat
menjauhi hiruk-pikuk semesta ada

mengejar awal garis
: sirotol mustakim

NAKULA-SADEWA

dulu: pencinta ulung itu
membelah cermin: aku
dan bayanganku terpisah

siapa yang lebih utama
antara kami? ibu kunti
menerima kami seperti
merelakan ayah dan ibu moksa

pada satu saat harus dipilih:
aku atau kau–yang tinggal
di antara yang tersisa. yudistira

wajah lelah di raut telaga
tak menjelaskan: siapa
yang dipilih raut gelombang?

1426 H/1428 H

Beni Setia kini tinggal di Caruban, Jawa Timur. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku kumpulan puisinya adalah Legiun Asing (1987) dan Harendong (1996).
———–

Selasa, 2007 Desember 25
Puisi Beni Setia

Sumber: darkest hole

MENGAPA HANYA MALAIKAT

satu dua antara belantara (rambut
putih kehilangan hitam), satu dua
kelokan lengang menjelang malam. di ujung
menunggu pedang dengan rajam + rajam

“bila mulut banyak mengunyah, bila lambung
banyak memamah, bila darah hanya berlemak:
apa tak terbaca plakat orang-orang lapar
pada setiap kerut lipat kulit perut?”

megap-megap bagai ikan, merayap bagai ketam
: tangan si miskin terkunyah larut di darah
o, mengapa hanya malaikat yang tahu, senyum
melihat jantung diremas-gemas dendam si lapar

jalan lengang, jalan panjang, jalan bimbang
bulan ramadhan; mengapa hanya malaikat yang
tahu? mengapa
mengapa hanya malaikat

1979/1983/1987

NASIB SEBUAH PERCAKAPAN

ada yang diam-diam menyandar pada dinding
saat waktu melampaui tengah malam
dan kanak bimbang di negeri mimpi

ada yang tergelincir ke kedalaman kabut
saat jalan-jalan mengejang dan kaku
dan batu-batu memasang butiran embun

ya! ada pohon tanpa daun, ada bunga tanpa
kupu, dan ada adaan tanpa ada, kata-kata
(gunung es di laut): mencair dalam diri — sendiri




Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers