Wednesday, 13 August 2008

SASTRA RELIGIUS "SASTRA MENCARI TUHAN"

YB. Mangun wijawa dalam sebuah bukunya pernah mengatakan bahwa segala segala sastra adalah religius (Mangunwijawa: 1988). Religius diambil dari bahasa Latin relego, dimaksudkan dengan menimbang kembali manusia yang berarti8, yang berhati nurani serius, saleh, teliti dan penuh dengan pertimbangan spiritual.

Religius lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati,’ moving in the deep hart, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain, karena bernafaskan intimitas psikologi yakni totalitas universal (termasuk rasio dan rasa manusiawi) ke dalam pribadi si manusia. Dengan demikian sikap religius ini lebih mengajuk pada pribadi seseorang dengan Khaliqnya, bertata laku sesuai dengan karsa Tuhan. Dituangkan dalam karya sastra menjadi sastra religius ataupun sering disebut dengan sufisme dalam sastra karena sastra yang demikian merupakan usaha pencarian Tuhan. Sikap religius dimanifestasikan dan diwujudkan dalam karya-karya sebagai upaya pengampiran kepada Penciptanya.

Kalau kita benar-benar menghayati hakikat ketuhanan dengan benar dan mendalam, Tuhan adalah kasih sayang bersemayam dalam lubuk hati kita, kasih yang dapat kita hayati. Hal tersebut dapat kita lihat karya Hamzah Fansuri, penyais sufi abad XVII M dalam Ma;rifat-nya bait akhir dari sepuluh bait.

Tuhan kita itu tiada bermakan
Dhohornya nyata dengan rupa insan
Man’araf nafsahu suatu burhan
Faqad’arafa rabbahu terlalu bayan


Hamzah Fansuri begitu intens dan sublim kesannya dalam puisi di atas, terutama yang terasa menyentuh intuisi. Dalam sebuah puisi tersebut mengisyaratkan siapa pun yang kenal dengan pribadinya (man’arafa nafsahu), maka merupakan sebuah petunjuk dan dengan demikian mudahlah kita untuk mengenal Sang Pencipta (faqad’arafa rabbahu). Tuhan kita itu tiada bermakan, seolah Hamzah Fansuri sudah merupakan kesatuan yang tidak ada lagi perbedaan dengan Tuhan. Tetapi lebih terasa lagi bagaimana sentuhan puisi tersebut dapat mengetuk kejiwaan seseorang sehingga menimbulkan gairah menuju transendental.

’Sastra mencari Tuhan’ merupakan usaha sastrawan melalui karya sastra yang bernuansa religius dengan penghayatan iman secara mendalam dan mendasar, dengan bekal-bekal tersebut mereka menghayati sebuah pencarian terhadap Khaliqnya, terhadap Penciptanya dan sastra (karya sastra) sebagai medium yang dinamis produktif dan kreatif.

Sebenarnya mencari Tuhan itu begitu mudahnya, tiada berbeda dengan mencari udara yang setiap detik tiada pernah berhenti-hentinya dihirup oleh manusia sebagai ’tenaga’ kehidupan. Seperti pula mencari ’sinar’ matahari, padalah selama ini kita hidup, melihat, berjalan-jalan dalam kemilau caha-Nya. Hal tersebut terbukti dari para sufi menemukan Tuhannya terlukis dalam puisi Sutardji Colzoum Bachri Sampai berikut ini.

Hafiz ketemu Tuhan semalam tapi kini di mana
Hafiz Rumi menari bersama Dia, tapi kini di mana Rumi
Hamzah jumpa Dia di rumahtapi kini di mana Fansuri
Tardji menggapai Dia di puncak tapi kini di mana Tardji
Kami tak dimana-mankami mengatas meninggikami dekat
Kalau kalian mabuk
Tuhankami mabuk sama kalian
Kalau kalian rindu Dia rindu kalian bersama kami
Kalau sampai ke rumah Diri kalian bersama kami
Kalau sampai ke rumah Diri kalian kembali ke rumah kami
Sampai kalian ke puncak nurani
Kalianpun sampai sebatas kami
Sampai, 1986



Sutardji Colzoum Bachri dalam menggapai Tuhannya ternyata masih juga diwarnai oleh perasaan gelisah dan resah yang mencekam. Dalam puisinya Ah, misalnya bagaimana Sutardji CB memburu Tuhan mulai dari rasa luka yang dalam, kemudia mengecup luka, membelai aduhai, tiarap harap, mencium aum, dipukau au, memasuki segala risau sepi. Dari segala nabi, sampai pada meninggalnya puri puraMu, terlukis dalam ucapannya:

”Ayo kejar
tanyakan!
-hei jalan siapakah kau bawa?
-akukah itu?
(gelap)
Mana jalanmana orangnya?
bajingan!
bulan ditelan ikan.
Mana Jalanmu, 1986

Jelas sekali gambaran jiwa Sutardji yang terjebak pada ketidaktahuan menggapai rahasia abadi. Penyair tersebut tersayat-sayat dan mengalmi luka eksistensial dalam mencari Tuhannya, mencari makna transendental.
Untuk mencari esensi eksistensi Tuhan haruslah memenuhi prasyarat-prasyarat tertebtu yang dibutuhkan.
Seperti halnya kalau kita ingin bertemu dan menjumphi ’Sang Pacar’. Di samping mengolah dan mengatur laku, bertafakur dan bermeditasi dalam mencapai keadaan suasanya keheningan dan kebeningan. Kejernihan dan kebersihan hati nurani yang disertai dengan rasa cinta kasih tetap meliputihati sanubari manusia. Sebab bekal untuk dapat ’mencari’ Tuhan adalah kepercayaan atau iman yang benar dan lurus, kesucian dan kreativitas yang suci hati dan suci cipta karsa. Marilah kita hayati puisi WS Rendra di bawah ini, betapa pentingnya prakondisi-prakondisi tersebut diperlukan sebagai syarat dalam upaya mencari Tuhan melalui bahasa kesadaran jiwa yang menyentuh hakikat kenyataan.

Mengolah cinta kasih
harus meninggalkan
pamrih tentang diri kita,
berarti,
mencarining
Rakyat Adalah Sumber Ilmu, 1975


Sastra religius yang mencapai tataran paling tinggi dan mendalam hakikatnya adalah ’penyatuan’, komunikasi sambung rasa dengan Tuhan melalui the ultimate reality, hakikat kenyataan itu sendiri. Hal tersebut akan dapat membuka segala misteri permasalah yang ada, sehingga manusia menemukan tempat (maqom) di dalam alam semesta.


Sumber : dikutip dari buku ”Sastra : Eksistensialisme – Mistisme Religius” karya
Supaat I. Lathief halaman 175 - 178


Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers