Tuesday, 12 August 2008

zab bransah



Dalam perjalanan dengan mobil rental dari Bandara Polonia, Medan, ke Langsa, Aceh Timur, Sabtu (28/6/2008), saya menulis SMS untuk Deny Pasla dan Zab Bransah. Isinya sama: “Penyair, adakah puisi baru yang telah dan akan lahir?” Saya tidak memberitahu bahwa saya sedang menuju ke kota mereka. Saya ingin memberi kejutan.

Zab segera membalas. “Ada. Siapa ini?” Wah, tampaknya Zab tidak membaca lebih lengkap pesan singkat saya. Sebab, di akhirnya saya tulis nama lengkap saya. Atau untuk memastikan? Entahlah, saya tidak tahu. Saya pun menjawab memberitahu siapa saya. Lalu kami pun ngobrol lewat SMS. Ia tampak surprised mendapat pesan singkat dari saya.

Dalam salah satu SMS, Zab mengirim puisi berjudul Rindu yang berbunyi: “Kukirim kabar kepada sahabat cinta/ di kepulauan rindu berjumpa./Arah angin dikabarkan kita masih ada./Kerinduan ke mimpi-mimpi malam./Kasih ada pada-Nya./Kau jauh pada hati. Masih ada rasa cinta.” Langsa, 28 Juni 2008.

Zab adalah seorang penyair Aceh yang muncul pertengahan 1980-an. Nama aslinya adalah Zakaria Alba Bransah. Ia lahir di Blang Cut Meureudu, Pidie, Aceh, 6 juli 1964. Ia sarjana pendidikan Kimia dari FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (1993). Ia mulai bergelut dengan seni sejak 1985, menjadi penggiat teater dan sastra. Ia pernah bergabung dengan Teater NYA Banda Aceh, Teater Mata, dan Sanggar Cempala. Selain itu, ia pernah jadi Ketua Kisnaka (Kiprah seni Anak Kimia) FKIP Universitas Syiah Kuala (1988-1990). Tak hanya sebagai aktor, ia pun kerap menjadi sutradara.

Karyanya terutama berupa cerita pendek dan artikel budaya dipublikasikan diberbagai media massa, diantaranya di Warta Unsyiah, Monumen, Kalam, Kampiun, Kiprah, Panca, Gema Baiturrahman, Atjeh Post, Peristiwa, Harian Serambi Indonesia (Aceh), Harian Waspada, Dunia Wanita (Medan), Majalah Kartini (Jakarta). Puisinya terkumpul dalam sejumlah antologi puisi bersama para panyair Aceh.

Terakhir saya ketemu Zab saat mengikuti acara Sastrawan Masuk Sekolah pada 2006 di Aceh Timur dan sekitarnya. Selain Zab, acara yang diadakan oleh Lapena dan BRR Nias-Aceh itu, juga menghadirkan penyair Deny Pasla, Agam Fawirsa, cerpenis Saiful Bahri, Ridwan Amran, dan saya. Saat itu, kami berkeliling ke sejumlah SMA di Langsa, Idi, dan Kuala Simpang, salah satunya SMA Negeri 1 Langsa.

Acara itu sekaligus menjadi reuni penting. Sudah lama saya kehilangan kontak dengan mereka, terutama Zab Bransah, Deny Pasla, dan Agam Fawirsa. Saya tidak ingat persis kapan terakhir bertemu mereka. Mungkin sekitar 1995. Pada 1996, saya mulai menetap di Jakarta. Mereka juga kemudian menjadi guru. Zab di Langsa. Deny Pasla di Kuala Simpang. Teman lain, penyair Anhar Sabar, Ucok Tb (Anshor Tambunan), juga menjadi guru. Anhar di wilayah Aceh Barat Daya dan Ucok di Kutacane, bersama aktivis teater Jarwansyah. (BERSAMBUNG…)

Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers