Tuesday, 16 June 2009

Potret Hitam Kelistrikan Kita

Oleh : Em Lukman Hakim, Anggota BP JATAM dan dosen di Unija Madura

Absennya tanggungjawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik warganya tidak saja terjadi di sekitar blok migas Kangean, tetapi merata di seluruh lokasi pertambangan. Ini setidaknya dapat
dilihat dari membeludaknya daftar tunggu PT PLN.

SAAT diguncang krisis listrik, pemerintah kelimpungan menyiapkan jurus penanggulangan. Mulai kebijakan tarif insentif dan disinsentif, penerapan tarif dayamax plus, pemadaman bergilir, penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) bagi pengguna 1300 Voltampere (Va), dan sederet kampanye hemat energi.

Di balik itu, ada komunitas masyarakat yang tak terusik dengan seabrek persoalan tadi. Mereka hidup dengan caranya yang khas, terkesan acuh, sekalipun pemerintah tidak menyertakan penurunan tarif dasar listrik-TDL, dalam daftar penurunan harga, yang diumumkan 12 Januari 2009. Mereka adalah komunitas masyarakat yang selama ini hidup di sekitar eksploitasi tambang minyak, gas, dan batu bara.

Potret hitam kelistrikan lingkar tambang ini telah mengakrabi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar blok migas Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Padahal, sejak 1982 silih berganti perusahaan migas beroperasi di kawasan ini, seperti Arco Bali North Indonesia, Beyond Petrolium, Amoco, Medco, EMP Kangean, dan Kangaiyan Energi Indonesia.

Namun kehidupan masyarakatnya masih saja tak berubah. Mereka hanya bisa menikmati listrik-menggunakan genset, dari pukul 17.00-07.00 WIB, itupun terbatas di daerah ibu kota Kecamatan seperti Kecamatan Kangaiyan, Arjasa, dan Sapeken. Sementara di desa kepulauan yang kaya migas seperti Pagerungan kecil, Saor, Spanjang, dan Paliat, hingga kini tak merasakan terangnya listrik.

Derita Vs Keuntungan
Derita masyarakat itu berbanding terbalik dengan keuntungan perusahaan migas yang beroperasi di blok Kangean. Mereka mampu membangun fasilitas pengelola gas berkapasitas 2×175 juta kaki kubik gas alam per/hari di Pagerungan Besar. Sarana penyimpanan kondensat (Single Point Mooring System) berkapasitas 125.000 ton dwt lengkap dengan 2,5 Km sistem pipa pemuat pipanisasi ladang gas Pagerungan sistem.

Beberapa infrastruktur pendukung yang telah dibangun di kawasan separuh lebih dari total luas pulau itu antara lain paviliun mewah, pangkalan kapal terbang, jalan, dan berbagai kebutuhan bagi perusahaan raksasa migas yang menggunakan listrik ribuan kilo watt.

Absennya tanggungjawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik warganya tidak saja terjadi di sekitar blok migas Kangean, tetapi merata di seluruh lokasi pertambangan. Ini setidaknya dapat dilihat dari membeludaknya daftar tunggu PT PLN.

Tahun 2007 saja di Sumatra Utara tercatat 75.531 daftar tunggu, Sumatra Barat 30.429, Riau 103.192, Sumatra Selatan 100.933, Kalimantan Barat 45.202 Kalimantan Selatan 120.589, Kalimantan Timur 22.086, Jawa Barat 387.864, sementara Jawa Timur 207.918. Membeludaknya daftar tunggu itu belum termasuk warga yang selama ini belum pernah mendaftar.

Ketiadaan pemenuhan listrik masyarakat lingkar tambang sejatinya tidak dapat diterima. Pertama, kehidupan masyarakat lingkar migas blok Kangean jauh untuk dapat disebut adil. Padahal sejak 1991, PT EMP Kangean telah memasok kebutuhan tiga pembangkit listrik di Jatim, yakni PGN Porong, PLTGU Grati, dan Petro Kimia Gresik. Ini menyiratkan orientasi pembangunan yang tersentral di pusat perkotaaan.

Kedua, keadilan penggunaan produksi energi. Sekalipun Indonesia memiliki 199 blok wilayah kerja migas aktif dan 66 cekungan potensial dengan cadangan migas relatif tinggi (86,9 miliar barel & 384,7 TSCF) serta produksi batubara yang mencapai 234 juta ton pada 2008 atau naik 8,84 persen dibanding produksi di tahun 2007 yang hanya 215 juta ton.

Alih-alih menjamin kedaulatan energi nasional, Indonesia terjerembab dalam krisis energi tak bertepi. Fakta ini menunjukkan, pemerintah tak sanggup mencegah ekspor migas dan batu bara ke laur negeri. Hingga kini tercatat 85 persen produksi migas dan 73 persen produksi batubara dipasok untuk kebutuhan ekspor, sementara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri hanya disisakan 15 persen migas dan 27 persen batubara.

Ketiga, PT PLN sejatinya telah memprediksi kenaikan konsumsi listrik Tahun 2009 sebesar 106,641 GWh dengan beban puncak 122, 295 MW. Tahun 2010 diperkirakan menjadi 114.106 GWh dan beban puncak 130.855 MW–RUPTL PTPLN 2006-2015. Ironisnya pemerintah sama sekali tak melakukan langkah preventif untuk memastikan kebutuhan domestik. Padahal hingga kini, sumber energi listrik masih didominasi energi fosil.

Solusi Pendek
Peristiwa PLTU Kalsel beberapa waktu lalu yang sempat terhenti beroperasi akibat kekurangan pasokan batu bara, dan terpaksa memenuhinya dengan cara membeli dari Sumatra, tidak dapat dicerna dengan akal sehat, mengingat lebih dari 450 izin pertambangan baru telah dikeluarkan pemerintahan setempat.

Usut punya usut, PLTU itu membutuhkan batu bara dengan 5000 kalori, sementara perusahaan pertambangan batu bara yang beroperasi menghasilkan batubara dengan kalori 7000 ke atas. Lagi-lagi kebutuhan ekspor ditempatkan di atas pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Cerita ini menyiratkan makin mengerutnya kesanggupan pemerintah dalam menjamin kedaulatan energi nasional. Padahal, kebutuhan migas nasional hanya 1.084.000 barel per/hari dan kebutuhan batubara nasional hanya berkisar 40 juta-45 juta ton per tahun. Ini sudah meliputi keseluruhan kebutuhan untuk PLTU, pabrik semen, serta industri lainnya. Bandingkan dengan tingkat produksi migas dan batu bara sebagaimana data sebelumnya.

Pada situasi inilah penting untuk mengkaji kembali pengelolaan energi nasional (PEN) dan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang sama sekali belum menempatkan kedaulatan energi sebagai suatu prioritas. Tanpa itu masyarakat lingkar tambang akan terus diselimuti kegelapan, dan tak akan pernah dapat mengecap, sebagaimana visi PLN, listrik untuk kehidupan yang lebih baik.

Dimuat di Harian Surya, Sabtu, 24 Januari 2009
Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers