Tuesday, 16 June 2009

Studi Energi (KSE) Laboratorium Energi goes to Sapeken

Pada awal bulan September tepatnya pada tanggal 6 2006 kemarin, kelompok Studi Energi (KSE) Laboratorium Energi dan Pengkondisian Lingkungan Jurasan Teknik Fisika ITS Surabaya mengadakan kunjungan ke yang luasnya hanya 2.45 Km persegi yang berada pada jajaran kepulauan
Kangean Kabupaten Sumenep Madura yaitu pulau Sapeken. Kalau dari Surabaya dapat ditempuh selama 21 jam dengan rincian 4 jam lewat jalur darat dari pelabuhan Kamal Madura naik bus sampai ke kota Sumenep. Baru kemudian naik Kapal sekitar 17 jam.

Kenapa dinamakan pulau Sapeken, kerena menurut cerita nenek moyang pualau tersebut yang mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan dengan bahasa keseharianya yaitu bahasa Bajo. Menceritakan bahwa dulu nenek moyang mereka terdampar kepulau tersebut dan tidak dapat keluar dari pualau tersebut selama satu pekan. Nah dari kata satu pekan itulah nama pulau itu diambil menjadi Sapeken yang artinya satu minggu. kalau orang madura menamakan Sepeka.

Karena nenek moyang tersebut dari sulawesi Selatan maka bahasa resmi keseharian yang digunakan yaitu bahasa Bajo. Sebenarnya plural sekari suku yang menempati pualau tersebut ada dari Makasar, Jawa, Madura, Sunda bahkan dari aceh pun ada. Kepadatan penduduk dipicu karena pulau sapeken sendiri berada pada letak yang stategis dengan dikelilingi pulau-pulau besar seperti pulau Kangean, Pulau Paliat, Pulau Pagerungan kecil dan Pagerungan Besar, pulau Saur dan pulau Sakala. Kalau anda tahu pulau Batam nah seperti itulah kedudukan pulau Sapeken. Walaupun luasnya kira-kira setengah ITS, pulau Sapeken mempunyai jumlah penduduk yang tinggi yaitu sekitar 12.600 jiwa. Bayangkan bagaimana kepadatan di pulau tersebut.

Sulit mengatakan keadaan ekonomi pulau tersebut. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelyan dan pedagang. Ditinjau dari segi bentuk rumah mayoritas berbentuk rumah panggung yang kelihatanya bisa dikatakan rumah yang sederhana sekali. Mereka membuat rumah panggung karena dulu pada waktu air laut pasang sampai masuk ke rumah penduduk. Kembali ke masalah ekonomi. Bila ditinjau dari segi kepemilikan isi perabotan rumah tanggah, mereka termasuk orang orang yang mampu. mayoritas mereka mempunayai TV 21 inc, kulkas, Hp yang minimal ada kameranya. Maklum mereka mudah mencari uang tinggal pergi melaut dapat ikan dijual sudah dapat pendapatan. Kalau uangnya masih banyak ya…pergi ke kota belanja. Umumnya mereka pergi ke kota Singaraja karena untuk perjalan hanya dapat ditempuh kira-kira 6 jam. Kalau tidak belanja ya..jadi pengangguran selama uangnya masih ada. Kalau kira-kira persediaan udah menipis mereka pergi ke laut lagi untuk mencari ikan. Itulah kebiasaan orang-orang Sapeken. Informasi ini kami peroleh dari pembicaraan langsung dengan penduduk Sapeken.

Pendidikan di pulau tersebut sangatlah memprihatinkan. Di Pulau Sapeken itu sendiri ada 5 SD, 1 SMP dan 1 SMU dan beberapa madrasah dan pondok Islam. Dengan keadaan bangunan sekolah dasar reot, sudah banyak atap SD yang sudah roboh dan bangunan yang dindingnya banyak yang terkelupas, serta minim buku-buku pelajaran dan guru pengajar. Ketika kami berkunjung ke sebuah SMU dan satu-satunya yang ada di kecamatan Sapeken, dengan nama SMU negeri 1 Sapeken dengan terdiri 6 ruang kelas 2 diantarnya tidak ada meja dan kursi. Rombongan kami diterima oleh Wakil kepala sekolah dan beberapa guru dan petugas tata uasaha di sekolah itu. Sedangkan pada waktu itu kepala sekolah sedang tidak ada ditempat. Kebanyakan guru yang kami wawancarai di SMU tersebut memaparkan mengeluh akan sistem pendidikan di sekolah tersebut. merkea mengatakan banyak guru yang memegang beberapa mata pelajaran seperti mata pelajaran fisika dan matematika dipegang oleh 1 guru lantaran tidak ada guru matematika di SMU tersebut dan banyak guru yang berperan ganda sebagai petugas tatausah sekolah atau petugas TU. Mereka juga mengatakan apabila pada waktu mata pelajaran tidak ada gurunya yang menangani maka mata pelajaran tersebut dilompati alias langsung ke pelajaran berikutnya, maklum guru di SMU tersebut minim sekali. Jadi siswa-siwa di SMU tersebut dapat pulag lebih awal, jam 12.00 merupakan jam paling lama dalam proses belajar mengajar. Kami terheran-heran ketika memasuki sekolah tersebut kok siswanya pada keluar ini gurunya dimana pada hal pada waktu itu jam-jam pelajaran begitulah kesan pertama yang kami lihat. Selain itu dari segi orang tua wali murid tidak menghiraukan pendidikan anak-anaknya karena orientasi dan pola pikir mereka kalau anknya sudah besar ya jadi nelayan. Itulah gambaran yang pendidikan di pulau Sapeken yang termasuk dalam propinsi JAWA TIMUR.

Sebenarnya pulau Sapeken merupkan pulau yang sngat indah karena kaya kekayaan alam lautnya serta jernih airnya lautnya. Tujuan kami berkunjung ke peulau tersebut sebenarnya bukan karena untuk melihat pola hidup penduduk di pulau tersebut akan tetati dalam rangka penelitian dan penerapan ilmu pengetahuan pada penduduk setempat. Pada tanggal 22 September 2006 team KSE TF-ITS menggalkan palau tersebut dengan menyimpan segudang memori yang tak terlupakan.

dipost dari : http://madura.blogdetik.com/category/laporan-reports/
Share:

HUT RI

HUT RI

DONASI VIA BANK

0343015615
A/N: IBNU HARIF HALILI
KANTOR CABANG KANGEAN
768801011294502
A/N: SUPARTO
KANTOR CABANG KANGEAN

Komentar

Total Pageviews

Followers